youtube channel

Channels

Mengenang B.J. Habibie, Penguasaan Ilmu Harus Didasari Iman dan Takwa Kepada Allah

Mengenang B.J. Habibie, Penguasaan Ilmu Harus Didasari Iman dan Takwa Kepada Allah

Mengenang B.J. Habibie, Penguasaan Ilmu Harus Didasari Iman dan Takwa Kepada Allah (Foto: Biografi B.J Habibie)

antvklik.com - Presiden ke-3 Republik Indonesia B.J. Habibie, merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie yang berprofesi sebagai ahli pertanian berasal dari etnis Gorontalo dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo dari etnis Jawa.

Alwi Abdul Jalil Habibie (Ayah dari B.J. Habibie) memiliki marga "Habibie", salah satu marga asli dalam struktur sosial Pohala'a (Kerajaan dan Kekeluargaan) di Gorontalo. Sementara itu, R.A. Tuti Marini Puspowardojo (Ibu dari B.J. Habibie) merupakan anak seorang dokter spesialis mata di Jogjakarta, dan ayahnya yang bernama Puspowardjojo bertugas sebagai pemilik sekolah.

Marga Habibie dicatat secara historis berasal dari wilayah Kabila, sebuah daerah di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo dan dari silsilah keluarga, kakek dari B.J. Habibie merupakan seorang pemuka agama, anggota majelis peradilan agama serta salah satu pemangku adat Gorontalo yang tersohor pada saat itu.

Keluarga besar Habibie di Gorontalo terkenal gemar beternak sapi, memiliki kuda dalam jumlah yang banyak, serta memiliki perkebunan kopi.
Sewaktu kecil, Habibie pernah berkunjung ke Gorontalo untuk mengikuti proses khitanan dan upacara adat yang dilakukan sesuai syariat islam dan adat istiadat Gorontalo.

Selepas SMA, B. J. Habibie kemudian belajar tentang keilmuan teknik mesin di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954. Pada 1955-1965, Habibie melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingenieur pada 1960 dan gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.

Kecerdasannya lah yang memvawa B.J. Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, meski pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Soeharto.

Habibie kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998.
Gebrakan B. J. Habibie saat menjabat Menristek diawalinya dengan keinginannya untuk mengimplementasikan "Visi Indonesia".

Menurut Habibie, lompatan-lompatan Indonesia dalam "Visi Indonesia" bertumpu pada riset dan teknologi, khususnya pula dalam industri strategis yang dikelola oleh PT. IPTN, PINDAD, dan PT. PAL, dengan target, Indonesia sebagai negara agraris dapat melompat langsung menjadi negara Industri dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara itu, ketika menjabat sebagai Menristek, Habibie juga terpilih sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang pertama. Habibie terpilih secara aklamasi menjadi Ketua ICMI pada tanggal 7 Desember 1990.

Puncak karir Habibie terjadi pada tahun 1998, dimana saat itu ia diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia (21 Mei 1998 - 20 Oktober 1999), setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden ke-7 (menjabat sejak 14 Maret 1998 hingga 21 Mei 1998) dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto.

Menilik terpilihnya B.J Habibie yang terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesai (ICMI), maka sejatinya ada peran penting dari pemikiran sorang Habibie yang teknokrat menjadi seorang cendekiawan muslim.

Menurut Andi Makmur Makka dalam bukunya 'Mr. Crack Dari Parepare, Dari Ilmuwan ke Negarawan sampai Minandito' menyampaikan.

"Sulit mengatakan dengan pasti, apakah benar kata Leon Edel yang menulis Writing Lives, bahwa beberapa pengarang menulis tentang seseorang karena ia kagum dan 'jatuh cinta' kepada subjeknya. Namun, yang tidak dapat saya bantah bahwa tokoh yang saya tulis di sini adalah orang yang sudah bertahun-tahun saya kenal dan setiap hari bekerja dekat dengannya. Karena itu, sulit pula untuk memilah-milah unsur subjektivitas di antara keinginan memberikan objektivitas."

Andi Makka Sejak 1978 mulai mengikuti Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, karena saat itu, ia menjadi karyawan Habibie di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Selama mengikuti Habibie, Makka merasa apa yang diucapkan, diorasikan, dan dipidatokan oleh suami dari Hasri Ainun Besari itu sangat inspiratif. Ia masih ingat bagaimana kesannya kepada Habibie dulu.

"Tahun 1978-1979, ketika menjabat sebagai Menristek, dia bicara soal teknologi. Belum ada orang bicara teknologi (saat itu), saya tergugah," ujar Makka.

Penyebutan Mr. Crack sendiri berdasarkan temuan B.J Habibie saat bekerja di Boeing.

“Yaitu bagaimana perlambatan retak apabila kapal bergoyang. Nah, itu dia selesaikan, tak ada yang selesaikan itu. Itulah yang dipakai Boeing, dipakai Airbus. Terutama Airbus ya karena dia bekerja di Jerman," ungkapnya.

Para tokoh agama terutama agama Islam, merasakan bagaimana kiprah seorang B.J Habibie terhadap Islam yang begitu luar biasa dalam memadukan teknologi dan Islam, dan sebagai salah satu contoh adalah saat peluncuran pesawat N250 karya anak bangsa PT. Nurtanio.

Pesawat Legendaris N250 karya BJ Habibie dipamerkan pada acara Bandung Air Show 2017 di kawasan Lanud Husein Sastranegara, Kota Bandung.

"Sambil meneteskan air mata, kepada kawan yunior saya, Prof. Dr. Bahtiar Effendy, saya berkata, 'saya melihat yang terbang mengapung di udara itu bukan pesawat, melainkan Islam'," kata Fachry Ali, Tokoh ICMI.

Lebih jauh Fachry menjelaskan apa maksud dari menerbangkan "Islam" yang ia katakan kepada Bahtiar Effendy itu. Pada 1995, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) baru berumur setengah dasawarsa. Kemunculannya pada 1990 telah membelah "kekuatan politik" nasionalisme Islam dan nasionalisme sekuler.

"Walau saya tak suka dengan frasa ini, namun penggolongan bersifat dikotomis ini bisa memberikan kita pegangan untuk melihat apa arti keberhasilan peluncuran pesawat N-250 itu dalam konteks 'politik budaya' kala itu," jelas Fachry.

Walau hanya sekadar "akomodasi non-politik", kata Fachry, kemunculan kekuatan politik Islam Nasionalis awal 1990-an itu telah menimbulkan reaksi kaum nasionalis sekuler. Itulah yang menyebabkan terjadinya pembelahan politik nasional.

Menurut Fachry, dalam keterbelahan politik tersebut, Habibie tampil memberi "isi" atas kebangkitan kelompok nasionalis Islam dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia mengungkapkan, hal itu tentu sangat berbeda dengan gambaran kelompok "Islam" masa lalu. Islam masa lalu ditandai keterbelakangan dalam bidang sosial-ekonomi, terlebih dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Dalam konteks inilah saya menghayati melesatnya pesawat N-250 pada 10 Agustus 1995 itu bukanlah sekadar benda yang terbang, melainkan 'Islam'," tutup Fachry.

Dalam satu kesempatan B.J Habibie berujar bahwa penguasaan ilmu dan teknologi bukan hak prerogatif suatu kaum, tapi hak semua manusia.

Meski penguasaan ilmu adalah hak semua manusia, menurut Habibie, penguasaan ilmu harus didasari iman dan takwa kepada Allah.
Tokoh Cerdas yang Islami bisa memuliakan Islam dengan kecerdasannya.

Dari Berbagai Sumber


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments