In Memoriam H. Azkarmin Zaini, Sosok Sederhana dengan Prestasi Gemilang

In Memoriam H. Azkarmin Zaini, Sosok Sederhana dengan Prestasi Gemilang
In Memoriam H. Azkarmin Zaini, Sosok Sederhana dengan Prestasi Gemilang (Foto : Kolase Istimewa)

 

img_title

 

Azkarmin Zaini mungkin tidak akan pernah mengenal Haji Achmad Bakrie andaikata tidak berteman akrab dan satu sekolah dengan Aburizal, putra sulung keluarga Haji Achmad Bakrie, di SMA III/Teladan B Negeri, Jalan Setiabudi pada tahun 1961-1964. Azka dan Ical, nama panggilan Aburizal Bakrie, sebetulnya cuma satu angkatan, tidak pernah sekelas.

Namun di luar sekolah, keduanya berteman akrab. Bersama empat teman lainnya, Azka dan Ical belajar bersama, latihan pencak silat, nonton bioskop, mendengarkan piringan hitam, sesekali pergi ke pesta dansa, main band, serta berlibur dan menginap di rumah peristirahatan keluarga Bakrie di Cibulan, Jawa Barat.  
 
Menurut pengakuannya dalam buku Acmad Bakrie - Sebuah Potret Kerja Keras, Kejujuran dan Keberhasilan, Azka mengaku rumah keluarga Bakrie sudah serasa rumahnya sendiri. Makan di rumah itu dengan seluruh keluarga Bakrie lengkap, menjadi hal yang biasa.

Azka juga dekat dan akrab dengan putra-putri Haji Achmad Bakrie lainnya yakni Roosmania Odi Bakrie, Indra Usmansyah Bakrie, dan Nirwan Dermawan Bakrie.
Ayahanda Azka, Abbas Zaini, wafat pada September 1962, saat Azka berusia 16 tahun dan baru saja naik ke kelas II SMA.

Selepas kepergian ayahnya, Azka mulai berpikir untuk tidak melanjutkan sekolah agar bisa sedapat-dapatnya mencari nafkah untuk Ibunda Noerbaidah binti Adam dan kelima adik-adik.

Abbas Zaini pegawai menengah Garuda Indonesian Airways yang mengandalkan pendapatan dari gaji semata, dan tinggal di rumah instansi. Pada masa itu di Garuda belum mengenal sistem pensiun.
 
Sebagai sahabat, Ical mengetahui hal ini dan mengajak Azka menemui Haji Acmad Bakrie. Haji Achmad Bakrie memotivasi Azka untuk tetap melanjutkan sekolah dan kuliah sampai sarjana.

Setiap tanggal satu, Azka diminta datang untuk mengambil uang bantuan untuk biaya sekolah. Sejak saat itu, setiap tanggal 1 setiap bulan Azka menerima uang dari tangan Ibu Roosniah Bakrie.

Jumlah bantuan yang diberikan ternyata jauh lebih dari cukup untuk uang sekolah dan ongkos. Azka yakin bahwa sebetulnya maksud Haji Achmad Bakrie bukan sekadar membiayai sekolah Azka, melainkan membantu membiayai hidup Azka sekeluarga.