Kabar Duka, Profesor Edi Sedyawati Maestro Tari dan Eks Dirjen Kebudayaan Meninggal Dunia

Kabar Duka, Profesor Edi Sedyawati Maestro Tari dan Eks Dirjen Kebudayaan Meninggal Dunia
Kabar Duka, Profesor Edi Sedyawati Maestro Tari dan Eks Dirjen Kebudayaan Meninggal Dunia (Foto : Instagram)

Antv – Kabar duka menyelimuti dunia seni dan akademis di Indonesia. Subuh tadi, Sabrtu (12/11/2022), atas berpulangnya Profesor Edi Sedyawati, maestro tari, seniman, akademisi, sekaligus budayawan terkemuka.

Kabar duka juga disampaikan salah satu anak Profesor Edi Sedyawati, Teguh Anantawikrama melalui akun Instagram resminya @teguhtatong, Sabtu (12/11/2022).

Dalam unggahannya, pria yang aktif memajukan pelaku usaha kecil menengah (UMKM) di Indonesia ini, menuliskan kata-kata yang memiliki makna yang cukup mendalam.

"Selamat jalan Mamah

Orang yang paling kuat yang aku pernah kenal.

Mamah selalu mengajarkan untuk berpegang pada prinsip, selalu mendahulukan merah putih diatas segalanya.

Lullaby versi mamah adalah membacakan puisi puisi Mas Willy (WS Rendra) yang kemudian mendorongku untuk menulis.

Mamah juga mengajarkan untuk mendahulukan kepentingan orang banyak, baru kepentingan kita sendiri.

Juga selalu mamah mengingatkan untuk tidak mengejar jabatan, karena jabatan itu adalah Amanah.

Terima kasih untuk banyak pelajaran hidup yang sudah diberikan. You will be missed Mah"

Unggahan pria yang pernah mendapat gelar "Tokoh UMKM Peduli Ketahanan Pangan" dari Jaringan Alumni Muda Himpunan Mahasiswa Islam atau JAM HMI ini, menuai ucapan dari berbagai pihak.

Salah satunya dari Presiden Direktur ANTV, Ahmad Zulfikar Said yang menuliskan "Innalillahiwainnailaihi wainnailaihi rajiun. Turut duka cita ya Bro. Semoga Almarhumah Husnul Khotimah. Aamiin YRA...".

Ucapan duka juga disampaikan Wapemred ANTV, Yusuf Ibrahim yang menuliskan kata "Turut berduka cita untuk Pak Teguh dan Keluarga besar."

 

 

Berdasarkan informasi yang diperoleh, Profesor Edi Sedyawati binti Iman Sudjahri wafat di usia 84 tahun, disemayamkan di Taman Lembang Nomor 21 Menteng dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet, Jakarta Pusat.

Edi Sedyawati meninggalkan dua putra, Teguh Anantawikrama dan Bima Sinung Widagdo, dan dua menantunya Mayuko Haznam dan Reina Tamara Kreefft, serta sejumlah cucu, antara lain Irsyad Agni Sudhirajati, Safiya Kanna Satyawadhini, Ryota Aprameya Pratapa, Nasya Imani Zulaika dan Abhirama Sharif.

Dikutip dari situs resmi Akademisi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Profesor Edi Sedyawati lahir tepat satu dasawarsa usai peristiwa sumpah pemuda, yaitu 28 Oktober 1938. Almarhumah mendalami studi arkeologi di Universitas Indonesia dan lulus pada 1963.

Di tahun yang sama, Profesor Edi Sedyawati diangkat sebagai dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kemudian pada 1971 - 1974, ia dipilih menjadi ketua jurusan arkeologi.

Pada 1985, Profesor Edi Sedyawati memperoleh gelar doktor dari universitas yang sama dengan dengan mempertahankan disertasi berjudul Pengarcaan Ganesha Masa Kediri dan Singosari: Sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian.

Disertasi ini pun sempat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan oleh Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau Lembaga Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi Kerajaan Belanda pada 1994 dengan judul Ganesa Statuary of the Kediri and Singosari Periods, A Study of Art History.

Almarhuma Profesor Edi Sedyawati juga sempat menduduki sejumlah posisi strategis di pemerintahan.

Beberapa di antaranya adalah sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 1993 - 1999 dan Gubernur Asia-Europe Foundation untuk Indonesia pada 1999 - 2001.

Selain itu, Profesor Edi Sedyawati juga diketahui pernah menjadi Pembantu Rektor I Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta pada 1971 - 1976.

Semasa menjabat sebagai Dirjen Kebudayaan, situs resmi AIPI menyebut bahwa Profesor Edi Sedyawati setidaknya memimpin tiga peristiwa penting pada 1995 atau tepat 50 tahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia.

Tiga peristiwa penting tersebut adalah Kongres Kesenian Indonesia, Pameran Seni Rupa Negara-Negara Nonblok, dan Festival International Art Summit Indonesia yang sekarang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali.

Hingga akhir hayatnya, Profesor Edi Sedyawati dianugerahi lima penghargaan, meliputi" 

- Bintang Mahaputera Utama pada 1998,

- Bintang Chevalier des Arts at Lettres dari Pemerintah Prancis pada 1997,

- Satyalancana Karya Satya 30 Tahun pada 1997,

- Bintang Jasa Utama Republik Indonesia pada 1995,

- Hasil Penelitian terbaik UI bidang Humaniora pada 1986.