Banjir di Ibu Kota, Iluni FTUI: Normalisasi Sungai Paling Efektif Atasi Banjir Jakarta

Banjir di Ibu Kota, Iluni FTUI: Normalisasi Sungai Paling Efektif Atasi Banjir Jakarta (Foto Istimewa)
Banjir di Ibu Kota, Iluni FTUI: Normalisasi Sungai Paling Efektif Atasi Banjir Jakarta (Foto Istimewa) (Foto : )
Banjir besar terjadi di DKI Jakarta pada Sabtu (20/2/2021) yang menyebabkan beberapa pemukiman terendam banjir.
Ketua Umum Iluni FTUI Cindar Hari Prabowo menegaskan, tanpa normalisasi sungai masalah banjir di Jakarta tak mungkin bisa diatasi.Program resapan air di permukaan tanah hanyalah penunjang untuk mengurangi volume air hujan yang menggenang di permukaan.Namun limpasan air hujan yang tidak terserap akhirnya ke laut melalui 13 sungai yang melintas Jakarta.Cindar menjelaskan, hampir semua halaman rumah di Jakarta sudah tertutup dengan semen.Selain itu, puluhan ribu rumah lainnya tidak punya halaman untuk membuat sumur resapan.Padahal, banjir bukan hanya karena curah hujan ekstrim di Jakara tetapi juga luapan air 13 sungai sejak di hulu.Bahkan di sepadan sungai pun telah berdiri ribuan rumah. Karena itu, lulusan Teknik Sipil UI ini menyarankan agar Pemprov DKI Jakarta untuk segera melakukan normalisasi sungai. Selain tetap menjalankan program meresapkan sebagian air hujan di dalam tanah."Tak ada solusi lain untuk mengurangi Banjir Jakarta, Pemprov DKI harus segera melakukan normalisasi sungai. Tidak perlu gengsi ini adalah program gubernur sebelumnya. Tapi yang harus dijalankan oleh Pemprov DKI adalah mengurangi banjir yang rutin terjadi. Dan belum optimal penanggulangannya" ujarnya di Jakarta.Cindar menduga ada kekhawatiran Gubernur Anies dianggap melanggar janji kampanye jika terpaksa menggusur warga yang tinggal di bantaran sungai.Namun, hal ini bisa diatasi jika pemprov DKI menyediakan terlebih dulu rumah tinggal yang lebih baik bagi warga yang akan digusur.Menurutnya, Pemprov bisa membangun apartemen atau rusun di lahan kosong milik pemprov atau swasta di dalam atau di sekitar Jakarta. Hal itu sebagai pengganti rumah warga yang tergusur.Menurut Cindar, warga akan merasa lebih nyaman jika bisa tetap tinggal tak jauh dari rumah mereka dahulu karena berbagai sebab. Diantaranya soal tempat kerja dan usaha. Namun, dengan banyak moda transportasi massal, masalah ini bisa diatasi."Dengan ada trans Jakarta, Komuter dan transportasi massal lainnya, jarak 10-15 km, warga akan cepat sampai ke lokasi kerja atau usaha mereka. Apalagi jika rusun atau apartemen dibangun di Jakarta. Ini hanya bagaimana mencari win-win solution. Misalnya luas rumah warga di bantaran sungai diganti dengan 2 kali luas bangunan rusun yang akan mereka miliki nanti. Dan warga tidak kebanjiran lagi," tandasnya.