Waspada! Inilah Tanda-tanda Awal Epilepsi yang Tak Bisa Diabaikan

Ilustrasi nyeri di kepala
Ilustrasi nyeri di kepala (Foto : Freepik/rawpixel)

AntvEpilepsi adalah penyakit otak kronis tidak menular yang mempengaruhi seseorang dan dapat dialami oleh segala usia. Menurut WHO, sekitar 50 juta orang di seluruh dunia menderita epilepsi, menjadikannya salah satu penyakit saraf yang paling umum.

Dilansir dari Times of India, inilah penjelasan, faktor penyebab, tanda-tanda serta bagaimana penanganan seseorang yang sedang mengalami epilepsi:

Jenis Kejang Pada Kasus Epilepsi

 

img_title
Ilustrasi pingsan. (Foto: Freepik/freepik)

Orang yang menderita epilepsi mengalami kejang secara tiba-tiba. Kejang adalah lonjakan tiba-tiba dari aktivitas listrik yang tidak biasa dan berlebihan di otak yang dapat mempengaruhi tindakan seseorang.

“Seseorang yang menderita epilepsi dapat mengalami lebih dari satu jenis kejang seperti kejang absen yang dapat menyebabkan berkedip cepat atau melihat ke luar angkasa dalam waktu singkat, kejang tonik yang menyebabkan kekakuan otot, kejang fokal kompleks dimana seseorang tidak dapat merespons untuk beberapa menit, kejang fokal sederhana yang dapat menyebabkan kedutan atau perubahan sensasi, seperti rasa atau bau yang tidak biasa. Epilepsi dapat terjadi karena beberapa alasan,” ujar Dr. Atma Ram Bansal, Associate Director, Epilepsy Program Institute of Neurosciences, Medanta Hospital, Gurugram.

Faktor Penyebab Epilepsi

 

img_title
Ilustrasi nyeri di kepala. (Foto: Freepik/rawpixel)
  • Infeksi kemungkinan besar merupakan penyebab utama epilepsi di seluruh dunia. Jika ada bukti infeksi otak yang menyebabkan kejang, ini diklasifikasikan sebagai penyebab epilepsi menular.
  • Epilepsi dapat terjadi karena alasan genetik. Kadang-kadang diturunkan dalam keluarga dan terkadang juga karena perubahan genetik yang didapat.
  • Bisa juga terjadi karena rendahnya kadar oksigen saat lahir.
  • Epilepsi dapat disebabkan oleh kondisi yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel otak.
  • Jaringan parut otak setelah cedera kepala, kerusakan otak setelah stroke dan tumor juga dapat menyebabkan epilepsi.

“Cacat lahir yang mempengaruhi otak merupakan penyebab umum epilepsi, terutama pada mereka yang kejangnya tidak terkontrol oleh obat anti kejang. Beberapa cacat bawaan yang dikaitkan dengan epilepsi termasuk displasia kortikal fokal, polimikrogyria, dan tuberous sclerosis. Ada banyak kelainan otak lain yang dikaitkan dengan epilepsi,” kata Dr Bansal.

Tanda Awal Apilepsi

 

img_title
Ilustrasi nyeri dada. (Foto: Freepik/user18526052)

Tergantung pada jenis kejang, gejala seseorang dapat bervariasi. Namun, kejang berulang adalah tanda utama epilepsi.

  • Tanda-tanda kejang adalah:
  • Kehilangan kesadaran sementara
  • Gerakan otot yang tidak terkendali
  • Masalah komunikasi dan pemahaman
  • Gejala psikis seperti ketakutan, ketakutan dan kecemasan
  • Masalah pernapasan
  • Tangan tersentak tiba-tiba dan benda-benda jatuh dari tangan
  • Tatapan kosong

Cara Membantu Seseorang yang Mengalami Kejang

 

img_title
Ilustrasi berobat ke dokter. (Foto: Freepik/DCStudio)

Jika ada yang mengalami kejang ambillah beberapa langkah berikut ini agar dapat segera membantu menghindari korban lainnya:

  • Minta agar orang-orang menjauh agar orang yang menderita kejang bisa bernafas lega.
  • Balikkan orang tersebut ke sisinya. Ini akan mencegah penderita mati lemas karena muntahan atau air liur.
  • Jangan memasukkan apapun seperti air, obat-obatan atau makanan apapun ke dalam mulut orang tersebut karena orang yang mengalami serangan epilepsi dapat tersedak.
  • Jangan mencoba mengontrol atau menghentikan gerakan menyentak orang tersebut. Saat menahannya, mereka bisa terluka, jadi hindari menahannya sampai kejang selesai.
  • Handuk lembut atau bantal harus diletakkan di bawah kepala mereka agar tidak melukai diri mereka sendiri selama gerakan cepat yang tidak disengaja.

Jangan Pertaruhkan nyawa, Segera Hubungi Bantuan

 

img_title
Ilustrasi berobat ke dokter. (Foto: Freepik/Lifestylememory)

Jika ada yang melihat seseorang mengalami kejang, mereka dapat menyelamatkan nyawa dengan mengikuti beberapa langkah sederhana. Jika mereka melihat orang tersebut mengalami kejang lagi atau tetap tidak responsif setelah kejang berhenti, segeralah menghubungi dokter untuk meminta bantuan.