youtube channel

Channels

Miris, Akibat Kekeringan Bangkai Ikan Lele Bermunculan di Situ Rancabungur

Miris, Akibat Kekeringan Bangkai Ikan Lele Bermunculan di Situ Rancabungur

Miris, Akibat Kekeringan Bangkai Ikan Lele Bermunculan di Situ Rancabungur, Kelurahan Benteng, Kecamatan Kabupaten Ciamis, karena sejak sepekan terakhir ini benar-benar kering (Foto: Istimewa)

Miris, Situ Rancabungur di Kelurahan Benteng, Kabupaten Ciamis kering. Dasar embung yang selama ini menjadi andalan warga untuk pertanian yang sebelumnya masih menyisakan air, sejak sepekan ini berubah menjadi daratan hingga tanahnya kering dan retak-retak.

antvklik.com - - Jika mengunjungi Situ Rancabungur maka akan tampak beberapa sumur digali di bagian sisi embung. Sementara itu sebagian kecil dasar embung yang kering dimanfaatkan untuk menanam sayuran seperti bayam, sawi dan kangkung. Akibat kekurangan air tanaman tampak kurus.

Akibat kering, bagian dasar tanah situ sudah retak-retak lebar dan dalam. Terlihat bangkai lele berukuran besar yang yang tinggal separo sudah mengering. Beberapa bocah bermain sepak bola di bagian situ yang lebih tinggi. Lokasi tersebut sejak dua bulan terakhir ini berubah menjadi daratan.

"Sepekan ini sudah kering kerontang, Saya terpaksa menggali sumur sederhana sedalam dua meter, masih ada sedikit air. Melihat kondisi paling hanya bertahan dua minggu lagi sumur ini juga akan kering,” tutur Dede (42) warga Cimandala yang masih berharap tanamannya tetap tumbuh mekipun tidak subur.

Dia mengungkapkan beberapa tahun lalu air Situ atau embung Rancabungur juga dimnafaatkan untuk mengairi persawahan di sekitar Kelurahan Benteng dan sekitarnya. Akan tetapi seiring dengan hilangnya mata air, saat permukaan air cepat menyusut. Saat ini Rancabungur hanya menjadi penampung air hujan.

"Dulu tidak pernah kering, meski kemarau panjang. Akan tetapi setelah mata air tertimbun tanah, kemarau sebentar saja sudah kering. Pernah dilakukan penggalian hingga dua kali, akan tetapi mata air tidak ditemukan, mungkin penggaliannya kurang dalam,” ujarnya.

Dampak kemarau saat ini krisis air bersih di tatar galuh Ciamis juga semakin luas. Setidaknya ada 11 dari 27 kecamatan di Ciamis yang sudah mengalami kesulitan air bersih. Dari 11 kecamatan, enam kecamatan di antaranya (13 desa) sudah krisis air bersih.

Membanatu kesulitan air bersih Badan Penggulangan Bencana Daerah (BPDB) Ciamis hingga saat ini sudah menyalurkan atau distribusi air bersih sebanyak 232.000 liter, untuk tiga kecamatan yakni Pamarican, Cijeungjing dan Ciamis. Bantuan tersebut disalurkan untuk 3.806 KK (11.582 jiwa). Sedangkan kecamatan lainnya yakni Kecamatan Cimaragas, Cikoneng dan Cidolog, belum mendapatkan distribusi air.

Sementara itu hasil rapat koordinasi penanggulangan kekeringan yang berlangsung di Kantor BPBD Ciamis, diantaranya menyangkut mekanisme distribusi bantuan air bersih. Selain itu juga membuka kegiatan Sedekah Air’ untuk dunia usaha, ormas mauoun elemen masyarakat lainnya.

Agar bantuan air dapat merata, tutur Kepala Bidang Kedaruratan dan Logisitk BPBD Ciamis Ani Supiani, disepakati penyaluran bantuan memalui satu pintu yakni BPBD. Langkah tersbeut untuk men gantisipasi agar bantuan air bersih merata.

"Kami sangat terbuka untuk dunia usaha maupun elemen masyarakat yang hendak membanytu air bersih, silakan saja.namun demikian agar lebih terarah serta demi pemerataan, tetap harus berkoordinasi dengan BPBD. Kami akan mengarahkan lokasinya,” tutur Ani.

Dia mengatakan bantuan air bersih oleh BPBD disalurkan untuk daerah yang sebelumnya telah mengajukan permohonan. Hal tersbeut sekaligus menunjukkan bahwa wilayahnya memang mengalami krisis air bersih.

Ani juga mengatakan menghadapi kemarau, pihak Kecamatan Pamarican sudah membuka Posko Antisipasi dan Penanggulangan kekeringan lahan.

"Kecamatan Pamarican memang termasuk wilayah yang mengalami krisis air bersih cukup parah. Tidak hanya air bersih saja, banyak lahan sawah juga kekeringan,” pungkasnya.

(Dari Berbagai Sumber)


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments