youtube channel

Channels

Curhat Dokter di Jakarta: Saya Gak Tau Badan Saya Ada Kumannya atau Tidak

Curhat Dokter di Jakarta: Saya Gak Tau Badan Saya Ada Kumannya atau Tidak

Tim medis sedang memantau pasien (Foto: Istimewa)

Para petugas medis kini berjibaku menangani pasien virus corona atau Covid-19 yang terus bertambah. Seorang dokter di Jakarta mengungkapkan curahan hatinya.

antvklik.com - Sebagai garda terdepan, para petugas medis, seperti dokter dan perawat harus memastikan pasien-pasien mereka dapat ditangani dengan baik.

Namun di sisi lain, mereka juga tetap harus memikirkan keselamatan diri masing-masing, apalagi dengan kondisi alat pelindung diri (APD) yang terbatas.

Hingga Selasa (24/3/2020) kemarin, sudah 44 petugas medis di Jakarta terpapar virus usai merawat pasien-pasien Covid-19.

Ada banyak hal yang harus dialami petugas medis menangani pasien Covid-19. mulai dari kesulitan mendapatkan APD hingga tidak bisa berkumpul dengan keluarga untuk keselamatan bersama.

Seperti seorang dokter bernama Alexander Randy yang bertugas di salah satu rumah sakit rujukan untuk menangani pasien Covid-19.

Pria yang akrab dipanggil Dokter Randy itu menceritakan ia tergolong baru. Dokter spesialis penyakit dalam itu baru menangani kasus corona selama dua minggu terakhir usai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjuk rumah sakit tempatnya bertugas sebagai rumah sakit khusus Covid-19.

"Fasilitas gedungnya kan masih baru, awalnya memang untuk pengembangan. Tapi berhubung dengan Covid-19 ini akhirnya di buka khusus untuk pasien Covid," katanya.

Memang fasilitasnya untuk kegawatdaruratan di rumah sakit itu masih dianggap kurang.

"Kita pun usahakan meminta bantuan dari Dinkes DKI," ujar Randy.

Sempat Sendirian

Pada minggu pertamanya, ia menjadi satu- satunya dokter spesialis penyakit dalam yang bertugas di rumah sakit itu dengan kondisi beberapa pasien dalam pengawasan (PDP) dan positif Covid-19.

Ini terjadi karena rekan seprofesi yang juga dokter spesialis penyakit dalam justru menjadi Orang Dalam Pengawasan (ODP).

Meski demikian Randy mengaku bersyukur, respon Dinas Kesehatan DKI Jakarta cukup cepat dalam menangani kondisi itu dengan menambahkan dokter perbantuan.

"Kemarin sempat seminggu saya sendiri (menangani pasien Covid-19). Lalu Dinkes DKI kasih perbantuan, jadi yang aktif sekarang dua (dokter)," ujar Randy.

Masalah belum selesai sampai di situ saja. Randy dan tenaga medis lainnya kesulitan mendapat alat pelindung diri, sesuai prosedur penanganan pasien Covid-19 dari Kementerian Kesehatan RI.

Dengan jumlah petugas yang cukup banyak baik bagi dokter dan perawat, dalam satu hari rumah sakit tempat Randy bekerja, sempat membatasi maksimal hanya 30 pasang APD untuk para petugas.

"APD itu berlapis jadi sebetulnya kita (petugas medis) gak nyaman. Karena itu kita batasi perawat lewat jangka waktu kerja dengan shift lebih pendek," katanya.

Padahal dengan shift pendek artinya membutuhkan APD yang lebih banyak.

Meski bantuan dari Pemprov DKI sudah tiba, namun hingga saat ini APD bagi para petugas belum sepenuhnya terjamin. Ini karena langkanya barang-barang medis itu terutama bagi petugas medis yang merawat pasien rawat jalan.

Jika ada yang menjual pun, harganya terlalu tinggi. Contohnya masker N95 yang memang diperuntukan untuk menyaring partikel berukuran kecil di udara.

"Masker N95 itu, sekarang sudah mahal banget. Kita masih berusaha nyari. Kalau ada yang mau nyumbang dan mau membantu kita berharap yang seperti itu ada," ujar Randy.

Bertahan di RS

Randy mengaku sudah mempersiapkan diri jika pasien terus bertambah. Skenario terburuknya adalah bertahan di rumah sakit alias tidak pulang ke rumah.

"Kalau sampai (COVID-19), banyak dan meluas kita (petugas medis) mau gak mau akan tetap tinggal di rumah sakit, kalau misalnya ini menjadi sebuah 'outbreak' yang besar," kata Randy.

Selain mempersiapkan diri untuk skenario terburuk, hal terberat yang harus dijalani para petugas medis adalah sulitnya bertemu dengan orang-orang terdekat seperti keluarga dan sahabat.

Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya memilih membatasi diri tidak bertemu dengan orang-orang yang dikasihinya. Hal ini untuk menjaga agar tidak ada potensi penyebaran penyakit.

"Karena saya dokter dan kerja di rumah sakit. Saya gak tau apakah di badan saya kumannya ada atau enggak. Jadi kita rata-rata petugas medis termasuk saya, jadi membatasi diri dengan orang lain," kata Randy.

Untungnya di tempat Randy bekerja saat ini, para petugas diberikan waktu berjaga yang tidak beruntun sehingga setidaknya mengurangi potensi mereka terpapar Covid-19.

Pria berusia 29 tahun itu pun mengungkapkan dirinya merasa beruntung karena dapat berkontribusi kepada masyarakat di masa-masa sulit akibat penyakit itu.

"Lewat hal ini peran dokter benar-benar dirasakan manfaatnya. Bagi saya sendiri, saya bisa bantu menenangkan keluarga, teman-teman saya," kata Randy.

Meski demikian, Randy berharap nantinya ada tenaga medis tambahan, baik dari Dinas Kesehatan maupun tenaga sukarelawan. Ini mengingat kapasitas sumber daya manusia saat ini belum sebanding dengan kapasitas ruang yang telah disiapkan.

Jangan Timbun Obat

Randy juga mengimbau masyarakat tidak menimbun obat-obatan seperti Chloroquin, Aluvia dan Azithromycin agar kelangkaan barang-barang medis seperti masker tidak terulang kembali.

Menurutnya, ketiga jenis obat itu tidak hanya untuk mengobati Covid-19, tapi juga untuk penderita gangguan autoimun.

"Kalau misalnya ada yang nimbun padahal yang masih perlu ya penderita lupus itu yang nyeri yang mereka rasakan itu tinggi. Ya para penderita lupus lah yang akan merasakan penderitaannya," kata Randy.

Randy berharap masyarakat Indonesia dapat menanggapi dengan bijak pandemi Covid-19 ini dengan mengikuti anjuran-anjuran pemerintah seperti menjaga jarak.

"Kami (petugas medis) sadari mereka (pasien) pasti cemas. Tapi yah mereka harus mengetahui ini pandemi dan ini adalah masalah bersama," katanya lagi.

Antara


icon featured

Related Article

icon featured

Popular

icon featured

Comments