youtube channel

Channels

Pengungsi Gunung Agung Mencapai 81.152 Orang, ACT Buka Dapur Umum

Pengungsi Gunung Agung Mencapai 81.152 Orang, ACT Buka Dapur Umum

Pengungsi Gunung Agung Mencapai 81.152 Orang, ACT Buka Dapur Umum

antvklik.com - - ACTNews, KARANGASEM - Dari kejauhan, Gunung Agung tampak gagah berdiri. Puncaknya menjulang setinggi 3.031 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dilihat dari jauh, posisi puncak Gunung Agung yang juga merupakan pucuk dari kawah vulkanik aktif itu berada di sebelah barat dari Kabupaten Karangasem, atau di sebelah utara dari Kota Denpasar.

Hari-hari terakhir, puncak Gunung Agung yang gagah itu sedang membawa kabar tak enak, memicu ketakutan, memulai pengungsian yang luar biasa.

Sudah sejak pekan kemarin, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian ESDM meningkatkan status Gunung Agung menjadi Awas. Artinya, di dalam dapur vulkanik Gunung Agung diperkirakan sedang terjadi puncak dari aktivitas sebuah gunung api.

Siluet Gunung Agung di pulau Bali terlihat dari pinggiran pantai Ampenan, Mataram, NTB, Kamis (21/9). Status aktivitas Gunung Agung ditingkatkan dari level "waspada" menjadi "siaga" pada Senin (18/9) malam. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/aww/17.

Kabar terakhir yang berhasil dihimpun Tim Aksi Cepat Tanggap langsung dari Kabupaten Karangasem, data PVMBG menyatakan, Selasa kemarin (26/9) Gunung Agung sempat mengeluarkan semburan uap air dan asap putih melambung dari puncak kawah setinggi 200 meter.

Seperti perumpamaan di dalam ceret air yang mendidih, uap air yang melonjak ke atas berarti sedang terjadi pemanasan air di bagian dasar dari dapur vulkanik Gunung Agung. Uap air ini pun menandakan bahwa aktivitas magma semakin meningkat.

Mengutip pernyataan Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM Gede Suantika, bahwa keluarnya uap air itu adalah indikasi magma sudah semakin ke atas untuk mendobrak katup penutup kepundan yang berada di mulut kawah Gunung Agung. Selain itu, aktivitas vulkanik yang masif itu pun ditandai dengan semakin banyaknya jumlah kegempaan vulkanik, dengan getaran yang makin kuat dan makin banyak.

Pos Pengamatan Gunung Agung melaporkan pada Senin (25/9), gempa vulkanik dangkal jumlahnya mencapai 102 kali, dengan amplitudo 2-4 mm dan durasi 10-15 detik. Gemba tersebut terjadi selama [eriode pengamatan pukul 24.00 sampai 06.00 WITA.

Namun demikian, selama Gunung Agung ditetapkan dalam status Awas sejak beberapa hari kemarin, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa hingga Selasa malam kemarin (26/9) belum terdeteksi sama sekali abu vulkanik yang menyembur dari kawah Gunung Agung.

Pengungsi melonjak sampai 81.152 Orang, ACT siapkan dapur umum

Sejak peningkatan status Awas Gunung Agung beberapa hari lalu, radius aman berada 9 kilometer dari puncak kawah. Artinya, lingkaran zona merah ditetapkan berada 9 kilometer jauhnya dari kawah Gunung Agung. Dalam lingkaran 9 kilometer tidak boleh ada aktivitas sama sekali di dalam zona merah, impaknya kondisi ini menimbulkan gelombang pengungsi yang luar biasa.

Tim Disaster Emergency and Relief Management (DERM) ACT yang berada di posko Kabupaten Karangasem menyatakan jumlah pengungsi hari Selasa kemarin (26/9) sudah di atas 81 ribu orang.

“Data ini didapat dari hitungan Pusdalops BPBD Bali, jumlah pengungsi tercatat menembus angka 81.152 orang yang tersebar di lebih dari 377 titik pengungsi di 9 kabupaten/kota di Bali,” kata Kusmayadi, pimpinan Tim DERM ACT untuk erupsi Gunung Agung.

Kusmayadi juga mengatakan, pos pengungsian terbanyak berada di Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Klungkung. “Jumlah pengungsi yang mencapai ribuan jiwa dalam tiap posko membuat kebutuhan logistik sangat-sangat dibutuhkan. Kendala utama di setiap posko pengungsian minim dapur umum dan sarana sanitasi,” tutur Kusmayadi terhubung via telepon langsung dari Kabupaten Karangasem.

Mengantisipasi kebutuhan pengungsi yang tak tercukupi, Tim ACT dibantu lebih dari 40 relawan gabungan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) memprioritaskan distribusi logistik ke sejumlah posko pengungsian.

“Senin kemarin, distribusi logistik berupa beras, air mineral, popok bayi kita bawa ke Posko Induk Kecamatan Rendang. Lalu peralatan masak dapur umum kita siapkan di Desa Menanga. Sementara itu, distribusi makanan siap saji kita bawa ke Desa Pekraman, Pasuban,” ujar Kusmayadi.

Dari Desa Menanga di sebelah Barat Daya Gunung Agung, ACT siapkan dapur umum yang mampu menyiapkan ribuan paket makanan setiap harinya untuk para pengungsi di posko sekitar radius zona merah Gunung Agung.

“Mulai hari Selasa kemarin (26/9) aktivitas dapur umum ACT sudah berjalan efektif. Tiga kali sehari kita siapkan ribuan paket makanan siap saji di dapur umum untuk kebutuhan pengungsi yang diprioritaskan di Posko Balai Banjar, Desa Menanga, Kabupaten Karangasem. Di Pos Balai Banjar, jumlah pengungsi sekitar 500 orang,” kata Kusmayadi.

Kusmayadi juga mengisahkan, Selasa Sore kemarin, ketika puluhan relawan sedang menyiapkan makan malam di dapur umum ACT, gempa vulkanik cukup kuat sempat membuat panik warga pengungsian di Desa Menanga.

Namun demikian, tak berselang lama setelah kepanikan mereda, salah seorang warga, Wayan (52), datang ke dapur umum dengan mata berkaca-kaca

“Saya terharu di sini ada tim ACT yang rela jauh datang dari Jawa untuk buka dapur umum di sini. Sebelum ada dapur, kami berhari-hari hanya bisa makan mie instan seadanya,” keluh Wayan menggunakan Bahasa Bali pada relawan lokal MRI Bali.

Sampai cerita ini diunggah, Kusmayadi mengatakan kebutuhan mendesak pengungsi di posko ACT Desa Menanga meliputi logistik beras, alas tidur, selimut, air mineral, air bersih, pakaian dalam, pampers, pembalut, susu, personal hygiene, peralatan dapur umum, dan obat-obatan


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments