youtube channel

Channels

Haroah Digelar Untuk Syukuran HUT Kabupaten Muna Barat, Sultra ke-5

Haroah Digelar Untuk Syukuran HUT Kabupaten Muna Barat, Sultra ke-5

Haroah Digelar Untuk Syukuran HUT Kabupaten Muna Barat, Sultra ke-5 (Foto: ANTV/Dadang S - Agus P)

Ribuan warga dan tokoh adat di Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara, menghadiri tradisi Haroah atau syukuran hari jadi Kabupaten Muna Barat ke-5, yang digelar di Rumah Dinas Bupati Muna Barat, Sulawesi Tenggara, Rabu (9/10/2019) malam.

antvklik.com - Haroah adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat marginal Muslim Buton awalnya dilakukan mulai dari rumah-rumah warga, mesjid dan rumah pejabat.

Tradisi ini diyakini dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat muslim marginal Buton tentang pentingnya dakwah karena tradisi ini dilakukan pada setiap hari besar islam.

Tradisi Haroa juga dapat dijadikan media dakwah dalam masyarakat karena telah melestarikan nilai-nilai Islam dari generasi kegenerasi masyarakat muslim marginal Buton berikutnya, karena sampai saat ini tradisi Haroa masih dilakukan setiap memasuki hari-hari besar islam sehingga keberlangsungan ajaran islam beserta pemeluknya dari generasi kegenerasi berikutnya tidak terputus.

Haroah Digelar Untuk Syukuran HUT Kabupaten Muna Barat, Sultra ke-5 Haroah Digelar Untuk Syukuran HUT Kabupaten Muna Barat, Sultra ke-5 (Foto: ANTV/Dadang S - Agus P)

Tradisi Haroa dalam pemahaman masyarakat marginal buton telah memberikan manfaat yang sangat besar dalam pemahaman keagaman karena melalui acara ini orang yang tidak pernah mendengarkan ayat-ayat suci Al Qur'an dengan tradisi ini, dapat langsung mendengarkan ayat suci Al Qur’an yang di bacakan oleh Imam, lebe dan Modhi.

Demikian pula halnya dengan orang yang tidak pernah shalat, melalui tradisi Haroa masyarakat marginal buton dalam menghadiri haroa berpenampilan menarik seperti memakai kopiah, sarung dan baju muslim.

Haroah Biasanya Digelar saat Hari Besar Islam Haroah Biasanya Digelar saat Hari Besar Islam (Foto: ANTV/Dadang-Agus)

Oleh karena itu, melalui tradisi Haroa masyarakat muslim pesisir Buton dapat diajak untuk melestarikan nilai-nilai islam dari generasi-kegenerasi, sehingga keberlangsungan islam di Buton sampai saat ini masih terjaga dengan baik.
Selain digelar tradisi Harowah, ulang tahun ke 5 Kabupaten Muna Barat juga diisi dengan tradisi adu kuda atau kapogiraha adhara dalam tradisi Kabupaten Muna Barat.

Tradisi yang hanya ada di Kabupaten Muna Barat ini, sejatinya hanya digelar setiap perayaan nasional, seperti 17 Agustus dan hari jadi Kabupaten Muna Barat.

Adu kuda atau perkelahian kuda merupakan salah satu atraksi budaya warisan para raja-raja muna yang sudah turun-temurun dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara (Sultra). Tradisi adu kuda ini hanya satu-satunya di Indonesia, yang dalam bahasa lokal setempat disebut “kapogiraha adhara”.

Dua ekor kuda saat bertarung dalam atraksi kapogiraha adhara atau adu kuda di Kabupaten Muda, Sultra (Foto Istimewa) Dua ekor kuda saat bertarung dalam atraksi kapogiraha adhara atau adu kuda di Kabupaten Muda, Sultra (Foto: Istimewa)

Sejarah munculnya tradisi ini adalah, saat dahulu kala, ajang adu kuda hanya diselenggarakan dalam rangka menyambut dan menghormati tamu-tamu Kerajaan Muna. Namun saat ini, budaya itu juga ditampilkan saat menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, serta hajatan besar lainnya.

Biasanya perkelahian kuda dilangsungkan di daerah Tanah Lapang Wakantei, Desa Latugho, Kecamatan Lawa, di Kabupaten Muna Barat, Sultra dan di Kecamatan Lawa ini, tradisi adu kuda rutin dilakukan hampir setiap bulan sebagai bagian dari hiburan rakyat, sekaligus menarik wisatawan lokal dan asing.

Untuk menuju lokasi ini, jarak tempuh dari Kota Raha (ibu kota Kabupaten Muna) berkisar 20 kilometer melalui perjalanan darat, baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Kuda yang diadu adalah dua ekor kuda jantan dewasa yang memiliki ukuran besar yang sama. Selain itu, kuda aduan juga harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu sebelum diikutkan dalam pentas. Satu di antaranya kuda harus dilatih oleh sang pemilik atau pawang,agar kuda tersebut memiliki kemampuan tarung yang cakap.

Adu kuda biasanya dipimpin oleh seorang pawang yang mengendalikan jalannya pertarungan dengan memberi tugas komando kepada para pemegang tali kekang untuk memisahkan kuda yang saling menggigit dengan cara menarik tali kekangnya.

Hal ini dimaksud untuk meminimalisir luka pada kuda aduan. Demikian halnya jika kuda sudah tidak lagi berkelahi, maka pawang akan memerintahkan untuk menarik tali kekang masing-masing kuda.

Pertunjukan adu kuda dimulai dengan menampilkan kuda-kuda betina yang dipimpin seekor kuda jantan yang besar dan gagah. Kemudian kuda jantan asing akan berusaha mendekatkan dirinya ke kuda-kuda betina. Hal inilah yang memicu naluri kuda jantan untuk melindungi kelompok betina, sehingga terjadi pertarungan antara dua jantan tersebut.

Aturan yang diberlakukan sangat sederhana. Dalam pertarungan tersebut, kuda aduan hanya boleh saling beradu tendangan di udara. Nah, Adu tendangan inilah yang menjadi salah satu khas ciri dalam atraksi adu kuda.

Bagi kuda aduan yang mengalami luka-luka akibat pertarungan akan diobati dengan cara yang unik. Luka tersebut akan diobati dengan menggunakan karbon dari baterai bekas yang dicampurkan dengan minyak tanah.

Campuran karbon baterai dan minyak tanah tersebut dioleskan pada bagian luka sehingga mencegah luka mengeluarkan darah.

Dalam ajang adu kuda ini, tak jarang penonton yang antusias juga kerap terkena sambaran dari amukan kuda dalam pertarungan tersebut

Dadang Sungkawa-Agus Pardesi | Muna Barat, Sulawesi Tenggara


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments