Kasus Gangguan Ginjal Akut pada Anak Kian Melandai, Tapi Harus Tetap Waspada

dr. Syahril
dr. Syahril (Foto : tangkapan layar konferensi pers Kemenkes)

Antv – Beberapa waktu terakhir, kasus gagal ginjal akut banyak menyerang anak-anak usia 6 bulan hingga 18 tahun.

Terjadinya kenaikan tersebut dalam kurun waktu dua bulan terakhir, dimana 18 Oktober 2022 lalu, sebanyak 189 kasus dilaporkan serta paling banyak didominasi oleh anak usia 1 sampai 5 tahun.

 

Melihat peningkatan kasus gagal ginjal akut ini, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) langsung bertindak dengan cepat untuk menginformasikan terhadap semua orang tua agar tetap waspada dan tidak panik, terutama saat anak mengalami gejala yang mengarah pada penyakit ginjal akut.

img_title
Ilustrasi obat sirup. (Foto: Pixabay)

 

Namun, baru-baru ini Kemenkes memberikan kabar terbaru mengenai kasus gangguan ginjal akut pada anak ini. Sesuai pernyataan dari juru bicara Kemenkes RI, dr. Syahril per hari ini, ia mengatakan kalau kasus yang terjadi hingga saat ini Senin, 7 November 2022 jumlahnya ada 324 kasus.

Meski demikian, kasus yang terjadi tersebut ternyata kian melandai, hal itu setelah Kemenkes melarang peredaran obat sirup di masyarakat.

“Jadi sangat bersyukur kita, jadi mulai tanggal 6 November. Itu tidak ada kasus yang terlapor, ya hari ini ya, untuk kasus baru maupun yang kasus yang lama termasuk angka kematiannya,” ucap dr. Syahril saat konferensi pers Senin, 7 November 2022.

img_title
dr. Syahril. (Foto: tangkapan layar konferensi pers Kemenkes)

 

Ia pun mengatakan, kalau Kemenkes telah melakukan kajian yang bekerja sama dengan IDAI, rumah sakit, para ahli, apoteker, ahli toksikologi.

Mereka pun melakukan penelitian yang terus menerus maraton untuk menyingkirkan kemungkinan atau mencari penyebab gangguan ginjal akut tersebut.

“Di tanggal 18 Oktober dengan cepat, Kemenkes setelah melihat hasilnya tadi memberikan pengumuman pelarangan penggunaan obat sirup atau cair pada anak sementara waktu,” ujar Syahril lagi.

“Nah, sejak saat itulah terus pada tanggal 23 Oktober BPOM juga merilis obat-obat yang sudah aman dipakai. Kemudian di tanggal 25 Oktober kita juga telah mendatangkan obat antidotum, namanya atau obat penawar dari Singapura juga Australia,” kata Syahril.

img_title
dr. Syahril. (Foto: tangkapan layar konferensi pers Kemenkes)

 

Syahril pun mengatakan, kalau penurunan pasien tersebut terjadi mulai sejak tanggal 18 Oktober.

“Nah, sejak tanggal 18 Oktober itu, pasien sudah mulai turun terus dan alhamdulillah pada bulan November awal, pasiennya hanya satu atau bahkan pada hari ini itu tidak ada pasien lagi, yang bertambah maupun yang meninggal,” ucapnya.

“Dan bapak ibu sekalian, mohon bantuannya karena ini belum selesai, maka seluruh masyarakat untuk berhati-hati menggunakan obat sirup tadi, kecuali yang 156 yang sudah diberikan rekomendasi pemakaiannya,” katanya.

Meski demikian, ia tetap menegaskan untuk selalu hati-hati dan waspada kepada para orang tua yang memiliki anak di bawah 18 tahun, khususnya balita.

“Dan masyarakat yang mempunyai anak di bawah 18 tahun, khususnya balita, maka tetap berhati-hati, waspada terhadap gangguan ginjal akut ini,” tandas Syahril.