youtube channel

Channels

Ilmuwan Ungkap Penyebab Kaum Pria Lebih Berisiko Terhadap Covid-19

Ilmuwan Ungkap Penyebab Kaum Pria Lebih Berisiko Terhadap Covid-19

Perawatan pasien corona di Wuhan, China (Foto: CCTV)

Data kesehatan secara global menunjukkan kaum pria lebih berisiko terjangkit Covid-19. Bahkan angka kematian kaum pria juga lebih besar dari wanita. Para ilmuwan ungkap penyebabnya.

Di sejumlah negara seperti Italia, dari total pasien yang dinyatakan positif virus corona atau Covid-19, sebanyak 60 persen di antaranya adalah kaum pria. Bahkan, tingkat kematian kaum pria akibat penyakit itu mencapai 70 persen.

Namun di Korea Selatan justru kaum wanita lebih banyak terjangkit corona dibanding pria. Meski demikian, angka kematian kaum pria di negeri ginseng itu tetap lebih tinggi dari wanita.

Menanggapi fenomena tersebut, Koordinator Respon Virus Corona Gedung Putih, Deborah Birx mengatakan, dari trend yang ada di Italia, mereka melihat angka kematian kaum pria terlihat dua kali lipat di segala usia dibanding wanita.

Menurut Birx, dengan data ini membantu Pemerintah Amerika Serikat untuk lebih memfokuskan perhatian tentang siapa yang harus dilindungi dan bagaimana bentuk perlindungannya dari wabah penyakit itu.

Gambar virus corona

Tidak Semua Negara Rilis Data Gender

Bekerja sama dengan Global Health 50/50, sebuah lembaga penelitian yang mengkaji masalah gender dalam kesehatan global, CNN menganalisis data Covid-19 dari 20 negara hingga 20 Maret 2020.

Tujuan penelitian adalah untuk melihat mengapa kaum pria lebih banyak yang meninggal dibanding wanita.

Dari 20 negara ini, hanya enam yang menyediakan data berdasarkan jenis kelamin untuk kasus dan kematian yang dikonfirmasi. Keenam negara itu adalah China, Perancis, Jerman, Iran, Italia, dan Korea Selatan.

Meski data-data yang dikumpulkan belum komperhensif, terlihat bahwa 50 persen pria lebih berisiko meninggal dunia dibandingkan wanita setelah didiagnosis Covid-19.

Hasil ini mengingatkan apa yang telah disampaikan oleh para ahli kesehatan publik sebelumnya tentang tingginya risiko kematian bagi kaum pria. Teori ini tidak hanya menyangkut faktor biologis, tapi juga mengenai gaya hidup.

"Ketika kita melihat data bahwa setiap negara yang memilah kasus Covid-19 berdasarkan jenis kelamin, ada tingkat kematian kaum pria lebih tinggi 10-90 persen dibanding wanita," kata Sarah Hawkes, seorang ahli kesehatan masyarakat dari University College London yang juga Direktur Global Health 50/50.
Hawkes juga mencatat, laporan data epidemik berdasarkan pemisahan gender telah diminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2007. Namun banyak negara yang tidak mematuhinya.
Bahkan untuk negara maju seperti Amerika Serikat juga tidak merilis data kasus Covid-19 berdasarkan gender.
"Saya sangat yakin, di sebuah negara dengan sistem kesehatan dan pengawasan yang canggih seperti dimiliki Amerika Serikat, bukan berarti data itu tidak ada," kata Hawkes.

Melihat Wabah MERS dan SARS

Sementara kalau melihat wabah sebelumnya seperti SARS dan MERS, kaum pria juga lebih berisiko terjangkit atau tertular dibanding wanita.
Menurut Luis Ostrosky-Zeichner, seorang ahli penyakit menular dari McGovern Medical School di UTHealth, Texas, AS, kaum pria dilapokan banyak yang mengalami kondisi klinis buruk saat wabah SARS di Hong Kong.
Studi wabah penyakit MERS di Arab Saudi dan Korea Selatan juga menunjukkan, tingkat kematian kaum pria lebih tinggi dibanding wanita.
Dari perspektif evolusi, sejumlah penelitian menunjukkan kaum wanita memiliki imun tubuh lebih kuat dibanding pria dalam merespon infeksi virus.
Ini karena kaum wanita terbiasa dengan keberadaan "benda asing" dalam tubuhnya atau disebut dengan masa kehamilan. Hal tersebut dianggap menjadi keuntungan lebih bagi kaum wanita dalam bertahan hidup.

Gaya Hidup Berisiko

Berdasarkan data awal Covid-19 di enam negara, pasien yang kondisinya parah, cenderung memiliki penyakit bawaan seperti hipertensi, jantung dan paru kronis.
Analisis Global Health 50/50 menunjukkan ini terjadi karena pilihan gaya hidup yang berisiko.
"Kita lihat di berbagai penyakit lain, yang kita tahu pria lebih cenderung menjalankan gaya mereka yang akan merugikan kesehatan dalam jangka panjang," kata Hawkes.
Seorang pria yang terjangkit corona sedang dirawat dokter di sebuah RS di Wuhan, China (Foto: CCTV)
Dikatakan, kaum pria di banyak negara yang lebih sering terlihat merokok dan minum minuman beralkohol dibanding wanita.
Seperti di China yang memiliki populasi perokok tertinggi di dunia dengan 316 juta pria yang merokok. Dari total populasi negeri tirai bambu itu, kurang dari 3 persen wanita yang merokok.
Sementara di Italia, berdasarkan data Institut Kesehatan Nasional, ada 7 juta pria yang merokok. Sedangkan jumlah kaum wanita yang merokok lebih kecil, yaitu 4,5 juta orang.
Lembaga itu juga menyebut, sepertiga perokok aktif yang terjangkit Covid-19 mengalami kondisi klinis lebih serius dibanding dengan yang tidak merokok.
"Jika Anda menemukan sekelompok pria yang telah menjadi perokok seumur hidup dan kemudian terjangkit virus corona, tampaknya mereka lebih mungkin menderita infeksi parah dan berisiko meninggal dunia," kata Hawkes.
Studi lainnya juga menunjukkan kaum pria di Italia juga memiliki angka hipertensi yang lebih tinggi dibanding wanita. Sedangkan di China, jumlah pria China yang terkena tekanan darah tinggi dan penyakit diabetes juga lebih tinggi dibanding wanita.
Menurut peneliti, semua faktor itu berkontribusi menimbulkan komplikasi saat orang itu terjangkit virus corona.
CNN


icon featured

Related Article

icon featured

Popular

icon featured

Comments