Catatan Ilham Bintang: Salam dari Danau Toba

Catatan Ilham Bintang: Salam dari Danau Toba
Catatan Ilham Bintang: Salam dari Danau Toba (Foto : Istimewa)

Hotel itu diresmikan oleh Menteri Perindustrian, Ir Hartarto, 2 Juni 1994. Dengan luas 22 Ha Niagara menjadi hotel terbesar  di Parapat dengan jumlah kamar 175. Halamannya luas dengan kontur tanah yang berbukit- bukit. Kami sempat jogging pagi satu jam dalam cuaca yang cukup dingin.

Kota Parapat salah satu titik persinggahan penting dari Jalan Raya Lintas Sumatera bagian barat yang menghubungkan Medan dengan Padang. Kami di Kuala Namu, Selasa (20/6) pagi bersama rekan wartawan senior Asro Kamal Rokan dan Syamsuddin Ch Haesy. Menumpang pesawat Garuda GA 182 yang berpenumpang penuh.

Bung Faris Saleh Bashel dan Prof OK Saidin yang menjemput di bandara langsung membawa kami ke Parapat. Faris pengusaha Medan dan Prof OK Saidin Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang waktu bertemu dalam acara Hari Pers Nasional (Hawana) di Ipoh, Perak, Malaysia bulan lalu menawari trip ke Danau Toba. Keduanya terkejut mengetahui saya belum pernah berkunjung ke Danau Toba yang terkenal itu.

"Nggak sah mengaku orang Indonesia kalau tak pernah ke Danau Toba," kata Prof Saidin provokatif.

Saya melihat keindahan Danau Toba yang menjadi setting cerita film Indonesia " Ngeri-Ngeri Sedap". Saya anggota tim juri saat memilih film itu untuk berlaga di Piala Oscar, sehingga bisa menyaksikan panorama danau terbesar yang telah berusia 77 ribu tahun itu.

Perjalanan seluruhnya dari Bandara Kualanamu sekitar 180 km. Namun, perjalanan hampir tidak terasa karena sepanjang perjalanan Prof Saidin menghibur dengan pelbagai cerita lucu. Trik  Prof Saidin itu ditujukan juga agar Faris yang menyetir sendiri mobilnya tidak sampai mengantuk.

Kedai Kopi Berusia 84 Tahun

Dalam perjalanan menuju Parapat, kami sempat singgah  di Pematangsiantar untuk Ishoma : Istirahat, salat, dan makan. Tidak lupa mampir di Kedai Kopi "Sedap" yang sangat terkenal aroma dan rasa kopinya. Kedai itu  selalu diceritakan kehebatannya oleh Faris waktu masih di Malaysia. Ia, katanya, sering ke Pematang Siantar dari Medan, khusus untuk ngopi di " Sedap".

Kedai itu  berdiri tahun 1939 dengan nama awal "Go Muk". Kopinya memang khas: enak. Menempati ruko, penataan kedai Sedap memang masih mempertahankan ciri  kedai - kedai kopi di zaman dulu, yang menggunakan meja bundar. 

Saat kami tiba, kedai sudah dipenuhi pengunjung. Pengunjung datang silih berganti. Kedai itu, seperti kedai kopi umumnya, menjual juga roti bakar dan aneka cemilan lainnya.

img_title
Kopi dan Mie Legendaris. (Foto: Istimewa)


Menurut Data Wikipedia, Pematang Siantar, salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia, yang merupakan enklave dari Kabupaten Simalungun. Karena letak Pematangsiantar yang strategis, kota ini dilalui oleh Jalan Raya Lintas Sumatera. Kota ini memiliki luas wilayah 79,97 km² dan berpenduduk sebanyak 268.254 jiwa (2021).