youtube channel

Channels

Paman Nabi Muhammad SAW dalam Naskah Kuno Jawa

Paman Nabi Muhammad SAW dalam Naskah Kuno Jawa

Menak Amir Hamzah disimpan di British Library, London, Inggris. (Foto: British Library)

Menak Amir Hamzah adalah manuskrip berbahasa Jawa paling tebal di dunia. Menak ini mengisahkan kepahlawanan paman Nabi Muhammad SAW bernama Amir Hamzah. Sempat disatroni Inggris dari Keraton Yogyakarta tahun 1812, dikembalikan Maret 2019.

antvklik.com - Menak Amir Hamzah berasal dari wiracarita Persia berjudul Qissa il Emir Hamza. Kisah kepahlawanan Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW. Dalam buku menak ini digambarkan Amir Hamzah sebagai tokoh yang gagah berani, juga tokoh penyebar Islam.

Paman Nabi Muhammad SAW dalam Naskah Kuno Jawa Menak Amir Hamzah berbahasa Jawa, ditulis dalam huruf Arab Pegon. (Foto: British Library)

Menak Amir Hamzah ini ditulis dalam huruf Arab. Disimpan di British Library, London. Menak ini adalah naskah yang paling tebal di British Library dari segi jumlah halaman dalam satu jilid. Jumlahnya lebih dari 3.000 halaman. Ini diungkapkan Annabel Gallop, kurator khusus Naskah Asia Tenggara di British Library.

Paman Nabi Muhammad SAW dalam Naskah Kuno Jawa Menak Amir Hamzah disimpan di British Library, London, Inggris. (Foto: British Library)

Digitalisasi menak ini dilakukan oleh seorang fotografer bernama Carl Norman. Pada 20 Maret 2018 Sri Sultan Hamengku Buwono X mengunjungi British Library untuk meluncurkan proyek digitalisasi naskah-naskah kuno yang berasal dari Yogyakarta.

Paman Nabi Muhammad SAW dalam Naskah Kuno Jawa Pada 20 March 2018 Sri Sultan Hamengku Buwono X mengunjungi British Library untuk meluncurkan proyek digitalisasi naskah-naskah kuno yang berasal dari Yogyakarta.(Foto: British Library)

Saat ini, semua orang bisa menikmati Menak Amir Hamzah (dalam aksara Jawa maupun Arab Pegon) secara online di link berikut: Javanese Manuscripts from Yogyakarta Digitisation Project

Menak Amir Hamzah berasal dari istana Yogyakarta. Ditulis dan diperuntukkan Ratu Ageng (1730-1803). Ratu Ageng adalah nenek buyut Pangeran Diponegoro. Ratu Ageng adalah istri sultan pertama Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I. Dalam pengantar menak, Ratu Ageng disebut dengan nama Prabu Wanodeya Kang Jumeneng Ratu Agung Kang Ngedhaton Tegalrejo (Raja perempuan yang memerintah sebagai Ratu Agung beristana di Tegalrejo).

Naskah menak ini disalin beberapa waktu setelah 1792. Tahun 1812 diangkut pasukan Inggris saat Geger Sepehi, penyerbuan ke istana Yogyakarta.

Paman Nabi Muhammad SAW dalam Naskah Kuno Jawa Hamengkubuwono X dan Dubes Inggris Moazzam Malik bertemu di Keraton Yogyakarta. (Foto: British Library)

Naskah menak ini dikembalikan pemerintah Inggris ke Keraton Yogyakarta pada 7 Maret 2019. Duta Besar Inggris Moazzam Malik menyerahkannya pada Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ini untuk memperingati HUT Diplomasi Inggris-Indonesia Ke-70 tahun. Juga HUT Jumenengan (naik tahta) Sultan HB X Ke-30 tahun.

Ada 75 manuskrip Jawa yang sedang didigitalisasi terdiri dari 61 manuskrip yang diambil pasukan Inggris tahun 1812 yang dipimpin Letnan Gubernur Jawa Thomas Stamford Raffles. Ada pula 9 manuskrip lain yang diperkirakan juga dari Yogyakarta serta 5 lainnya yang diidentifikasi Prof. Merle Ricklefs pada 1988 dan dimungkinkan berasal juga dari Yogyakarta.


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments