Bebas Batas, Berekspresi dan Mengapresiasi

LUKISAN DIFABEL
LUKISAN DIFABEL (Foto : )
'Festival Bebas Batas' menyajikan lukisan penyandang disabilitas. ini merupakan wadah untuk berkarya juga kesempatan masyarakat mengapresiasi karya seni disabilitas. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama ISI Surakarta mengadakan Pameran seni rupa penyandang disabilitas dan gangguan jiwa dengan tajuk ‘Festival Bebas Batas 2019’.Salah satu kegiatan ‘Festival Bebas Batas’ adalah pameran lukis dari penyandang disabilitas. Menurut Direktur Kesenian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Restu Gunawan kegiatan ini merupakan wadah bagi kaum difabel se-Indonesia untuk berekpresi melalui karya lukis.“Pameran ini bertujuan memberi ruang bagi pelukis disabilitas untuk menyajikan karya seni mereka dan memberi kesempatan kepada masyarakat khususnya warga kota Solo untuk dapat mengapresiasi karya seni dari pelukis disabilitas,” kata Restu.Pameran lukisan ini diikuti oleh pelukis difabel sebanyak 28 orang dengan 60 karya lukisan. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Pameran diadakan mulai tanggal 10 hingga 16 november.Tak hanya unjuk kebolehan, kegiatan ini menghadirkan karya untuk mengintervensi kesadaran publik. Dan untuk meruntuhkan batas yang dibuat antara yang dianggap normal dan tidak.“Ini sudah tahun ke dua kita mengadakan pameran disabilitas. Kita ingin meruntuhkan batas yang dibuat antara yang dianggap normal dan tidak, antara non-disable dan disable.”Masyarakat diharapkan semakin peduli dan dapat mengapresiasi karya karya lukis dari kaum difabel.Karya teman-teman ini unik. Ada cerita disetiap goresan. Semoga keberadaan karya mereka semakin dapat diterima masyarakat, katanya.Sesungguhnya tak ada berbedaan antara lukisan disabilitas dan yang bukan. Ini cuma masalah selera. Salah satu karya penyandang difabel yang menjadi sorotan pengunjung adalah karya Bagaskara Maha Restu.Penyandang cacat bisu tuli ini memamerkan dua buah lukisan karyanya. Meski hidup dengan keterbatasan ia tak pantang menyerah. Sejak kecil Bagaskara berlatih melukis.“Mulai belajar melukis usia 4 tahun. Awalnya saya lukis di tembok. 7 tahun baru mulai di kanvas. Sampai sekarang saya masih berlatih melukis. Saya pingin punya galeri lukis khusus untuk penyandang bisu tuli,“ kata Bagaskara.Selain pameran lukisan di Festival Bebas Batas juga diadakan workshop lukis, batik gerabah dan grafis murni. Juga di selenggarakan diskusi seni dan disabilitas.
Effendy Rois/ Solo, Jawa Tengah