youtube channel

Channels

Miras Tjap Tikoes, Air Surga untuk Ritual Religi-Kultural?

Miras Tjap Tikoes, Air Surga untuk Ritual Religi-Kultural?

Miras Tjap Tikoes, Air Surga untuk Ritual Religi-Kultural?

Pada mulanya, miras bening nan legendaris ini dilabel Tjap Tikoes. Dikonsumsi untuk bersenang-senang saat pesta. Pun digunakan sebagai pelengkap ritual agama maupun budaya.

Tjap Tikoes atau kini dilabel Cap Tikus dalah minuman keras yang dibuat dari sadapan air nira atau sagoweer/saguer dalam bahasa lokal Minahasa. Sadapan nira ini disuling hingga menghasilkan cairan mengandung alkohol. Minuman keras ini popular sejak 1920-1930-an.

antvklik.com - Bagi masyarakat tradisional Minahasa, miras cap tikus adalah produk pengetahuan dan teknologi tradisional. Menjadi bagian terpenting dalam ritual adat. Ekspresi budaya tradisional orang Minahasa.

Albertus Christiaan Kruijt dalam bukunya Het animisme in den Indischen archipel (1906) menyebutkan, minuman (saguer) dipasangkan dengan sirih-pinang dan tembakau sebagai pelengkap gelaran ritual adat. Menjadi unsur penting dalam hampir semua ritual adat agama tua Minahasa yang dipimpin seorang walian/dukun adat/ imam.

Namun kini, ritual-ritual adat tua di Minahasa tidak lagi dominan dibandingkan ibadah-ibadah Kristen. Gereja terbesar di Tanah Minahasa adalah Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang anggotanya berjumlah kurang lebih 789.000 jiwa. Banyak anggota gereja ini berprofesi sebagai pengrajin cap tikus.

Miras Tjap Tikoes, Air Surga untuk Ritual Religi-Kultural? Alex Sius Rabung (53) sedang menata kayu bakar untuk melakuan proses pembuatan "Cap Tikus" secara tradisional di Desa Rumengkor, Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. (Indonesia Press. Foto: Imank)

Wilayah penghasil cap tikus terutama di Minahasa bagian selatan, yaitu Motoling dan sekitarnya, wilayah Tareran dan beberapa desa di Langowan.

Cap Tikus pengganti Anggur Kudus

Anggur sangatlah penting dalam pelaksanaan perjamuan kudus di gereja. Dalam tradisi gereja, anggur secara simbolik menjadi darah Kristus. Dahulu kala, penduduk Minahasa tidak menanam pohon anggur. Sebagai ganti anggur, mereka menggunakan sulingan saguer (cap tikus). Sekarang ini, anggur-anggur impor sudah semakin banyak menyerbu Sulawesi Utara.

Di masyarakat Minahasa lazim kita dengar kata Perjamuan. Maknanya ganda. Bisa berarti perjamuan kudus di gereja, bisa pula berarti acara minum-minum cap tikus di warung atau tempat tertentu.

Gabriele Weichart, antropolog dari University of Vienna, Austria, tahun 2002-2004 datang ke Minahasa, terutama di wilayah Tonsea untuk meneliti kuliner di daerah ini. Pada laporan penelitiannya, ia menuliskan tradisi minum saguer, cap tikus dan anggur, terutama di Tonsea. Wichart menyaksikan bagaimana orang-orang di sana menikmati ketiganya dalam pesta-pesta keluarga atau komunitas.

Tidak selalu cap tikus dipandang buruk dan mencelakakan. Tidak hanya menjadi pendeta, banyak yang mengaku berhasil menjadi polisi atau tentara maupun aparat sipil negara karena semasa sekolah dibiayai oleh hasil penjualan cap tikus.

Miras Tjap Tikoes, Air Surga untuk Ritual Religi-Kultural? Kadar alkohol Cap Tikus hingga 40%. Kini sudah mulai dijual bebas.

Dalam perjalannya kemudian, kontaminasi budaya menenggak miras berjalan dengan sangat cepat ke generasi yang jauh lebih muda. Orang tuapun seakan tak berdaya. Cap tikus memakin meraja. Aturan adat telah lemah dan tak berdaya. Banyak nyawa bertumbangan menenggak cap tikus.


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments