HUT Kelompok Usaha Bakrie, H. Achmad Bakrie yang Sukses Bereksperimen dengan Naluri Bisnis

HUT Kelompok Usaha Bakrie, H. Achmad Bakrie yang Sukses Bereksperimen dengan Naluri Bisnis. Keterangan Foto: Bakrie Kecil Ketika Menjadi Pelajar HIS Menggala, L
HUT Kelompok Usaha Bakrie, H. Achmad Bakrie yang Sukses Bereksperimen dengan Naluri Bisnis. Keterangan Foto: Bakrie Kecil Ketika Menjadi Pelajar HIS Menggala, L (Foto : )
Bakrie kecil menjalani masa pra sekolah bersama orang tua dan saudara lainnyadi Kalianda. Dia bersama abangnya acapkali keluar masuk pasar, terletak tak jauh dari rumahnya, tanpa maksud. Suatu ketika ia iseng melihat penjual obat tradisional. Penjualnya orang India (Keling) yang menempati emper-empe pasar. Sambil mengamati sekilas barang yang digelar di situ, tak dinyana orang Keling ilu memintanya mendekat.Achmad Bakrie menurut saja. Lalu penjual obat itu menyuruhnya membuka telapak tangan lebar-lebar. "Bakrie, Bakrie. Kau akan jadi saudagar?", ledek pamannya usai Bakrie menceritakan ramalan orang India itu. Cerita sekitar tahun 1921-1922 tersebut tersimpan begitu saja. Jangankan saudagar, menjadi komisioner saja waktu itu merupakan hal yang langka.Saudagar adalah pedagang pilihan di mana para komisioner banyak berhubungan dengan mereka. Namun di tahun 1957, Achmad Bakrie bukan lagi sekadar saudagar saja, malah menjadi industriwan setelah memiliki NV. Kawat yang dibeli dari orang Belanda. Tahun 1957 itulah sang paman menceritakan ramalan itu pada Rusli Hasan (sepupu Achmad Bakrie dari garis ayah)Dua bibi kembar Umi Kalsum dan Habibah (85) dari garis 1bu menceritakan masa kanak-kanak Achmad Bakrie. Masih lagi berusia 6-7 tahun dan belum bersekolah, Achmad Bakrie mencoba belajar berjualan. Dengan sistem konsinyasi, Achmad Bakrie menjajakan roti tawar dan roti manis keliling kampung yang dijunjung tampah di atas kepala. "Kecil lagi dia sudah pintar cari duit. Saya sering dikasih persen, kenang H. Habibah.Masa liburan puasa ketika Achmad Bakrie telah bersekolah di HIs Menggala, ia berangkat ke Telukbetung. Bekal pengalaman menjual roti pun dilanjutkan lagi. Dengan modal beberapa rupiah dibelinya roti lalu ditumpangkan pada supir bus tujuan Kalianda.Roti-roti itu dijual seharga 11 sen dari pokok 10 sen. la melakukannya senang saja."Dari pada bengong," pikirnya waktu itu.Di Menggala lain lagi. Achmad Bakrie saat itu bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS), setingkat SD sekarang, tetapi ditempuh selama 7 tahun.Dulu, sekolah itu benar-benar terletak di tengah hutan; hanya ada jalan tikus menghubungkan lokasi sekolah dengan lima straat menuju onder afdeling (wilayah kabupaten).Dalam Staatsblad (lembaran negara) tahun 1929 No. 362, Lampung memiliki sistem pemerintahan Belanda berbentuk afdeling yang dikepalai seorang residen.Satu keresidenan Lampung terbagi atas lima onder afdeling yang dikepalai kontrolir (pegawai pemerintah Hindia Belanda yang kedudukannya di bawah Asisten Residen) Kelima onder afideling itu berkedudukandi Telukbetung, Kota Agung. Sukadana, Kotabumi, dan Menggala.Achmad Bakrie menyelesaikan pendidikan HISitu sekitar tahun 1930. Dikisahkan pula: antara pukul 6.00-7.00, sebelum belajar pukul 8.00, Achmad Bakrie mencari sayur mayur lalu dijualnya ke pasar Menggala. Konon, menurut Rusli Hasan, di sisi jalan tikus ke arah HIS itu banyak terdapat tanaman keras seperti kemiri gambir, dan pohon kelapa.Di kawasan hutan belantara "tak bertuan" itu Achmad Bakrie sering mengumpulkan buah kemiri dan gambir lalu dibawanya ke rumah. Di akhir pekan setelah banyak terkumpul terkadang sampai berkarung-karung, dibawa ke pekan (pasar desa) untuk dijual.Bakat berjual-belinya diduga kuat terbentuk di Menggala. Pengungkapan ini selain berasal dari sanak famili Achmad Bakrie dan penduduk sekitar Menggala, juga menurut penuturan A. R. Soehoed (Mantan Menteri Perindustrian).Soehoed pernah berdiam di Menggala, mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai Kepala Kantor Pos di desa Ujung Gunung, Menggala. Selain adik kelas, Achmad Bakrie (umur mereka selisih 4 tahun), keduanya bersahabat hingga akhir hayat Achmad Bakrie.Mengapa Menggala?Dari berbagai literatur dan penu turan masyarakat setempat, Mengsala adalah "kota penting yang ditinggalkan." politik etis yang diciptakan Van Denem pada 1891 di Parlemen Belanda, walau pada dasarnya sebatas memenuhi kebutuhan penjajah, memang tampak hasilnya di Lampung awal abad ke-20.Berturut-turut secara bersamaan, Telukbetung (kini bagian dari Kota Madia Bandarlampung) dan Menggala (kini salah satu kecamatan di Kabupaten Lampung Utara) didirikan dua jenis sekolah tingkat dasar.Pada tahun 1900, di dua tempat itu didirikan Sekolah Desa atau Sekolah Angka Dua dengan masa belajar tiga tahun. Lalu, juga bersamaan pada 1905 didirikan HIS di Telukbetung dan Menggala. Sekolah yang terakhir ini diperuntukkan bagi anak pejabat pemerintah (pasirah dan demang) pribumi setempat.Skenario Belanda adalah'Telukbetung menjadi pusat pemerintahan, sedangkan Menggala bakal sentra perdagangan. Tapi saat ini Telukbetung malah menjadi pusat pemerintah dan perdagangan Propinsi Lampung.Dalam iteratur lain disebutkan akibat Kebangkilan Nasional (1908) daerah Menggala lebih dulu mengenyam hasil pendidikan. Banyak tokoh berhaluan progresif berasal dari Menggala hingga tak heran kalau penduduk Menggala terkenal sebagai pedagang cerdik, cepat mengembangkan kepribadiannya atas "andil" saluran pendidikan itu.Bahkan Syarikal Islam (SI), organisasi saudagar intelektual lslam itu, didirikan di Menggala pada 1913 - tahun pergantian nama dari SYarikat Dagang Islam (SDI) ke.Sl -oleh H.A. Marzuki (asal Banjarmasin, Kalsel). Kegiatan dan perjuangan SI bergerak dalam bidang dakwah, sosial, pengajian, ukhuwah Islamiah, usaha-usaha perdagangan dan pertanian.Hingga kini masih bisa ditelusuri 7aman keemasan Menggala sebagai daerah pusat perdagangan. Di aliran sungai Tulang Bawang terdapat Boom (pelabuhan), di desa Ujung Gunung masih berfungsi Kantor Pos dan Penjara.Di depan Kantor Pos itu dulu bekas Kantor Kontrolir Belanda, tetapi kini dijadikan Puskesmas.Sebelum abad ke-20, dapat dikatakan hampir seluruh ekspor Lampung ke Palembang, pulau Jawa dan bahkan ke Singapura dan Eropa diberangkatkan dari pelabuhan Menggala, Boom itu.Mungkin lantaran faktor keadaan alam dan tanah tidak sesubur daerah lainnya, serta pengaruh pergerakan Sl yang terus meluas, hingga Belanda membuka pelabuhan Telukbetung dan Panjang (1935).Lalu sebelumnya perkebunan dibuka di Way Halim, Langkapura, Kedaton, Natar dan Bekri dengan mendatangkan kuli kontrak dari pulau Jawa permulaan abad ke-20.Menggala betul-betul menjadi "kota mati" tatkala dibuka jalur angkutan darat mobil dan kereta apl yang menghubungkan pelabuhan Panjang dengan Palembang, serta munculnya kota kecil Kotabumi, yang kini ibu kota Kabupaten Lampung Utara. Sekaligus pula menggantikan peranan Menggala di bidang pemerintah dan perdagangan.Dulu, masa Achmad Bakrie dan A. R. Soehoed bersekolah di HIS Menggala, Boom dan sungai Tulang Bawang itu adalah dua tempat yang hampir tak pernah mereka lupakan.Di saat air sungai pasang, rumah-rumah penduduk ikut tergenang hingga batas jendela. Dengan bertengeer di pijakan jendela mereka memancing.Begitu pula di Boom bila tiba kapal KPM (Koninglijke Paketvaart Maatschappij), mereka seperti sudah mengetahui jadwalnya meluncur ke pelabuhan itu.Aktivitas manusia dan barang di sekitar dermaga pelabuhan terkesan ingar-bingar. Agaknya, menurut A. R. Soehoed, pemandangan dan suasana seperti itu menimbulkan hasrat Achmad Bakrie kelak menjadi pedagang atau pengusaha.Beberapa tahun setamat HIS Menggala, Achmad Bakrie mencoba mengumpulkan duit dengan bekerja pada Kantor kontrolir di Sukadana (Lampung Tengah).Berhasil? Tidak. la buru-buru meminta untuk mengundurkan diri saja setelah beberapa bulan bekerja, karena 3,50 Gulden gajinya per bulan tak efektif untuk modal usaha.Selepas itu Achmad Bakrie kembali ke Telukbetung tempatnya dulu mengirim roti ke Kalianda.Di Telukbetung, dicobanya melamar diperusahaan swasta milik Belanda, "Molekse Handel Maatschappij". Ditunjang kemampuannya berbahasa Belanda dengan lancar, ia pun diterima secara tidak terikat selaku komisioner penjualan hasil bumi: kopi dan lada.Hasil jerih payah selaku komisioner lumayan juga besarnya. Pendek kata duit bahkan cukup untuk membuka usaha. Tapi, "buka usaha sendiri pasti digilas Belanda. Mendingan ditabung saja pada Post Perbank," pikir Achmad Bakrie agaknya.Belum saatnya berusaha. la malah memikirkan pendidikannya. Alhasil, ia pecahkan pundl pundinya di Post Perbank tadi lantas berangkat ke Batavia (Jakarta) untuk belajar di Handelsinstituut Schoevers.Belum jelas benar siapa yang menganjurkannya tapi ia mengambil keahlian akuntansi dan bahasa Inggris. Pendidikan itu ditempuhnya dengan baik, lalu kembali lagi ke Lampung.Sekitar tahun 1934-1935, pemuda Bakrie mencoba lagi bekerja pada perusahaan Belanda. Kali ini di "Zuid Suma Apotheek" di Telukbetung. Kalau di Molekse Handel Maatschappi bertindak selaku komisioner, di apotek itu ia ditempatkan pada bagian penjualan luar (salesman).Karena pemuda Bakrie telah memiliki pengetahuan akuntansi dan bahasa Inggris (termasuk langka bagi pribumi waktu itu) ditambah kemampuan bahasa Belanda sebelumnya, maka pendapatannya pun melesat.Gaji ditambah komisi penjualan obat dan "SPJ" mencapai 37,50 Golden per bulan. Artinya sepuluh kali lipat lebih besar dibanding ketika ia bekerja di kantor Kontrolir Sukadana beberapa tahun berselang.Terbiasa hidup hemat, sebagian besar penghasilan itu pun disimpan pada Post Perbank, di tempat yang sama ketika menabung untuk biaya sekolah di Handelsinstituut Schoevers Jakarta. Bekerja diApotek selama 7 tahun tentu uang pun semakin tebal. Sekitar awal tahun 1942 "saudara tua" Jepang masuk.Apa yang terjadi?Pecah Perang Dunia ke-II itu disusul pula bubarnya perusahaan penjualan obat tersebut. Seluruh simpanannya ditarik, lalu pemuda Achmad Bakrie "memborong" obat-obatan itu. Naluri bisnismya mengatakan begitu agaknya. Jitu perhitungannya. Semua kapal-kapal Belanda diblokir Jepang Praktis obat-obatan produk Barat (Eropa) tidak bisa masuk. Harga obat-obatan milik Achmad Bakrie akhimya membubung tinggi.

Modal terkumpul cukup banyak. Tanpa gembar-gembor (kebiasaannya sejak kecil), berdirilah pada 10 Februari 1942 "Bakrie & Brothers General Merchant And Commission Agent" di Telukbetung, Lampung.

Perusahaan ini bergerak di bidang penjualan dan keagenan hasil bumi seperti kopi, lada, cengkeh, tapioka dan sebagainya.Ketika Jepang masuk, banyak inventaris Belanda berserakan. Antara lain mobil. Dalam perjalanan antara Kalianda-Telukbetung, dua bersaudara Achmad Bakrie dan Abuyamin (abang Achmad Bakrie) melihat mobil-mobil Belanda terbengkalai di kaki bukit Tarahan, bersusun-susun, tidak jauh dari pinggir jalan.Dua bersaudara pendiri Bakrie & Brothers ini mendekati barang peninggalan Belanda itu.Di dalam mobil-mobil itu masih tersimpan dengan baik dan utuh rupa-rupa kue maupun roti kering (biskuit).  Timbul ide untuk mengambilnya, tetapi sukar mereka memutuskan mobil atau biskuit.Alih-alih atas pertimbangan Abuyamin, pilihan jatuh ke biskuit. Sebab, kalau mobil urusannya bisa repot. Berselang beberapa hari, di perlintasan jalan serupa, kedua abang-adik ini ketemu orang Jepang yang lagi bingung lantaran mobilnya mogok.Achmad Bakrie mulai menawarkan "jasa'" karena yakin Abuyamin, mantan sopir truk, bisa membengkeli. Kalau hanya bagian mesin pasti mengerti, pikirnya.Orang Jepang itu serta merta menyambut baik pertolongan "saudara muda"nya. Sebagai "jubir" Achmad Bakrie menanyakan abangnya kira-kira apa penyebabnya.Sementara pemilik mobil naik ke jok mobil dalam keadaan kap terbuka,"Coba!," teriak Achmad Bakrie.Mesin pun hidup, dengan sentuhan sedikit saja oleh Abuyamin. Sang Jepang berterima kasih betul pada "montir" Bakrie.Cukup terima kasih?Tidak.Beberapa hari berikutnya Jepang itu ditemui Achmad Bakrie di Telukbetung. Tidak disangka ia adalah perwira polisi. Apa akal? Achmad Bakrie bukannya takut, malah dari polisi Jepang itu ia memperoleh lisensi trayek."Nanti ada saja gunanya," pikirnya barangkali.Lisensi angkutan ada, tapi mobil tak ada. Dia pun mendatangi Oei Kian Tek, orang Cina pengusaha firma angkutan yang dikenalnya sewaktu menjadi sates di apotek."Lu punya oto kenapa lu nggak jalanin?""Krie, lu ini macam-macam aja. Sekarang ini sudah nggak boleh jalan!""Lu mau jalan?""Kayak lu aja yang kuasa, Krie?2""Nih, kalau lu mau jalan, tapi ada syaratnya!".Achmad Bakrie menunjuk lisensi pada Oei Kian Tek. Akhirnya disepakati persyaratan:Pertama, saudara-saudara Achmad Bakrie gratis naik mobil itu dari Kalianda ke Telukbetung pulang pergi.Kedua, hanya boleh membawa minyak kelapa (goreng) milik Abuyamin.Ketiga, "Lu boleh pungut mengenai ongkos penumpang, nggak usah lu bagi gua. Lu ambil tuh semua ongkoS penumpang" begitulah Achmad Bakrie menerangkan "aturan main" kerja sama itu.Mudah ditebak, perusahaan keluarga itu ingin memonopoli produksi dan pemasaran minyak goreng.Dan benar. Keadaan ini berlanjut sampai keluar peraturan: semua mobil diperlukan untuk mendukung pendudukan Jepang di sana."Orang tua saya mengakui bahwa oom saya itu pintar," tutur M. Ali Yamin (47) salah seorang putera Abuyamin.
Sumber: Buku "Achmad Bakrie - Sebuah Potret Kerja Keras, Kejujuran, dan Keberhasilan" Syafruddin Pohan, dkk. Cetakan Pertama, 1992, Penerbit Kelompok Usaha Bakrie, Jakarta.