youtube channel

Channels

Panas Dingin Suhu Politik Indonesia Saat Memilih Cawapres

Panas Dingin Suhu Politik Indonesia Saat Memilih Cawapres

Prabowo dan Jokowi bertemu di Istana (courtesy viva.co.id)

antvklik.com - - Manuver partai politik di negeri ini begitu dinamis bahkan mengejutkan dalam 24 jam terakhir. Di hari-hari terakhir masa pendaftaran calon dan wakil presiden, nama Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno tiba-tiba muncul menjadi calon kuat mendampingi Prabowo Subianto.

Padahal sebelumnya nama Sandi jarang disebut sebagai calon wakil presiden. Bahkan ijtima ulama juga tidak merekomendasikan pendiri Grup Saratoga ini. Hanya dua nama yang direkomendasikan, yaitu Ustaz Abdul Somad dan Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Aljufri.

Namun belakangan publik geger dengan kritikan pedas Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief. Lewat akun Twitternya pada Rabu malam (9/8), Andi Arief menyebut Prabowo Subianto sebagai jenderal kardus lantaran dianggap lebih menghargai uang dibanding komitmen bersama Partai Demokrat.

Seperti dilansir viva.co.id, Andi juga menyebut Sandiaga Uno sanggup membayar PAN dan PKS masing-masing Rp 500 miliar agar dirinya menjadi cawapres Prabowo.

Tudingan Andi Arief langsung bikin gerah Partai Gerindra, PKS dan PAN. Bahkan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono membalas Andi dengan menyebut Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY sebagai jenderal baper karena sering curhat di muka publik.

Parpol-parpol ini pantas saja gerah dengan tudingan Andi Arief. Undang-undang No.17 Tahun 2017 jelas melarang partai politik menerima imbalan dalam bentuk apa pun pada proses pencalonan presiden dan wakil presiden. Jika terbukti, bisa dilarang mengajukan calon pada periode berikutnya.

Masih lewat akun Twitternya, Andi juga mengungkap sepak terjang Sandi di belakang Prabowo:

Meski dikecam Andi, Sandi tidak balik merespon pedas . Ia memilih bergerak cepat mengurus masalah administrasi. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sudah menerbitkan surat tidak pailit kepada Sandiaga, Prabowo dan Joko Widodo. Surat keterangan tidak pailit diperlukan sebagai syarat pendaftaran calon presiden dan wakil presiden .

Tanpa meminta surat keterangan dari PN Jakpus pun, Sandi memang jauh dari kondisi pailit. Saat bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta pada 2017, hartanya saja paling banyak dibandingkan cagub dan cawagub lain.

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) pada 29 September 2016, total harta Sandi mencapai Rp 3,8 triliun dan 10,3 juta dollar AS. Bahkan sejak namanya disebut akan mendampingi Prabowo, saham Saratoga langsung naik. Sandiaga memang dikenal sebagai salah satu pendiri dan pemegang saham Grup Saratoga.

Besarnya kekayaan Sandi memang jadi iming-iming menarik dalam menghadapi pemilu presiden mendatang. Apalagi seperti dilansir Detikcom (25/7), Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah pernah menyebut Prabowo bingung tak punya uang.

Ditambah lagi pada Juni lalu, Prabowo meluncurkan program penggalangan dana masyarakat untuk menghadapi pilpres. Namun program yang bertajuk Galang Perjuangan, justru malah membuat publik bertanya-tanya soal kondisi keuangan mantan Danjen Kopassus itu.

Menurut Fahri, untuk kontenstasi politik sekelas pilpres dibutuhkan dana Rp 2,5 triliun -Rp 5 triliun untuk setiap pasangan. Uang sebesar itu dipakai untuk membayar saksi, tim sukses dan alokasi untuk konsultan. Belum lagi biaya iklan dan pembuatan atribut kampanye yang nilainya tak sedikit juga.


Jokowi Pilih Ma'ruf Amin

Sementara di kubu sebelah, Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin sebagai pendampingnya dalam pilpres mendatang. Penyebutan nama Ma'ruf Amin juga mengejutkan publik karena sebelumnya Mahfud MD yang dikira akan menjadi cawapres Jokowi.

Apalagi seperti dilansir Kompas, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu sudah mengurus surat keterangan tidak pernah sebagai terpidana ke Pengadilan Negeri Sleman.

Namun bagi Jokowi, Ma'ruf Amin yang bukan berasal dari parpol, sebagai opsi jalan tengah dalam menghadapi parpol-parpol pendukungnya yang ngotot mengajukan cawapres. Dan yang terpenting, sosok Ma'ruf Amin dapat menangkal isu-isu bernuansa SARA dan juga merangkul suara umat Islam lebih luas lagi.

Kini kubu Prabowo harus segera memastikan siapa yang akan menjadi cawapresnya. Apakah Sandi dengan modal kekayaan melimpah atau calon lain yang elektabilitasnya di atas Ma'ruf Amin. Yang jelas, memilih cawapres dari masing-masing kubu, sukses membuat suhu politik negeri ini panas dingin.

Kondisi ini juga masih dapat berubah hingga detik-detik terakhir pendaftaran capres cawapres pada 10 Agustus pukul 24.00 WIB. Bisa saja nanti muncul poros ketiga sebagai respon ketidakpuasan dengan calon yang ada. Apalagi dalam politik, tak ada kawan dan lawan yang abadi . Yang abadi hanyalah kepentingan semata.


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments