youtube channel

Channels

Cerita Kampung Jagal di Yogyakarta Jelang Hari Raya Idul Adha

Cerita Kampung Jagal di Yogyakarta Jelang Hari Raya Idul Adha

Cerita Kampung Jagal di Yogyakarta Jelang Hari Raya Idul Adha (Foto: Ari Wibowo)

Boleh percaya, boleh tidak. Seiring waktu, Desa Sukoreno, Yogyakarta terkenal sebagai kampung jagal. Bagaimana kisahnya?

- Boleh percaya, boleh juga tidak. Hampir semua pria dewasa di Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta memegang parang. Seiring waktu desa Sukoreno terkenal sebagai kampung jagal, umumnya memegang parang.

antvklik.com - Menyembelih dan menguliti hewan kurban memang tidak bisa sembarangan dan tidak semua orang bisa melakukannya. Tukang jagal hewan kurban atau tukang sembelih yang berada di daerah ini memang terkenal sangat mahir dalam memotong hewan kurban sesuai dengan tata cara pemotongan hewan yang benar.

Tak heran, di Desa Sukoreno acap kali menjadi rujukan dan pilihan warga Yogyakarta saat membutuhkan jasa tukang jagal musiman terutama untuk menyembelih hewan kurban mereka menjelang hari raya kurban.

Seperti di wilayah Pedukuhan Banggan dan Blimbing, Desa Sukoreno ini setidaknya lebih dari seratus warganya tercatat memiliki keahlian khusus sebagai tukang jagal musiman.

Kepiawaian mereka dalam menyembelih dan menguliti hewan kurban hingga tuntas telah mendapat pengakuan warga. Tidak hanya masyarakat Kulonprogo saja. Masyarakat Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta hingga Purworejo, sangat mengakui kemahiran tukang jagal asal Desa Sukoreno.

Salah satunya adalah Suwartono mulai belajar sebagai tukang jagal di usia kepala tiga. Awalnya, mulai dari sekedar membantu persiapan pemotongan hewan, hingga akhirnya Suwartono bisa memotong hewan ternaknya sendiri.

Dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun, pria yang kesehariannya berprofesi sebagai pedagang padi dan beras ini mampu memotong seekor sapi kurang dari satu jam dan hasil potongnya terbilang sangat istimewa, tidak ada daging hewan yang tersisa, hasil potongan hanya menyisakan tulang belulang saja.

“tak ada persiapan khusus yang dilakukannya sebelum memotong sapi kecuali mengasah parang secara rutin setiap hari agar tajam. Parang sepanjang sekitar 30 centimeter berbahan baja menjadi senjata utama saya,” tutur Suwartono, penjagal hewan kurban asal Desa Sukoreno.

Dalam sehari Suwartono bersama temannya bisa meraup hasil jutaan rupiah dengan keahliannya sebagai tukang jagal hewan.

“setidaknya 5 hingga 10 sapi bisa saya robohkan dan mendapat upah 400 ribu persapi,” ungkapnya.

Untuk memotong hewan sapi pun ada teknik dan tata caranya tersendiri. Umumnya, hewan sapi tidak mudah untuk dirobohkan dan disembelih.

Berkat ketekunan dan kesabarannya dalam belajar memotong hewan kurban, Suwartono akhirnya terampil dalam merobohkan dan menyemblih sapi yang akan dipotongnya.

“Pertama menali bagian leher dengan tali simpul mati, namun tidak sampai mengunci leher. Selanjutnya, tali tersebut dimasukan ke bawah leher untuk membuat simpul di bawah perut yang sebelumnya dikalungkan punggung sapi hingga 2 kali. lalu diteruskan menali di kedua kaki dengan simpul mengunci kaki, dan akhirnya sapipun akan roboh dengan sendirinya,” jelasnya.

Ari Wibowo | Yogyakarta


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments