youtube channel

Channels

Video Viral Keluarga Cium Jenazah Korban Virus Corona, Ini Faktanya

Video Viral Keluarga Cium Jenazah Korban Virus Corona, Ini Faktanya

Video Viral Keluarga Cium Jenazah Korban Virus Corona, Ini Faktanya (Foto Tangkap Layar Video Instagram)

Video keluarga cium jenazah korban virus corona Covid-19 asal Kabupaten Kolaka beredar viral di media sosial instagram, salah satunya yang diunggah oleh akun @lambeonlen.

antvklik.com - Dalam video yang diunggah itu diketahui bahwa sebelumnya, perempuan berusia 32 tahun itu adalah Pasien dalam Pengawasan (PDP) Corona Covid-19 dan meninggal di RS Bahteramas Sulawesi Tenggara, Senin (23/3/2020).

Dalam video yang sudah ditonton 24,482 itu, tangis histeris menyambut jenazah wanita yang belakangan diketahui berinisial R itu ketika sampai di rumah duka.

View this post on Instagram

VID sc: tw/ kharimakharima1 Pasien yg mninggal di kendari. Astagfirullah .. keluarga mngamuk dan ttp mmbawa mayat kerumah..pdhal udah di bungkus plastik udah stiril ,plastiknya dibuka seolah tdk perduli dgn peringatan dri pihak RS.... Akhirnya 1 kampung itu skg terancam jdi ODP smua...sttus A1. . . . . UPDATE: SULAWESI TENGGARA, KOMPAS.TV - Keluarga dari pasien PDP corona yang meninggal dunia di Kolaka, Sulawesi Tenggara, nekat membawa jenazah pulang ke rumah untuk dimakamkan. Peristiwa ini terjadi saat pihak keluarga nekat membawa pulang jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) corona dari rumah sakit. Keluarga membawa pulang jenazah yang masih terbungkus dengan plastik menggunakan mobil pribadi, bukan ambulans. Setibanya di rumah duka, sejumlah sanak saudara dan kerabat telah menanti jenazah yang dibawa dari rumah sakit. Rumah Sakit Bahteramas Kendari, membenarkan adanya satu pasien dalam pemantauan atau PDP meninggal dunia. Sebelum meninggal, pasien itu dirawat selama dua hari di Rumah Sakit Bahteramas Sulawesi Tenggara. PDP corona yang berusia 34 tahun merupakan warga Kolaka. pasien telah menjalani uji swab. Namun hasilnya belum keluar saat meninggal dunia.

A post shared by Lambe Onlen (@lambeonlen) on

Jenazah PDP itu dibawa dari RS Bahteramas menuju Kabupaten Kolaka dengan menggunakan mobil pribadi milik anggota keluarganya.

Sebelum jenazah dipulangkan, perawat dan dokter rumah sakit telah melaksanakan tindakan antisipasi dengan memutus potensi virus menyebar.

Dokter melilit jenazah yang memiliki riwayat perjalanan umrah itu, dengan plastik bening sebelum dibawa oleh pihak keluarga.

Direktur RS Bahteramas Kendari, dr Sjarif Subijakto menyatakan bahwa pasien tersebut sudah berusaha ditangani sesuai SOP. Namun, keluarga menolak diberikan peti dan diantar oleh mobil ambulans saat jenazah dibawa pulang ke rumah.

"Yaa terpaksa kami buat surat pernyataan, kalau ada apa-apa nantinya, keluarga yang menanggung akibatnya karena rumah sakit sudah memaksa," kata Sjarif.

Tidak sampai disitu, dalam video lainnya, ternyata lilitan plastik dan lakban pada jenazah dilepas pihak keluarga sebelum dimakamkan. Beberapa kerabatnya, terlihat mencium dan memeluk korban di atas pembaringan.

Dokter forensik Sulawesi Tenggara, dr Mauluddin menyatakan, apa yang dilakukan pihak rumah sakit sudah sesuai prosedur. Yang berbahaya adalah, ketika jenazah dilepas lilitan lakbannya dan tidak langsung dimakamkan.

"Mudah-mudahan bukan positif virus Corona. Namun, perlu diketahui lakban plastik itu berfungsi memutus potensi rantai penularan virus terhadap orang lain di sekeliling," ujar dr Mauluddin, Selasa (24/3/2020).

Menurut Kepala Satuan Gugus Tugas Penanganan Virus Corona Covid-19 Sulawesi Tenggara, La Ode Rabiul Awal dia tidak mau menduga-duga soal kondisi pasien. Saat dinyatakan meninggal dunia, dia masuk suspect corona.

Setelah menjalani isolasi selama 3 hari di RSUD Bahteramas sajak 21 Maret 2020, dia tidak tertolong dan dinyatakan meninggal.

La Ode menyatakan, pihaknya menunggu hasil uji lab swab yang dikirim ke Laboratorium Litbangkes Kementerian Kesehatan di Jakarta.

Selain pasien, pihak rumah sakit juga mengambil sampel swab suaminya. Alasannya, suaminya melakukan kontak dengan pasien selama 3 hari berada di rumah sakit.

"Hari Selasa (24/3/2020), dikirim ke Litbangkes, hasilnya tiga sampai lima hari kedepan," ujar dr La Ode Rabiul Awal, Rabu (25/3/2020) lalu.

La Ode juga menyayangkan, sikap keluarga yang membuka lilitan lakban pasien. Sebab, orang-orang yang menyentuh pasien, otomatis berstatus sebagai ODP.

"Jika hasil keluar dan dinyatakan positif, maka orang-orang yang pernah bersentuhan dengan jenazah disarankan mengisolasi diri," ujar La Ode Rabiul Awal.

Sementara itu, hingga Rabu (25/3/2020), sudah ada 2.049 orang di Sulawesi Tenggara berstatus ODP Corona Covid-19.

Pasien yang selesai dipantau, 48 orang. Sedangkan PDP berjumlah 15 orang dan meninggal 1 orang dan yang dinyatakan sehat kemudian pulang ke rumah, 4 orang.


icon featured

Related Article

icon featured

Popular

icon featured

Comments