Catatan Ilham Bintang: Bamed Medan, Jamuan Masakan Tokoh Melayu, dan Sosok Ideal Ketum PWI Pusat

Suasana di Bamed Medan (Foto : Istimewa)

Antv – Jarak Desa Tongging, Karo, Sumatera Utara, dengan Kota Medan sekitar 100 km. Biasa ditempuh dengan perjalanan mobil 2,5 jam.

Kami tinggalkan Resort Simalem di Tongging, Kamis (22/6/2023) pukul 9 pagi menuju Medan. Perjalanan ke Medan dimajukan dari rencana semula siang, karena  saya ada janji pukul 1 siang  menghadiri La Beauty  Expo di Sun Plaza, Medan. Putra saya dr Yassin dan istrinya dr Abigail Audity terbang khusus dari Jakarta sehari sebelumnya untuk menghadiri expo yang dibuka siang itu.  

Pada momen hampir bersamaan, nun jauh di benua Amerika, Klinik Kesehatan Bamed yang dipimpinnya, juga mengikuti pameran di Florida International Medical Expo 2023.
Begitu pentingnya datang ke Medan, Dr Yassin dan dr Audy lebih memilih menugaskan direksi Bamed yang lain untuk menghadiri acara itu di Kota Miami, Florida, AS.

Klinik kesehatan keluarga Bamed merupakan salah satu anak perusahaan Bintang Group - perusahaan media - yang pernah memproduksi antara lain, Tabloid dan Infotainment "Cek & Ricek"

 

Bamed Medan. (Foto: -)



Klinik Bamed  di Medan adalah Cabang Bamed pertama di luar Jawa. Dibuka di Ibu Kota Sumatera Utara itu, tiga tahun lalu. Pas baru buka, pandemi Covid-19 mendera dan baru berakhir resmi bulan ini.

Maka La Beauty Expo di Medan momentum pasca pandemi yang harus dimanfaatkan untuk promosi atau mengenalkan produk Bamed ke  masyarakat Medan secara  luas. Dr Yassin mengajak dua anaknya, Rania dan Raihan sekalian berlibur.

Bertemu dengan dua cucu  itu buat saya juga penting. Niscaya keduanya pun punya perasaan sama.  Apalagi lokasi expo di mall besar Medan.  Saya sudah membayangkan mereka akan bergelendot manja minta dibeliin mainan begitu ketemu Opanya.

Banyak jalan berlubang

Faris Bashel yang mengemudikan mobilnya yakin bisa tiba di Medan pas waktunya. Namun, sebagaimana karakter jalan provinsi umumnya, banyak ruas jalannya berlubang yang dihindari pengguna jalan. Akibatnya laju kendaraan pun melambat.

Pikiran spontan: apa yah kerja Gubernur, Walikota, atau Bupati punya jalan di wilayahnya seperti itu? Apakah Presiden Jokowi yang harus turun tangan juga membenahi baru beres? Sudah begitu ( Gubernur) maunya hanya ikut kebiasaan Presiden Jokowi yang lain, yaitu keinginan menambah masa jabatan.

Perjalanan Tongging - Medan bukan hanya terkendala soal jalan berlubang. Juga kurangnya rambu atau papan petunjuk jalan. Akibat itu rombongan kami dua kali tersasar. Itu yang menyumbang durasi perjalanan semakin lama.

Belum lagi waktu yang dipergunakan untuk mampir makan siang. Singkat cerita, tiba di Medan baru pukul 5 sore. Kami langsung ke Sun Plaza mengunjungi stand pameran Bamed. Melihat suasana, ngobrol sebentar dengan petugasnya, lalu foto bersama. Dr Yassin - dr Audy beserta dua anaknya, sudah meninggalkan tempat itu menuju bandara Kuala Namu, dua jam lalu. Mereka mengejar penerbangan sore kembali ke Jakarta.

Rombongan kami  untuk "Trip Danau Toba"  dari Jakarta: saya, wartawan senior Asro Kamal Rokan dan Syamsuddin Ch Haesy. Hostnya atau pengundang adalah kawan pengusaha Medan Faris Bashel dan Prof OK Saidin, Tokoh Melayu, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ( USU).

