youtube channel

Channels

Film Super 30 Bukan Tentang Superhero Lho, Tapi Kisah Nyata Kelas Anand Kumar yang Luar Biasa

Film Super 30 Bukan Tentang Superhero Lho, Tapi Kisah Nyata Kelas Anand Kumar yang Luar Biasa

Film Super 30 Bukan Tentang Superhero Lho, Tapi Kisah Nyata Kelas Anand Kumar yang Luar Biasa (Foto: Istimewa)

Bagi penggemar film Bollywood, awas jangan terkecoh dengan judul Super 30, karena film tersebut bukan tentang superhero. Lalu Film tentang apa?

antvklik.com - Bagi pencinta Bollywood atau fans Hrithik Roshan pasti sudah tak asing lagi dengan istilah 'Super 30' yang menjadi judul film tersebut dan Super 30 sejatinya adalah sebuah kelas. Namun bukan kelas biasa, tapi ruangan yang telah mengubah kehidupan banyak orang.

Perubahan bukan lewat kekuatan super power, tapi lewat pendidikan dan berkisah bukan soal pahlawan melawan monster, tapi kisah inspirasi luar biasa tentang seorang guru dengan murid-muridnya.

Film Super 30 diangkat dari kisah nyata guru dan matematikawan asal Patna, Bihar, India. Anand Kumar namanya. Kelas ini membuat banyak decak kagum.

Dimulai dari 2002 sampai 2018, dari 480 anak-anak yang les di sini, 422 di antaranya berhasil lulus ujian masuk kampus Indian Institutes of Technology (IIT). IIT adalah kampus teknik paling prestisus di India.

Film ini menggambarkan kehidupan sang guru dan 30 murid pertamanya. Dalam sebuah wawancara, Anand menyebutkan apa yang difilmkan hampir 90 persen merupakan kisah hidupnya yang digambarkan dengan baik oleh sutradara Vikas Bahl. Film Bollywood ini dirilis pertama kali di India, 12 Juli 2019.

Film dimulai dari kacamata muridnya. Ia naik podium menyampaikan bagaimana pendidikan bisa mengubah hidupnya, di mana ia dulunya miskin. Ia bercerita bagaimana gurunya, Anand Kumar, menjadi pahlawan bagi hidupnya.
Film mengambil alur mundur. Menampilkan adegan Anand Kumar muda sedang menerima medali atas prestasinya.

Anand sejatinya dulu adalah siswa miskin, tapi punya tekad untuk belajar keras dan bakat besar di bidang matematika. Setiap minggunya, ia naik kereta api ke kota lain untuk menuju ke perpustakaan.

Di perpustakan kota tersebut, ia belajar menyelesaikan persoalan matematika dari jurnal asing. Suatu hari, ia ketahuan dan diusir dari perpustakaan. Seorang pesuruh mengatakan, jika dia ingin membaca jurnal gratis, maka cobalah menulis di situ.

Anand mengikuti saran tersebut. Ia mencoba memecahkan persoalan matematika dan berhasil. Dibantu ayahnya yang tukang pos, ia mengirim hasilnya itu.

Tulisannya dimuat dan Anand mendapatkan surat panggilan untuk sekolah di Cambridge. Keluarganya bahagia, anak mereka satu-satunya yang berhasil mendapat undangan di kota.

Untung tak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Kegembiaraan itu tidak berlangsung lama. Keluarga miskin itu tidak punya cukup uang untuk biaya perjalanan anaknya.

Sang ayah terus mencari cara sampai bertemu dengan para pejabat. Tidak ada yang peduli, ayahnya meninggal dalam kesedihan. Harapan Anand sekolah hanya tinggal kenangan.

Ia kemudian bekerja menjual papad keliling untuk menghidupi keluarganya. Papad adalah kerupuk yang sering dimakan sebagai kawan nasi ataupun cemilan di India. Suatu hari, ia mendapatkan tawaran mengajar di tempat kursus ternama oleh Lallan Singh seorang asisten pejabat lokal. Kehidupan ekonomi keluarga membaik.

Suatu hari, Anand melihat beberapa anak miskin tidak mendapat pendidikan yang layak. Meninggalkan kursus tersebut, ia mulai membuka kelas untuk mereka yang tidak mampu. Karena mereka yang miskin harusnya juga mempunyai kesempatan belajar yang sama. Hal ini membuat Lallan Singh marah, segala cara dilakukan untuk menjatuhkan citra Anand.

Kelas dimulai dengan 30 orang murid dari beragam latar belakang. Anand mengajar dengan cara yang menyenangkan, mudah, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Keluarga mendukung penuh. Ibunya memasak untuk para murid dan adiknya, Pranav, membantu sebanyak ia bisa. Semua biaya pendidikan termasuk tempat tinggal dan makan gratis. Gubuk itu menjadi tempat belajar yang menyenangkan.

Kekurangan fasilitas di kelas dan ancaman demi ancaman lain tidak membuatnya menyerah. Namun keluarga mereka kembali kekurangan uang. Muridnya mulai kelaparan, nilai awal mereka tidak memuaskan. Anand sekali lagi berhadapan dengan kemiskinan.

Film Super 30 ini mendapatkan kritik positif dari pengamat film. Juga sukses secara komersil. Aktor Hrithik Roshan berhasil memainkan peran sebagai Anand dengan sangat baik. Begitu juga dengan artis lain. Vikas Bahl, sang sutradara mengambil beberapa adegan film ini di kota di wilayah Rajastan dan meciptakan set kecil di sana.
Video

Musik untuk film ditangani oleh Ajay dan Atul. Soundtrack dan musik core film memberi warna jatuh bangunnya perjuangan tokoh. Udit Narayan dan pemilik suara emas Shreya Ghoshal menyumbang nada untuk lagu ‘Jugraafiya’. Lagu ini berhasil berada di tangga atas radio-radio di India.

Di kehidupan nyata, Anand sendiri senang film ini membawa pesan positif tentang pendidikan. Dia pernah membantu Amitabh Bachchan dan Saif Ali Khan dalam mempersiapkan karakter mereka sebagai guru matematika untuk film Aarakshan.

Kisah nyata Super 30 memang sudah menginspirasi sejak tahun 2009 saat Discovery Channel memfilmkan proses belajar di sini. Pada 2010, majalah Time menempatkan Super 30 sebagai salah satu dari 30 list terbaik Asia.

Barrack Obama juga memuji sekolah nonformal ini yang terbaik di negaranya.
Majalah Newsweek memasukannya dalam empat sekolah paling inovatif di dunia. Karenanya, Anand juga mendapatkan beberapa penghargaan. Ia diundang berbicara di kampus top dunia.

Namun ada yang tidak berubah, ia menolak bantuan pemerintah dan lebih suka dengan gayanya sendiri. Ia dan keluarga masih tetap menerima serangan dan ancaman bahkan pencemaran nama baik di media.

Pada sebuah wawancara Anand menegaskan ia akan terus mengajar muridnya. “Hanya pendidikan satu-satunya jalan keluar dari keterpurukan.” Anda penggemar Bollywood dan peduli pendidikan? Film ini wajib tonton


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments