youtube channel

Channels

Di Australia Utara, 160 Ribu Kerbau Indonesia Dianggap Hama

Di Australia Utara, 160 Ribu Kerbau Indonesia Dianggap Hama

Kerbau liar di Australia Utara dianggap hama (Foto: (NT Department of Land Resource Management)

Bagi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara, kerbau dianggap sebagai hewan bernilai tinggi karena dagingnya banyak dikonsumsi. Namun di Australia Utara sebaliknya, kerbau dianggap hama. Kerbau-kerbau itu asalnya dari Indonesia.

antvklik.com - Populasi kerbau liar di Australia Utara sudah meresahkan pemerintah dan warga setempat. Menurut data Territory Natural Resource Management (TNRM), untuk wilayah Top End saja diperkirakan setidaknya ada 161.250 ekor kerbau liar.

Top End hanya sebagian dari wilayah Northern Teritory atau Australia Utara, yaitu wilayah semenanjung yang mencakup Darwin dan Arnhem Land.

Kehadiran kerbau di Australia memiliki sejarah yang panjang, yaitu didatangkan pada awal abad ke-19 dari Indonesia yang saat itu masih dijajah Belanda. Umumnya, kerbau-kerbau didatangkan dari Pulau Timor, Pulau Kisar dan Jawa Barat.

Saat ini, pertumbuhan populasi kerbau liar yang tak terkendali telah menjadi masalah besar bagi sektor pertanian di Top End. Kerbau-kerbau liar ini telah menyebabkan kerusakan yang luas pada sumber air, menghancurkan lahan dan menyebarkan gulma.

Data jumlah kerbau liar ini dihitung oleh TNRM setelah mereka melakukan survei pada lahan seluas 225.000 kilometer persegi.

Menurut Susanne Casanova dari TNRM, pada wilayah yang tidak menerapkan pengendalian hewan liar, jumlah populasi kerbaunya cukup menonjol.

"Pada wilayah yang memiliki program pengendalian, kami mendapati tingkat kepadatan kerbau yang lebih rendah," jelas Casanova.

Sementara di wilayah tanpa pengendalian, katanya, tingkat kepadatan populasi kerbau sekira satu ekor per kilometer persegi.

Kerbau Liar Diekspor

Diperkirakan, peningkatan populasi kerbau liar mencapai 27.000 ekor per tahun, atau lebih banyak dari jumlah kerbau yang bisa ditangkap atau dimusnahkan.

Dalam lima tahun terakhir, ribuan ekor kerbau liar telah diekspor ke berbagai negara di Asia Tenggara. Sebagian besar kerbau yang diekspor merupakan hasil tangkapan para pemburu.

Selain mengekspor, upaya pemusnahan kerbau liar juga telah dilakukan, misalnya di Taman Nasional Kakadu dan tanah-tanah adat Aborigin. Namun demikian, populasi kerbau liar masih terus mengalami peningkatan.

Menurut ketua Dewan Industri Kerbau NT (NTBIC) Ian Bradford, permintaan kerbau dari Asia Tenggara tidak pernah bisa dipenuhi oleh pihaknya.

"Permintaan selalu ada, hanya masalah bagaimana memenuhinya," kata Bradford kepada ABC.

Perburuan kerbau liar di wilayah Arnhem Land untuk diekspor belum berhasil mengatasi pertumbuhan populasi hewan ini (Foto: ABC News)

Bradford menjelaskan, mayoritas kerbau liar ditemukan di tanah-tanah adat Aborigin, sehingga pihaknya terus berusaha meningkatkan upaya perburuan. Koordinasi dengan pihak terkait seperti pun terus dilakukan agar bisa meningkatkan jumlah kerbau liar yang bisa ditangkap.

"Hewan-hewan ini ada di sana, hanya perlu dikelola secara benar," ujarnya.

Saat ini, dengan kondisi curah hujan yang sangat rendah, diperkirakan akan berdampak pada populasi kerbau liar. Hal ini, menurut Susanne Casanova, tentunya akan menyebabkan kerbau-kerbau liar mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan.

"Mungkin saja jumlahnya tidak akan bertambah banyak tahun depan. Tapi kalau nanti curah hujannya lebih baik, jumlah kerbau liar akan bertambah lagi," jelasnya.

Pemasangan Pagar

Kekhawatiran mengenai banyaknya kerbau liar di Australia Utara cukup beralasan. Tahun lalu misalnya, pada sumber di daerah Bulman dan Weemol dipasang pagar sepanjang 1,3 kilometer guna mengatasi kerbau liar.

Hasilnya sangat menggembirakan karena vegetasi di sekitar wilayah yang dipagari ini sudah kembali pulih dibanding sebelumnya. Lahan-lahan basah di Australia Utara telah banyak yang terdegradasi akibat serbuan populasi kerbau liar.

Namun di sisi lain, kerbau-kerbau liar yang berhasil ditangkap telah menjadi sumber pendapatan bagi penduduk setempat.

Sumber: ABC Indonesia


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments