youtube channel

Channels

Beberapa Keajaiban Liverpool, Setara Miracle of Istanbul 2005

Beberapa Keajaiban Liverpool, Setara Miracle of Istanbul 2005

Beberapa Keajaiban Liverpool, Setara Miracle of Istanbul 2005

Pada laga yang dihelat di Vodafone Park, Istanbul, Kamis (15/8/2019) malam WIB, Sadio Mane Cs meraih gelar Piala Super Eropa 2019 mengalahkan Chelsea. Liverpool menang lewat drama adu penalti dengan skor 5-4, setelah bermain imbang 2-2 hingga tambahan waktu.

antvklik.com - Liverpool berhasil mengalahkan Chelsea dan merebut trofi Piala Super Eropa keempatnya. Ini mengingatkan orang akan kejadian The Miracle of Istanbul 14 tahun silam saat mereka jadi juara Liga Champions kelima kalinya. Ceritanya pun hampir sama, tertinggal lebih dulu di babak pertama, bangkit di babak kedua, dan kemudian menang adu penalti.

Pada laga yang dihelat di Vodafone Park, Istanbul, Kamis (15/8/2019) malam WIB, Sadio Mane Cs meraih gelar Piala Super Eropa 2019 mengalahkan Chelsea. Liverpool menang lewat drama adu penalti dengan skor 5-4, setelah bermain imbang 2-2 hingga tambahan waktu.

Gelar Eropa kedua Liverpool yang berhasil dibawa pulang dari Istanbul serupa momen epik Liverpool di Istanbul pada 25 Mei tahun 2005 silam. Liverpool berjumpa AC Milan di final Liga Champions. Laga digelar di Ataturk Olympic Stadium, Istanbul. Liverpool tertinggal 3-0 pada babak pertama dari AC Milan.

Liverpool kemudian bangkit di babak kedua. Tiga gol balasan dicetak Steven Gerrard dan kolega secara heroik. Pada akhirnya, The Reds menang lewat babak adu penalti 3-2 atas Milan.

Laga itu disebut-sebut sebagai salah satu final Liga Champions paling dramatis dan comeback bersejarah dalam sepakbola.

Tapi kemenangan epik seperti keajaiban di Istanbul 2005 silam sebenarnya pernah dilakukan Liverpool sebelum mereka mengalahkan Chelsea dalam perebutan Trofi Super Eropa 2019.

Yaitu pada semifinal Liga Champions 2019. Pasca­kekalahan 0-3 Liverpool di tangan Barcelona pada leg pertama semifinal Liga Champions (2/5) di Camp Nou, di leg kedua (8/5/2019) di Anfield, The Reds menang 4-0 atas Barca. Kemenangan itu membawa Liverpool lolos ke final dengan agregat 4-3 atas Lionel Messi dkk.

Penyerang yang hanya enam kali masuk dalam starting eleven Liverpool musim ini, Divock Origi, membukukan brace. Yakni menit ketujuh dan 79. Dua gol sisanya disumbangkan Georginio Wijnaldum.

Kejadian serupa yang mengingatkan bahwa Liverpool hidup dengan kisah impossible is nothing nya kembali terulang seperti pada final Liga Champions 2005 silam juga pernah terjadi di era Klopp.

Come back luar biasa di Liga Inggris tepatnya pada 23 Januari 2016 ketika meladeni tuan rumah Norwich City. Liverpool sempat tertinggal 1-3 hingga menit ke-55, lantas berbalik unggul 4-3 di menit ke-75. Sempat disamakan 4-4 di menit ke-92 yang seolah akan menjadi hasil akhir laga, tetapi di menit terakhir, 95, Liverpool mencetak gol kemenangan.

Sama saja dengan laga melawan Dortmund ini. The Reds memastikan lolos ke semifinal Europa League melalui kemenangan dramatis 4-3 di Anfield atas Borussia Dortmund pada leg II perempat final Europa League, Jumat (15/4/2016). Kemenangan didapat setelah tertinggal dua gol.

Yang terpenting bukanlah memenangi pertandingan. Tetapi memperlihatkan karakter Liverpool. Karakter sebagai tim besar yang tidak menyukai kekalahan. Dan itulah yang dilakukan anak asuh Klopp saat mengalahkan Chelsea dalam perebutan Trofi Piala Super Eropa 2019. Mereka memperlihatkan karakter bahwa apapun masih mungkin.

(Berbagai Sumber)


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments