ACT akan Bangun 5.000 Hunian Sementara Korban Gempa dan Tsunami

ACT akan Bangun 5.000 Hunian Sementara Korban Gempa dan Tsunami (Foto : )

www.antvklik.com - Paska dihentikannya evakuasi para korban, kini pemerintah mulai bersiap untuk membangun hunian sementara untuk para korban. Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, saat berkunjung ke lokasi gempa di Perumnas Balaroa, jumat siang (12/10)"Akan dibangun segera dalam waktu 2 bulan. Paling lambat 2 bulan semua akan pindah dari tenda ke hunian sementara," ujar Wapres JK.Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap targetkan bangun 5000 hunian sementara untuk para korban gempa bumi dan tsunami Palu, Sigi dan Donggala. Proses pembangunan direncanakan akan mulai di bangun pada minggu depan.Gempa bumi dan tsunami yang mengguncang Palu, Donggala dan Sigi, mengakibatkan puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggalnya."Ya Insya Allah kita akan segera membangun hunian sementara karena memang ini kan udah 2 pekan ya tanggap darurat. san ini perpanjangan tanggap darurat untuk 2 pekan berikutnya,' ujar Syuhelmaidi Syukur Senior Vice President ACT.Lokasi untuk membangun hunian sementara masih dalam pemetaan dan koordinasi dengan Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah.Salah satunya yang menjadi prioritas adalah dekat wilayah Balaroa, yang terkena dampak fenomena likuifaksi, akibat gempa. Ratusan rumah di wilayah tersebut hancur amblas kedalam tanah."Kita sedang melakukan survey diberapa titik dan kita alhamdulillah sudah ada 8 titik posko sekarang yg beroperasi. Dan disemua titik ini kita sudah mengirim tim untuk data asasmen agar kemudian kita mendapatkan tempat untuk membangun rumah sementara. Yang kemarin sudah ada laporan di Palu barat sudah ada diatasnya Balaroa itu sudah ada informasi disana bisa dibangun," ujar Syuhelmaidi Syukur.Pekan ini rencananya ACT akan mendatangkan tim kontruksi untuk segera membuat perencanaan, dan mulai membangun hunian sementara minggu depan.Tak hanya itu, lembaga kemanusiaan ini, rencananya juga akan membangun ribuan hunian anti gempa, untuk para korban yang kehilangan tempat tinggalnya.Laporan Shandi March dan Bambang Supriyanto dari Palu, Sulawesi Tengah