Unik, Pesta Dadung Tradisi Panen Kuningan

tradisi-panen-kuningan-2
tradisi-panen-kuningan-2 (Foto : )
www.antvklik.com
- Pesta Dadung atau tradisi panen kuningan, merupakan kesenian tradisional berasal dari Desa Legokherang Kecamatan Cilebak Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang hidup ratusan tahun lalu. Kendati dalam perjalanannya tidak semulus kesenian tradisi lainnya. Namun paratetua desa tidak mengharapkan tradisi itu punah. Sebab sudah berlangsung secara turun temurun dan menjadi ikon Kabupaten Kuningan.Pesta dadung merupakan tradisi budak angon (pengembala kambing) di saat menggembalakan ternaknya di huma atau di ladang. Kehidupan tradisi itu ada sekitar tahun 1818, merupakan kaulinan barudak yang memanfaatkan waktu luang sewaktu menggembala. Tradisi itu, mengalami perubahan fungsi dari tradisi budak angon menjadi sikap syukur para petani setelah panen.Kegiatan itu berlangsung cukup lama, sehingga perubahan tradisi itu sampai sekarang sebagai ungkapan rasa syukur dengan cara menyajikan pesta dadung. Pesta dadung, yakni sebuah ritual budak angon yang menggunakan seutas tambang pengikat ternak yang dijadikan alat untuk menari. Simbol tambang, sampai saat ini menjadi ciri khas dan tidak pernah hilang dan terus dipertahankan.Pesta dadung mulai diperkenalkan ke masyarakat luar desa sejak kepemimpinan desa yakni Kuwu Angkin Jiwa Laksana, sekitar Tahun 1818. Sebelumnya pesta dadung yang merupakan kaulinan barudak diangkat menjadi tradisi masyarakat setempat dengan kemasan lebih baik.Pada jaman itu, Angkin mendatangkan seperangkat alat gamelan salendro dan pelog (laras Sunda) dari Cirebon dan tambang atau dadung. Dadung panjangnya kurang lebih dua belas meter tujuannya sebagai alat untuk menari dan menyanyikan lagu yang diiringi gamelan. Tarian yang digunakan jenis tari jalak pengkor hasil kreasi Angkin Jiwa Laksana. Sedangkan nyanyian sebagai pengiring, menggunakan musik kangsreng dan waledan. Kedua jenis musik ini hasil ciptaan Sunan Gunung Djati atau bisa disebut Wali Sanga.Pesta dadung diselenggarakan setiap tahun, terutama di bulan Juli. Namun kegiatan itu tidak bisa dilaksanakan secara kotinyu karena beberapa alasan. Diantaranya keterbatasan dana, juga keberpihakan Pemkab Kuningan belum sepenuhnya. Padahal tradisi seharusnya mendapatkan perhatian serius.Laporan  Erfan Septyawan dan Muhamad Sam Kuningan Jawa Barat