youtube channel

Channels

HUT Kelompok Usaha Bakrie ke-78, H. Achmad Bakrie Mendamba Akhlak dan Harta

HUT Kelompok Usaha Bakrie ke-78, H. Achmad Bakrie Mendamba Akhlak dan Harta

HUT Kelompok Usaha Bakrie ke-78, H. Achmad Bakrie Mendamba Akhlak dan Harta (Foto Dok. Keluarga)

Satu unit gedung perkantoran berbentuk segi delapan berdiri anggun di kawasan Segitiga emas, Kuningan, Jakarta Selatan. Pada puncak bangunan menghadap ke Jalan H.R. Rasuna Said itu terpampang tulisan besar-besar “Wisma Bakrie”.

antvklik.com - Ketika diresmikan pemakaiannya, seorang lelaki tua dengan vokal suara berat khas, tampil mengucapkan sepatah dua patah kata di hadapan keluarga dan para undangan lainnya. Pada bagian sambutannya itu, ia menyebut rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya yang telah tiada.

Wisma Bakrie, gedung perkantoran bersegi delapan dan berlantai tujuh. Bangunan Seluas 13.000 m2 yang selesai dibangun 1984 ini semakin sempit dengan kian bertambahnya perusahaan baru pada Kelompok Usaha Bakrie (Foto Perpustakaan Bakrie) Wisma Bakrie, gedung perkantoran bersegi delapan dan berlantai tujuh. Bangunan Seluas 13.000 m2 yang selesai dibangun 1984 ini semakin sempit dengan kian bertambahnya perusahaan baru pada Kelompok Usaha Bakrie (Foto Perpustakaan Bakrie)

Kata terima kasih barang kali terucap, karena ibundanya senantiasa mengingatkan akan kemauan keras sang anak. Dulu, setiap kali ia hendak berbuat sesuatu, bundanya selalu berpesan dengan kata-kata, “Apa ada uangmu untuk bikin itu? Kalau ndak ada, usahlah, malu kita.”

Wisma Bakrie, Gedung Perkantoran Berbentuk Segi Delapan Berdiri Anggun di Kawasan Segitiga Emas, Kuningan, Jakarta Selatan (Foto Dok. Pribadi) Wisma Bakrie, Gedung Perkantoran Berbentuk Segi Delapan Berdiri Anggun di Kawasan Segitiga Emas, Kuningan, Jakarta Selatan (Foto Dok. Pribadi)

Ketika masih kanak-kanak, H. Achmad Bakrie memang berpembawaan lasak, tidak mau diam. Tempramennya pun tinggi, impulsif.

Soedarpo Sastrosatomo (baju batik) ikut menghadiri peresmian Wisma Bakrie (Foto Dok. Perpustakaan Bakrie) Soedarpo Sastrosatomo (baju batik) ikut menghadiri peresmian Wisma Bakrie (Foto Dok. Perpustakaan Bakrie)

Kendati demikian, terhadap orang tua ia senantiasa menaruh rasa cinta, hormat, dan patuh. Kesantunannya itu tak pernah lekang, walaupun ia telah berumah tangga dan menjadi saudagar. Tetapi ayahnya, H. Oesman Batin Timbangan, lebih dulu meninggal (1957).

Tiga generasi. H. Oesman Batin Timbangan (ayah) memegang tongkat berkopiah. H. Achmad Bakrie nomor 3 dari kiri belakang. Aburizal Bakrie duduk di pangkuan ibundanya (Hj. Roosniah Bakrie) (Foto Dok. Rumah Pusaka Lampung) Tiga generasi. H. Oesman Batin Timbangan (ayah) memegang tongkat berkopiah. H. Achmad Bakrie nomor 3 dari kiri belakang. Aburizal Bakrie duduk di pangkuan ibundanya (Hj. Roosniah Bakrie) (Foto Dok. Rumah Pusaka Lampung)

Pada saat ayahnya sakit, di Kalianda, sang anak yang telah menetap di Jakarta selalu menjenguk dengan penuh perhatian. H. Achmad Bakrie tuntun sendiri ayahnya ke sumur yang terpisah dengan bangunan rumah, menyempurnakan istinjak kala ayahnya hendak berwudhu. Dengan sabar dan cinta ia lakukan.

Di Jakarta, terbiasakan setiap hendak pergi dan pulang dari kantor, H. Achmad Bakrie temui dulu ibunya agak satu-dua menit sebelum menjumpai anak-istrinya. Selalu ia katakan, bahwa uang bukanlah tujuan hidup; melainkan sekedar alat untuk menyenangkan orang banyak.

“Mencari uang lebih mudah dari pada menjaganya,”

Begitulahyang acapkali diceritakan H. Achmad Bakrie pada banyak orang. Sebab, tidak jarang orang terlena, karena telah meraih apa yang dicari selama itu.

Achmad Bakrie menjabat tangan Alamsjah Ratuperwiranegara. Mantan Menko Kesra ini pula pernah 'memergoki' Achmad Bakrie sedang menjajakan potlot di Telukbetung (Foto Dok. Perpustakaan Bakrie) Achmad Bakrie menjabat tangan Alamsjah Ratuperwiranegara. Mantan Menko Kesra ini pula pernah 'memergoki' Achmad Bakrie sedang menjajakan potlot di Telukbetung (Foto Dok. Perpustakaan Bakrie)

"Belajar menghargai rezeki yang sudah didapatkan, jangan boros dengan menghambur-hamburkannya untuk hal-hal yang tidak perlu betul karena harta mesti didayagunakan untuk kemaslahatan umat, untuk kemajuan manusia, dan sebagai wujud kecintaan kepada bangsa dan negara"

"Cara orang menghargai kita, salah satu upaya adalah bagaimana kita mengelola harta. Tidak bisa dibayangkan, umpamanya kita mempunyai banyak harta, tetapi difoya-foyakan untuk berjudi dan main perempuan. Jadi, bagaimana orang bisa menghargai kita?"

“Saya punya kompas hidup, yakni agama,” ucapnya suatu waktu.

Manusia yang berakhlak, kalau disertai dengan harta, kaya raya, itu sangat ideal. Itulah mengapa, seandainya terpaksa harus memilih: harta atau akhlak, H. Achmad Bakrie lalu mengatakan, “Saya pilih akhlak meskipun hidup secukupnya saja,” ia tidak pernah “mengklaim” atau berani memproklamirkan, bahwa ia berhasil secara ideal memadukan akhlak dan harta. Artinya, berprestasi mencapai nilai itu dengan pandangan kasat mata.

H. Achmad Bakrie menjabat Kees de Jong, Mitra Asing dari Belanda. Kees memiliki Pengalaman menarik tentang kegemaran H. Achmad Bakrie atas Karya Sastra Belanda (Foto Dok. Pribadi Kees de Jong) H. Achmad Bakrie menjabat Kees de Jong, Mitra Asing dari Belanda. Kees memiliki Pengalaman menarik tentang kegemaran H. Achmad Bakrie atas Karya Sastra Belanda (Foto Dok. Pribadi Kees de Jong)

Bahwa kemudian malahan pengakuan dari orang banyak tertuju padanya dan dan apa yang mereka simpulkan H. Achmad Bakrie tampaknya berhasil mewujudkan perpaduan Akhlak dan Harta.

Figur H. Achmad Bakrie memang cenderung selalu berpembawaan low profile. Tidak menjadi keharusan, misalnya setelah ia kaya, lalu menghambur-hamburkan uang sekehendak hatinya. Ia belajar menghargai rezeki yang dilimpahkan Tuhan.

Memberi dengan tangan kanan, tanpa sepengetahuan tangan kiri. H. Achmad Bakrie dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang patuh dengan agama. Seperti umumnya masyarakat Lampung, pengenalan sopan santun akhlakul karimah, mereka dapatkan sejak dini.

Mengaji ke surau, atau bertukar kaji dengan orang yang lebih pandai. Bahkan untuk melengkapi rukun Islam kelima - naik haji - telah dilakukan datuknya (H. Menak Kemala Bukik) dengan naik perahu, berangkat ke Tanah Suci.

Di Menggala, tempat ia bersekolah di HIS, suasana keislaman cukup mengental dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Syarikat Islam (SI) telah berdiri di situ pada 1913. Menurut sebuah sumber di situlah pertama kali SI berdiri untuk Wilayah Keresidenan Lampung. Di tempat ini pula Achmad Bakrie mendapatkan dua dasar yang kuat: agama dan dagang.

H. Achmad Bakrie - Hj. Roosniah Bakrie Bersama Anak-Anaknya H. Achmad Bakrie - Hj. Roosniah Bakrie Bersama Anak-Anaknya

Mencontohkan akhlak ia lakukan terhadap keempat anak-anaknya, semasa mereka masih kecil-kecil. Tidak heran, bahkan hal yang sama berlanjut pada cucu-cucunya, misalnya dengan mengajak mereka salat di rumah atau ke masjid.

Sumber: Buku "Achmad Bakrie - Sebuah Potret Kerja Keras, Kejujuran, dan Keberhasilan" Syafruddin Pohan, dkk. Cetakan Kedua (e-book), 2011, PT Bakrie & Brothers Tbk, ISBN : 978-602-98628-0-5


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments