youtube channel

Channels

Cerita WNI Persiapan Lebaran di Australia, Tamu Dibatasi, Salat Ied di Rumah

Cerita WNI Persiapan Lebaran di Australia, Tamu Dibatasi, Salat Ied di Rumah

Kota Melbourne, Australia (Foto: Reuters)

Warga negara Indonesia (WNI) di Australia bersiap menghadapi Hari Raya Idul Fitri. Namun lebaran kali ini menjadi tantangan tersendiri karena pandemi corona.

antvklik.com - Seorang WNI yang tinggal di Melbourne, Australia, sudah mengingatkan rekan-rekannya yang akan bersilaturahmi ke rumah saat lebaran nanti

"Mohon maaf ibu-ibu, usahakan datang on time ya," kata Riska.

Riska memang harus mengatur tamu lantaran adanya pembatasan sosial terkait Covid-19.

Beruntung di Melbourne saat ini sudah diperbolehkan untuk menerima tamu di dalam rumah, namun maksimal hingga lima orang untuk sekali bertamu.

Karena itu Riska harus menyesuaikan acara silaturahmi saat lebaran nanti dengan aturan pembatasan Covid-19.

"Kebetulan Riska baru tiga tahun di Ashburton (salah satu daerah di Melbourne). Tahun pertama iya, tahun kemarin enggak karena gantian sama teman. Terus tahun ini memang rencananya Riska mau adakan lebaran di rumah, tapi ternyata ada Covid," katanya.

Selain meminta datang tepat waktu, Riska juga memastikan agar tamu-tamunya datang di waktu yang berbeda-beda. Masing-masing dialokasikan waktu satu jam untuk sekali bertamu.

"Kalau tiba di rumah, jangan langsung ke pintu rumah saya, tunggu di mobil. Saya akan telepon apabila tamu-tamu sebelumnya sudah pulang," katanya.

Riska juga menyediakan hand sanitizer di depan pintu untuk para tamu-tamunya sebelum masuk rumah.

Di dalam rumah pun, aturan untuk menjaga jarak tetap diterapkan sebagaimana dianjurkan pemerintah setempat.

Salat Ied di Rumah

Sementara untuk salat Ied juga tidak dapat dilakukan di masjid atau lapangan. Ini karena di Australia ada pembatasan kegiatan keagamaan hingga 10 orang saja.

"Rencananya kami akan salat Idul Fitri di rumah sesuai dengan himbauan pemerintah. Semoga suami bisa siapkan khutbah juga," ujar Nila.

Wanita asal Sulawesi yang sudah menikah dengan warga Australia ini, selalu antusias menunggu lebaran karena sekaligus menjadi momen untuk mudik ke Indonesia.

"Tahun kemarin kami pulang ke Kendari," katanya.

Namun dengan pembatasan perjalanan, mereka hanya bisa merayakan lebaran di rumah saja.

"Biasanya kita merayakannya di ruang terbuka dan bertemu sanak saudara dan kolega," kata Nila.

Meski demikian, ia melihat sisi positif pembatasan Covid-19 karena Ramadan dan lebaran kali ini justru memperkuat ikatan antara anggota keluarganya.

"Suami saya mengatakan semenjak menjadi imam salat tarawih setiap malam secara rohaniah merasa lebih baik. Alhamdulillah," katanya.

Selama Ramadan, Nila saling mengirim makanan untuk berbuka puasa dengan kerabatnya.

"Keluarga yang di Indonesia juga merasakan tali silahturahmi semakin erat karena kami bisa saling mengirimkan hadiah dan doa untuk saling menguatkan," katanya.

Nila menambahkan, rumahnya tetap terbuka menerima tamu namun dibatasi hingga lima orang saja.

"Karena hanya boleh maksimal lima orang sekali bertamu, kami hanya mengundang teman satu keluarga untuk datang ke rumah," ujarnya.

Keluarga Fadia dan Gani Wiriadi juga bersiap menghadapi lebaran di tengah pandemi Covid-19.

"Kepinginnya kumpul-kumpul sama teman-teman dan saudara, tapi masih situasi Covid begini jadi belum bisa kumpul banyak orang," kata Fadia.

Mantan vokalis band Bunglon ini menjelaskan, keluarganya akan melaksanakan salat Idul Fitri di rumah dan menunggu kedatangan beberapa orang tamu.

Selain lontong sayur, ketupat dan opor ayam, Fadia juga menyiapkan es buah, "untuk pengganti cairan tubuh yang hilang selama Ramadan ini," katanya lagi.

Lebaran dengan Video Call

Sedangkan keluarga Ningsih Millane yang mengelola kelompok tari Sanggar Lestari di Melbourne akan bersilaturahmi saat lebaran dengan fasilitas video call.

"Kami tetap akan menerima tamu hingga lima orang namun akan merayakan lebaran dengan teman-teman Sanggar Lestari melalui Zoom," ujar Yana Gill.

Ia mengatakan kondisi ini memang menyedihkan, namun mereka justru merasa lebih reflektif sejak menggunakan Zoom untuk kegiatan buka puasa bersama selama Ramadan.

Setiap minggu, kata Yana, mereka saling bertemu secara online dan berbagi rasa syukur dalam menjalani masa-masa sulit selama pandemi Covid-19.

"Hal ini justru mendorong saya untuk menyapa keluarga dan teman-teman, memastikan semuanya baik-baik saja," katanya.

Ia menambahkan, para penari Sanggar Lestari diharapkan bisa datang untuk bersilaturahmi pada hari lebaran namun diatur agar tidak datang bersamaan.

"Jadi semua teman, khususnya yang tidak punya keluarga di sini, bisa tetap ikut merayakan lebaran," katanya lagi.

ABC Indonesia


icon featured

Related Article

icon featured

Popular

icon featured

Comments