Tentang ini sudah diulas  dalam dua tulisan terdahulu. (Baca : Catatan Ilham Bintang: "Salam dari Danau Toba" 21 Juni & "Puncak Tongging, Legenda Danau Toba, dan Lampu Pocong Kota Medan" 23 Juni 2023).

Yang belum diulas soal kemahiran Prof Saidin, Ketua Prodi Magister Ilmu Hukum USU dan  Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Hak Kekayaan Intelektual Indonesia memenej waktu.

Sambil berlibur tetap dapat melaksanakan tugasnya, menjalankan sidang ujian mahasiswanya secara daring (dalam jaringan). Saya lupa menghitung berapa kali sidang berlangsung selama trip ini.Yang di hari pertama saja saat kami tiba di Sumatera Utara, Selasa (20/6/202) Prof Saidin sudah menguji mahasiswa.  

Dalam perjalanan Kuala Namu - Prapat, sidang berlangsung melalui laptop. Prof Saidin duduk di kursi depan di samping Faris yang mengemudi kendaraan. Pergi pulang begitu.
Saya yang duduk persis di belakangnya sesekali mengintip layar laptopnya yang dipenuhi peserta uji di layarnya.

Sidang hanya terhenti saat blankspot alias tidak ada signal. Di kamar hotel Niagara di Prapat pun berlanjut lagi beberapa kali sidang daring. Demikian di Hotel Simalem, Tongging.

Esoknya, Jumat (23/6/2023) pagi saat dalam perjalanan ke Kuala Namu untuk terbang balik ke Jakarta siang itu, Prof Saidin kirim foto dia sudah beraktifitas di ruang kerjanya di USU.

Luar biasa energi prof ini. Padahal, semalam, baru tengah malam kami tinggalkan kediamannya yang asri di Kompleks Kedokteran/Kejaksaan Blok A Kecamatan Medan Tuntungan.  

Malam itu, dia menjamu kami khusus hidangan masakan Melayu. Ada juga Nasi Mandi dan Kari Kambing masakan Timur Tengah sebagai pelengkap. Menu utamanya serba ikan dari gulai kepala ikan, ikan goreng, dan segala macam penunjangnya. Dan, surprisenya, semua hidangan yang lezat itu ternyata dimasak sendiri oleh Prof Saidin.

Tokoh Melayu ini memang dikenal ahli masak. Setiap bepergian ke luar daerah secara khusus akan berburu bumbu masak di daerah setempat.

Sewaktu menghadiri peringatan Hari Wartawan Nasional ( Hawana) di Malaysia akhir Mei lalu, dia memboyong lebih seratus kilo bumbu masak. Hahh?!

"Mau dijual lagi?," saya takjub.

"Jumlah itu hanya persediaan paling lama sebulan untuk kebutuhan sendiri," sahutnya.

Rupanya, selain hobi masak, Prof Sudian juga hobi menjamu makan  relasi dan kawan-kawannya. Tak salah kalau mendapat julukan "profesor gaul". Rumahnya sangat luas, berderetan dengan rumah  perpustakaannya yang juga luas serta rumah putranya.

Di rumah yang dia tinggali, ruang ditata sedemikian rupa untuk banyak tamu. Termasuk ruang makan yang juga ada beberapa. Malam itu kami dijamu di dua ruangan. Di ruang makan resmi dan di gazebo untuk diskusi sambil makan durian. Ruang itu nyaman, setengah terbuka, dan bebas untuk merokok, meski Prof Saidin sendiri tidak merokok.

Jamuan selain dihadiri rombongan Trip Toba. Saya Faris, Asro, juga beberapa wartawan senior Sumatera Utara. Seperti Ronny Simon, Sulben Siagian, M Syahrir. Ketua PWI Sumut Farianda Putra Sinik yang baru tiba dari Jakarta, menyusul bergabung belakangan.

 

 

Pasca Jamuan Masakan Tokoh Melayu. (Foto: Istimewa)