Evolusi Gaya Permainan Tim Semi Finalis Piala Eropa 2020

Giorgio Chiellini dan tim Italia vs Swiss 3-0 (Foto : )

Evolusi gaya permainan tim semi finalis Piala Eropa 2020.  4 Tim yaitu Italia, Spanyol, Inggris dan Denmark akan saling bertarung merebut kemenangan di semi final Piala Eropa 2020. Ada yang unik dari perkembangan gaya sepak bola empat tim yang lolos ke babak semi finalis Euro 2020. Keempat tim yang sudah memastikan tiket ke babak empat besar tersebut adalah Italia, Spanyol, Inggris, dan Denmark.Keempat tim tersebut berhasil melangkah maju ke Stadion Wembley London Inggris untuk menjalani pekan terakhir Euro 2020. Selain menjanjikan pertarungan sengit, dua laga semi final Piala Eropa 2020 itu juga akan menghadirkan pertarungan antar gaya sepak bola berbeda dan pendekatan taktis yang menarik.Partai semi final Piala Eropa 2020 akan mempertemukan duel sarat gengsi antara Italia melawan Spanyol. Sementara di semi final lainnya Timnas Inggris akan menghadapi salah satu kuda hitam yang siap meledak yaitu Tim Dinamit Denmark.Keempat Tim semi finalis Euro 2020 ini memiliki ideologi sepakbola sendiri, yang menegaskan bahwa pendekatan tertentu adalah cara yang tepat dalam memainkan pertandingan semi final. Keempat finalis dipastikan akan memainkan strategi terbaik dari ideologi mereka masing masing untuk merebut tiket ke Final Piala Eropa 2020.Namun mereka sudah banyak berubah dari ideologi dasar dalam hal cara bermainnya. Hal ini menunjukkan bukti bahwa sebenarnya tidak ada formula tunggal untuk menggapai sukses dan meraih kemenangan dalam sepakbola.Dengan cara yang berbeda satu sama lain, keempat semi finalis Piala Eropa 2020 ini juga melukiskan bagaimana setiap timnas melepaskan diri dari gaya khas mereka yang merupakan stereotip yang melekat sejak jaman dahulu.Penampilan setiap Italia, Spanyol, Inggris, dan Denmark kali ini memunculkan berbagai strategy yang membuat berbagai komentar sepanjang gelaran Piala Eropa 2020.Italia mengalami perubahan di bawah komando pelatih Roberto Mancini. Italia menjadi tim yang memainkan sepak bola berenergi tinggi, menekan, memburu serangan sebanyak mungkin begitu mereka memenangkan bola. Mereka tidak lagi memainkan strategy Catenacio atau pertahanan Grendel yang menjadi trade mark Italia dimasa lalu.Klise malas tentang Catenaccio yang merujuk kembali kepada gaya bertahan lebih dari separuh abad silam sudah sejak lama dianggap ketinggalan zaman. Gli Azzuri benar-benar berubah total dan tidak relevan lagi menyandang Catenacio ketika menyaksikan tim Roberto Mancini bermain.Kecintaan Italia dalam bertahan masih terlihat dari penampilan Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci tetapi sistem ini dibangun atas dasar pendekatan energi tinggi bersama kedua bek sayap yang bermanuver tumpang tindih.Roberto mancini memanfaatkan dengan baik kelebihan para pemain belakangnya untuk menggunakan saluran dalam secara cerdas dalam membantu serangan Italia. Dalam hal ini Lorenzo Insigne dan Federico Chiesa terhubung dengan sangat baik dengan penyerang tengah Ciro Immobile.Ini adalah brand sepak bola cepat, positif dan menghibur yang didukung oleh para pemain Italia yang terlihat paling segar dan paling bugar dalam turnamen itu. Timnas SpanyolSebaliknya lawan yang akan dihadapi oleh Italia dalam laga semi final Selasa itu, yakni Spanyol lebih dekat kepada gaya khas nasional mereka. Spanyol tetap mempertahankan bentuk permainan selama era tiki-taka ketika mereka menjuarai Euro 2008 dan 2012.Spanyol sudah teruji kehebatannya dalam memainkan bola operan pendek merapat yang sering disebut Tiki Taka untuk melumpuhkan lawan  lawan yang lebih besar dan lebih tinggi postus tubuhnya. Dengan permainan Tiki Taka ini pula, Tim Matador Spanyol berhasil meraih juara di Piala Dunia 2010.Meski penguasaan bola dalam filosofi Tiki Taka tetap menjadi inti filosofi sepakbola Spanyol, Akan tetapi cara bermain La Furia Roja mengalami perubahan besar di bawah era pelatih Luis Enrique.Para pemain Spanyol tetap memonopoli penguasaan bola, termasuk mencatat rekor umpan selama turnamen Piala Eropa 2020 ini digelar dengan catatan 917 umpan saat melawan Swedia. Spanyol juga mempertahankan 85 persen penguasaan bola, tetapi tim dia lebih intens dalam melancarkan serangan dibandingkan pendahulu merekasaat Merebut Juara Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010.Alvaro Morata dan kawan kawan kali ini lebih cepat bergerak maju, di mana sang pelatih acap kali berbicara tentang perlunya 'verticilidad' atau serangan langsung ke jantung pertahanan lawan.Luois Enrique sangat senang memasang formasi 4-3-3 yang sama dengan yang dia gunakan saat menangani Barcelona. Luiz Enrique juga lebih menyukai sistem lebih menyerang daripada mantan bos Spanyol Vicente del Bosque yang terkenal karena bermain tanpa striker hampir sepanjang Euro 2012.Pemain-pemain depan yang energik, pekerja keras, dengan membangun pertahanan yang kuat, adalah kunci pendekatan Luis Enrique di Piala Eropa 2020. Hal ini menjelaskan kegigihannya mempertahankan Alvaro Morata yang sering membuang peluang.