youtube channel

Channels

Asian Games 2018 : Momen Emosional Buat Owi/Butet

Asian Games 2018 : Momen Emosional Buat Owi/Butet

Sudah Merasakan Gelar Juara Dunia, Emas Olimpiade, Sea Games ,dan All England, Pasangan Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir kini Mengincar Emas Asian Games

antvklik.com - Ganda campuran bulutangkis,Terbaik Indonesia saat ini, Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir sudah meraih semua gelar tertinggi dan terbaik, di dunia. Namun, masih ada satu gelar terselip, yang selalu luput direbut, yaitu Medali Emas Asian Games. Terakhir kali, ganda Campuran Indonesia, Christian Hadinata/Ivana Lie merebut Emas, di Asian Games 1982. Setelah itu upaya Indonesia merebut emas selalu kandas. Puasa emas ganda campuran pun tanpa sadar sudah bertahan 36 tahun lamanya.

Di Asian Games 2014 lalu, sebenarnya Tontowi/Lilyana berpeluang meraih medali emas. Sudah sampai di final, diunggulkan menang, namun justru kalah dari Ganda Cina, Zhang Nan/Zhao Yunlei 16-21, 14-21. “Asian Games 2018, adalah momen yang pas, untuk menebus semuanya. Beban kegagalan tahun lalu, beban setelah 36 tahun, mungkin juga kesempatan terakhir buat saya,” ujar Lilyana Natsir, atau yang akrab disapa Butet ini. Bisa dimaklum, Butet yang sudah berkarier di bulutangkis sejak tahun 2003 kini sudah berusia 32 tahun. Empat tahun lagi, dinamika persaingan akan berubah cepat seiring kian bertambahnya usia Butet, dan munculnya pesaing-pesaing baru. “Saat ini fokus saya untuk membidik emas tersebut, bahkan seijin pelatih sengaja tak mengikuti beberapa turnamen untuk menjaga fokus dan kebugaran,” tambah perempuan asal Manado ini.

Di Asian Games 2014 lalu Ganda Campuran, Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir Sudah Sampai di Final Tapi Gagal Meraih Emas. 2018 Saatnya Tebus Kegagalan

Sejak meraih emas, Kejuaraan Bulutangkis Asia 2002, saat itu berpasangan dengan Markis Kido, Butet mulai menemukan jalan emas prestasinya. Meraih medali emas ganda campuran, Sea Games 2005, 2007, 2009, dan 2011, empat kali juara dunia, tahun 2005, 2007 (bersama Nova Widianto), 2015, 2017 (bersama Tontowi Ahmad), menjadi Juara All England, tiga kali beruntun, 2012-2014, hingga meraih medali emas Olimpiade Rio De Janeiro Brasil 2016. Sementara itu, gelar juara Super Series Badminton sudah tak terhitung. Menyandang gelar ganda campuran nomor satu dunia, lama dirasakannya, namun masih ada saja yang kurang.

“Semoga Asian Games 2018, jadi momentum yang manis buat saya,” ujar Butet yang kini mulai menginvestasikan tabungannya dengan memasuki bisnis property, persiapan jika kelak benar benar pensiun dari bulutangkis. Sejumlah komplek perumahan bahkan sudah dibangunnya di Kawasan Bekasi Jawa Barat. Apakah selesai Asian Games 2018, Butet akan benar benar gantung raket..? Semua berpulang pada mood dan keputusan Butet. “Saya selalu rindu momen momen istimewa di lapangan. Teriakan suporter yang menyemangati kita untuk memberi yang terbaik untuk Indonesia,” ujar Butet.

Ganda Campuran Indonesia Terakhir Meraih Emas Asian Games tahun 1982 Lewat Pasangan Christian Hadinata/Ivana Lie. Setelah 36 tahun Puasa Emas, Saatnya Rebu di Asian Games 2018. (Foto : TempoStore)

Pasangan Butet, Tontowi Ahmad menegaskan tekad serupa. Setelah 9 tahun berpasangan, Emas Asian Games-lah yang masih terlewat. Sudah sampai di final, punya kans menang, namun gagal sering jadi momen menyesakan yang ingin dicari penebusnya. Pernah gagal di kejuaraan dunia 2011 dan 2015, akhirnya bisa ditebus dengan juara di 2013 dan 2017. Kali ini 2018, untuk menebus kegagalan Asian games 2014. “Bukan hanya mempersembahkan emas, syukur syukur jika bulutangkis, bisa mempersembahkan medali secara optimal, sebanyak banyaknya, apalagi main di kandang sendiri,” ujar pebulutangkis 30 tahun asal Banyumas Jawa Tengah yang akrab disapa Owi ini.

Lilyana Natsir Mulai Masuk Bisnis Property, Persiapan Jika Kelak Pensiun dari Bulutangkis

Cabang bulutangkis, yang akan memprebutkan 7 medali emas, pastinya jadi tumpuan Indonesia mendulang medali di Asian Games 2018 nanti. Saat di pertandingkan untuk pertama kali,tahun 1962, 5 dari 6 medali yang dipertandingkan disapu Indonesia. Inilah pencapaian terbaik sepanjang sejarah Asian Games. Saat Itu Tan Joe Hock, Juara tunggal putra, Minarni Juara Tunggal Putri, Minarni/Retno Kustijah Juara Ganda Putri, Ditambah Emas Beregu Putri dan Putra. Satu satunya emas terlepas, adalah ganda putra Tan Joe Hock/Liem Tjeng Kian, kalah dari Ganda Malaysia di final perorangan putra. Tradisi “Emas Bulutangkis” kemudian selalu terjaga, kecuali di Asian Games 1986 hanya merebut 4 medali perunggu, dan 1990, dengan 2 medali perak dan 6 perunggu.

Harapan tinggi pantas disandarkan pada duet Owi/Butet yang hingga kini saat pantas disebut sebagai salah satu ganda campuran terbaik dunia. Harapan lain tertumpu pada Ganda Putra, Marcus/Gideon yang juga pantas disebut terbaik di dunia saat ini. Kita juga punya Ganda Putra tangguh lain Fajar/Muh.Ryan. Tim beregu putra dan putri tetap ada peluang, juga sektor tunggal putra, tunggal putri, dan ganda putri. Di Asian Games 2014 lalu, bulutangkis mempersembahkan 2 emas, 1 perak, dan 1 perunggu. Emas lewat Ganda Putra Hendra/Muh.Ahsan, Ganda Putri Nitya Krishinda/Greysia Polii, Perak oleh Owi/Butet, sementara Perunggu Lewat Praven/Debby Santosa, keduanya di Ganda Campuran. Dukungan penuh penonton tentu bakal jadi nutrisi semangat pemain lebih berlipat. Peta kekuatan bulutangkis Asia, memang sangat ketat saat ini. Antara kekuatan lama, Cina, Korsel, atau Malaysia, hingga kebangkitan India, Jepang, hingga Thailand.

Bulutangkis Andalan Indonesia Meraih Medali Emas, di Asian Games 2018 Siap Memberikan Yang Terbaik Untuk Merah Putih


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments