youtube channel

Channels

Melawan Kanker: Jangan Sembunyikan Kankermu!

Melawan Kanker: Jangan Sembunyikan Kankermu!

Melawan Kanker: Jangan Sembunyikan Kankermu!

Kanker menghantui banyak orang. Panyakit ini bisa menimpa siapa saja. Dalam bulan Ramadhan ini dua pesohor Julia Perez dan Yana Zein meninggal setelah berjuang melawan kanker. Apa sikap yang harus dilakukan ketika seseorang terkena kanker? Bagaimana yang harus dilakukan untuk melawan kanker? Atas seijin Endri Kurniati, seorang penyintas kanker, tulisan ini dibagi untuk pemirsa Antv. Berikut tulisan Endri di blognya: https://berandaendri.wordpress.com/2016/09/30/jangan-sembunyikan-kankermu/

***

www.antvklik.com- Selesai acara bedah buku Kehidupan Kedua pada Dies Natalis Sosiologi Fisip Unair, Desember 2015, seorang ibu, peserta bedah buku, mendatangi saya. Ibu lewat tengah baya itu memperkenalkan diri sebagai penyandang kanker payudara, seperti saya. Secara singkat, ia menceritakan efek kemo terhadap tubuhnya.

Ia sangat menderita akibat kemo. Beberapa giginya tanggal dengan mudah pada saat kemoterapi. Meski saya juga mengalami efek samping kemo yang tidak ringan, saya bergidik membayangkannya dan ingin memeluknya saat itu. Tapi saya jaim, he-he-he… Sehingga berusaha tampak tenang dan mendengarkan penuturannya sambil teringat penjelasan dokter Iskandar Ali yang melakukan kemoterapi terhadap saya.

Efek kemoterapi memang bermacam-macam. “Sangat personal,” kata dokter Iskandar. Yang terjadi pada ibu itu, tidak sama dengan efek kemoterapi yang dirasakan orang lain. Banyak yang terasa lebih ringan, banyak pula yang terasa lebih berat.

Menjelang akhir perbincangan yang sebentar saat itu, ibu itu bertanya, “Apa Mbak enggak malu setelah operasi? Bagaimana tanggapan teman-teman?”

“Tidak, saya enggak malu. Teman-teman menyayangi saya dan mereka memperlakukan saya dengan sangat baik.”

Ibu itu terdiam.

Saya melanjutkan, “Teman-teman datang dari mana-mana untuk menengok saya. Bahkan yang bertahun-tahun tidak bertemu.”

“Tidak ada yang perlu disembunyikan. Sakit, memilih pengobatan dan mengetahui risiko dari pengobatan itu bukan hal yang tabu. Jadi, tak perlu malu.” Saya bicara sangat cerewet.

Jawaban ini mungkin membuat perbincangan jadi membosankan. Saya jadi seperti sedang ceramah, sehingga ngobrol ringan itu tak lama.

***

Saya menduga, dorongan utama Ibu itu mendatangi saya seusai acara bukan soal kemoterapi. Tapi mengenai sakit dan malu setelah menjalani operasi.

Mungkin ibu itu heran. Kok ada orang sakit dan menjadi cacat tubuh karena pengobatan sakitnya, tapi malah “siaran” ke mana-mana menceritakan sakitnya.

Sakit memang menimbulkan banyak efek psikologis. Sakit yang terasa dan diketahui juga menimbulkan banyak sikap. Di antaranya:

  • Menolak diagnosis.
  • Tidak mengakui penyakit sebagai masalah sehingga menolak berobat
  • Menganggapnya sebagai aib sehingga menyembunyikannya
  • Mengakui dirinya sakit, tapi berpura-pura tidak ada masalah
  • Mengakui sakitnya sebagai masalah, tapi takut berobat
  • Menolak berobat secara tepat dan maksimal
  • Marah dan menyalahkan pihak lain, Tuhan misalnya
  • Mengakui sakit namun diam, hanya mengharapkan keajaiban
  • menerima, berusaha berobat sebaik-baiknya, dan terbuka

Dan banyak lagi varian sikap lainnya.

Sikap pasien terhadap sakit yang dideritanya sangat berpengaruh kepada keputusan selanjutnya. Sikap terhadap pasien akan menghantar pasien terhadap pengobatan selanjutnya dan upayanya menuju kesembuhan. Keputusan memilih cara pengobatan adalah hasil “kesepakatan” pasien dengan dirinya sendiri.

“Kesepakatan” itu merupakan paduan dari informasi yang diperolehnya tentang sakit dan penyakitnya, sikapnya terhadap sakit, tentang pengobatan, serta keberaniannya menanggung risiko pengobatan.

Untuk bisa sampai pada keputusan memilih pengobatan dengan cara A, B, C, atau lainnya, seseorang harus melalui beberapa fase. Orang normal yang tahu risiko penyakit ini akan menjalani masa syok, kaget, dan terguncang karena divonis kanker. Jika ia orang awam seperti saya, pasti akan kebingungan divonis kanker. Saya bingung tentang vonis kanker itu. Apa itu kanker, apa penyebabnya, bagaimana dia bisa bersarang di tubuh saya, mengapa dia memilih tubuh saya?

Jika sudah tahu risikonya, risiko mati itu, siapa yang tak bakal terguncang?

Menghadapi penyakit yang mematikan, dalam keadaan syok, kaget, bingung, galau, terguncang, dan takut, penyandang kanker harus mengambil keputusan segera dan tak boleh salah. Telat sedikit, “bisa lain lagi ceritanya.” Begitu dokter Ario Djatmiko yang merawat saya menjelaskan.

Meleset dalam pengambilan keputusan pengobatan, maut ancamannya. Harus cepat dan tepat karena yang dihadapi adalah kanker yang bisa membunuh bila terlambat ditangani. Kanker bukan cuma flu atau bisul yang bisa sembuh sendiri.

Oleh karena itu, sikap berpura-pura tidak ada masalah, mendiamkan dan bahkan menyembunyikan penyakit atau hanya berharap keajaiban sembuh tanpa mengusahakan cara berobat yang tepat, bisa berakibat amat sangat fatal sekali. Karena kanker tak mungkin sembuh sendiri.

Kanker terlalu kuat untuk diharapkan bisa sembuh atau hilang sendiri. Mungkin memang benar ada keajaiban jika Tuhan berkehendak. Tapi keajaiban tidak datang setiap waktu kepada semua orang.

Oleh karena terlalu kuat untuk diharapkan bisa sembuh atau hilang sendiri, melawan kanker, seoarang penyandang kanker memerlukan dukungan besar dan tak henti-henti. Keinginan dan usaha kuat dari diri sendiri, dukungan keluarga, lingkungan, dan bahkan negara melalui sistem layanan kesehatan yang baik. Dukungan ini diperlukan sejak dia mengetahui ada benjolan di tubuhnya, ketika vonis, saat menjalani serangkaian pengobatan yang panjang dan lama, hingga pascapengobatan.

Dukungan terus-menerus diperlukan karena sejatinya, penderita kanker tidak pernah sembuh sebenar-benarnya sembuh. Kanker adalah bahaya laten yang bisa muncul kapan saja jika memungkinkan dan selalu menjadi ancaman maut bagi penyandangnya.

Dukungan akan sulit didapat jika penyandang kanker menyembunyikan kankernya. Bersikap terbuka akan lebih baik. ****


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments