youtube channel

Channels

Imam Besar Masjidil Haram (Mekkah) Pertama dari Bukittinggi

Imam Besar Masjidil Haram (Mekkah) Pertama dari Bukittinggi

Ahmad Khatib bin Abdullah bin Abdul Aziz al-Minangkabawi. Foto: Islam Ramah

Imam besar Masjidil Haram adalah amanah yang diembannya. Dan, beliau adalah orang Indonesia, berasal dari Bukittinggi. Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Begitulah namanya kondang di Mekkah.

antvklik.com - Tidak sembarang orang bisa menjadi imam di Masjidil Haram. Masjid terbesar di dunia.

Sesiapa yang menjadi imam di masjid Kota Mekkah itu, tentu saja harus menguasai pengetahuan agama yang luas dan mendalam.

Siapa sangka, seorang ulama asal Indonesia pernah menjadi imam di Masjidil Haram. Beliau adalah Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang ulama terkemuka asal Bukittinggi, Sumatera Barat.

Nama lengkapnya adalah Ahmad Khatib bin Abdullah bin Abdul Aziz al-Minangkabawi. Beliau lahir pada 1860 M/ 1276 H, sementara sumber lain menyebut 1885 M di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Beliau lahir dari keluarga berada dan dikenal sangat taat beragama. Memperoleh pendidikan dasar di Bukittinggi lewat jalur pendidikan informal yang dikelola oleh ulama setempat. Kemudian melanjutkan ke Mekkah pada 1871 atau ada yang menyebut 1887.

Sejumlah sumber sebagaimana ditulis oleh Martin van Bruinessen menyebutkan, beliau belajar kepada Syeikh Nawawi al-Bantani. Selebihnya ia banyak belajar secara mandiri atau otodidak. Sepanjang hayatnya ia menetap di Mekkah meski tetap mempunyai hubungan dengan daerah asalnya melalui orang-orang yang naik haji dan belajar kepadanya.

Di antara murid-muridnya ada yang mendapatkan kedudukan dalam bidang agama seperti Syeikh Muhammad Nur (Mufti Kerajaan Langkat), Syeikh Hasan Maksum (Mufti Kerajaan Deli), Syeikh Muhammad Saleh (Mufti Kerajaan Selangor), Syeikh Muhammad Zein (Mufti Kerajaan Perak), Muhammad Nur Ismail (Kadi Kerajaan Langkat Binjai).

Sebagian lain ada yang menjadi pembaharu pemikiran Islam seperti Syeikh Muhammad Jamil Jambek, Haji Abdul Karim Amrullah (HAMKA) sampai KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) dan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama).

Syeikh Khatib memiliki banyak keahlian dalam bidang ilmu-ilmu keislaman, terutama masalah-masalah fikih dan hukum Islam. Pendapat dan pemikirannya banyak dikemukakan dalam buku-buku yang ditulisnya, terutama menyangkut masalah-masalah keagamaan di Minangkabau dan di Tanah Jawa.

Selain itu, beliau juga dikenal alim di bidang ilmu hitung dan hisab. Dalam ilmu ini beliau menulis kitab berjudul al-Jawahir al-Naqqiyah fi al-‘Amal al-Jaibiyah (Kairo, 1310 H/ 1891 M). Kitab ini merupakan pedoman untuk pengetahuan tanggal dan kronologi.

Meskipun sampai akhir hayatnya ia tinggal di Mekkah, namun ia tidak mau tinggal diam dalam menghadapi masalah-masalah nasionalisme. Ia juga banyak menulis kitab-kitab seperti Irsyad al-Hayara fi Izalah ba’dhi Syibhi al-Nashara, kitab Dhauq al-Siraj, kitab Riyadh al-Wardiyyah fi Ushul al-Tauhid wa al-Furu’ al-Fiqh, yang merupakan pedoman praktis untuk ilmu akidah dan Syari’ah.

Selain itu ia juga menulis kitab Fathu al-Mubin, kitab pendek berbahasa Melayu yang membahas khusus tentang akidah, dan kitab al-Nafahat ‘ala Syarh al-Waraqat, kitab yang berisi uraian mengenai ilmu ushul fikih.

Syeikh Khatib memang dikenal sebagai ulama produktif dan penulis di bidang kajian keislaman seperti fikih, sejarah, al-jabbar, ilmu falaq, ilmu berhitung, dan ilmu ukur.

Sedikitnya beliau memiliki 46 hingga 49 karya. Awalnya karya-karya Syeikh Khatib, selain tersebar di Indonesia, juga beredar ke wilayah Syiria, Turki dan Mesir.

Di Indonesia hanya ada dua karyanya yang masih dikaji di beberapa pesantren, yaitu kitab al-Nafahat ‘ala Syarh al-Waraqat dan kitab Fath al-Mubin. Syeikh Khatib meninggal dunia di Mekkah pada 1224 H/ 1916 M.

Sumber: Islam Ramah


icon featured

Artikel Terkait

icon featured

Terpopuler

icon featured

Komentar