youtube channel

Channels

Bocoran Dokumen Bagaimana China Tentukan Nasib Warga Muslim Uighur

Bocoran Dokumen Bagaimana China Tentukan Nasib Warga Muslim Uighur

Kamp re-edukasi di Xinjiang, China (Foto: Reuters)

antvklik.com - Sebuah bocoran dokumen mengungkap bagaimana Pemerintah China tentukan nasib warga muslim Uighur Dokumen itu berisi rincian data pribadi lebih dari 3.000 orang dari wilayah Xinjiang.

Dalam dokumen yang diperoleh BBC terdiri dari 137 halaman yang berisi tabel-tabel yang memerinci aktifitas setiap individu. Seperti seberapa mereka sembahyang, cara mereka berpakaian, siapa saja yang dihubungi dan bagaimana perilaku anggota keluarga mereka.

Sebelummya, Pemerintah China menyatakan, Xinjiang menerapkan beragam kebijakan yang menghormati dan menjamin kebebasan beragama rakyatnya.

China juga menekankan, program pelatihan vokasi di Xinjiang guna memerangi terorisme dan ekstremisme agama. Ditambahkan, hanya orang-orang yang dijatuhi hukuman pidana, termasuk terorisme atau ekstremisme agama, yang "dididik" di tempat tersebut.

Sementara dalam dokumen yang berasal dari sumber yang sama di dalam Xinjiang, membocorkan serangkaian materi sangat sensitif yang dipublikasikan tahun lalu. Sumber itu mendapatkannya dengan menanggung risiko pribadi.

Keaslian Dokumen

Adrian Zenz yang merupakan pakar kebijakan China terhadap Xinjiang serta peneliti senior dari Victims of Communism Memorial Foundation di Washington meyakini bocoran dokumen tersebut asli.

"Dokumen ini luar biasa, menghadirkan bukti terkuat yang pernah saya lihat bahwa Beijing secara aktif mempersekusi dan menghukum keyakinan agama tradisional," katanya.

Salah satu kamp yang disebut dalam dokumen itu adalah Pusat Pelatihan Nomor Empat.

Zens mengidentifikasinya sebagai salah satu tempat yang dikunjungi BBC sebagai bagian dari tur yang digelar Pemerintah China pada Mei 2019.

Dokumen ini memuat rincian investigasi terhadap 311 individu utama, antara lain latar belakang mereka, kebiasaan beragama mereka, serta hubungan dengan ratusan kerabat, tetangga, dan teman.

Kesimpulan dalam kolom terakhir menentukan apakah orang-orang yang berada di tahanan seharusnya tetap ditahan atau dibebaskan. Ditentukan pula apakah mereka yang sebelumnya dibebaskan perlu kembali ditahan.

Dokumen ini menjadi bukti yang tampaknya bertolak belakang dengan klaim China bahwa kamp-kamp ini adalah semata-semata sekolah.

Dokumen Karakax List (Foto: BBC)

Tujuan Sistem Penahanan

Zen mengatakan, dokumen itu juga memberikan pemahaman mendalam mengenai tujuan sejati sistem penahanan di sana.

Menurutnya, dokumen itu membantu para pembuat keputusan menjabarkan mekanisme administrasi mikro dan ideologi kamp-kamp penahanan.

Sebagai contoh, pada baris 598 memuat kasus seorang perempuan 38 tahun dengan nama depan Helchem. Ia dikirim ke kamp re-edukasi dengan alasan utama diketahui memakai jilbab beberapa tahun lalu.

Contoh kasus lainnya adalah sejumlah individu ditahan karena mengajukan pembuatan paspor. Ini dinilai sebagai bukti, niat bepergian ke luar negeri dipandang sebagai bukti radikalisasi di Xinjiang.

Pada baris 66, seorang pria 34 tahun dengan nama depan Memettohti dikirim ke kamp karena mengajukan pembuatan paspor, meski ditulis "praktis tidak menimbulkan risiko".

Selanjutnya, ada seorang pria 28 tahun dengan nama depan Nurmemet pada baris 239. Dia dikirim ke kamp karena mengklik tautan web dan secara tidak sengaja membuka web asing.

Dalam catatan dokumen itu, Nurmemet digambarkan sebagai individu yang perilakunya tidak bermasalah.

Catatan Latar Belakang

Seluruh 311 individu itu berasal dari Distrik Karakax, dekat Kota Hotan di Xinjiang Selatan, yang lebih dari 90 persen populasinya merupakan etnis Uighur.

Dokumen itu juga tercantum, di samping setiap kerabat atau teman yang terdaftar, ada catatan tersendiri mengenai latar belakang mereka. Seperti seberapa sering mereka sembahyang, apakah mereka pernah dimasukkan kamp dan apakah mereka pernah ke luar negeri.

Bahkan, judul dokumen memperjelas bahwa semua individu utama yang terdaftar punya kerabat yang tinggal di luar negeri, sebuah kategori yang sejak lama dianggap sebagai indikator kunci mengenai potensi ketidaksetiaan sehingga hampir pasti yang bersangkutan dimasukkan ke kamp.

Pada baris 179, 315, dan 345 ada serangkaian penilaian terhadap seorang pria berusia 65 tahun, Yusup.

Catatannya menunjukkan bahwa kedua putrinya memakai jilbab dan burka pada 2014 dan 2015. Putranya punya kedekatan dengan politik Islam, dan keluarganya punya "sentimen anti-Han yang jelas".

Kesimpulan untuk Yusup adalah dia harus melanjutkan pelatihan. Ini merupakan contoh orang yang dimasukkan ke kamp bukan karena tindakannya dan pandangannya, tapi karena keluarga mereka.

Informasi yang dihimpun oleh tim-tim desa juga dikirim ke sistem data Xinjiang, yaitu Integrated Joint Operations Platform (IJOP).

IJOP berisi berbagai catatan pengawasan dan penertiban di Xinjiang, diambil dari jaringan luas kamera serta perangkat mata-mata pada ponsel yang harus diunduh setiap warga.

Kecerdasan Buatan

Menurut Zenz, IJOP dapat menggunakan kecerdasan buatannya (AI) untuk menyilangkan lapisan-lapisan data, kemudian mengirim notifikasi ke tim-tim desa yang akan menyelidiki individu tertentu.

Pria yang kedapatan secara tidak sengaja membuka web asing amat mungkin dimasukkan ke dalam kamp lantaran kerja IJOP.

Kendati demikian, tidak diperlukan teknologi canggih dalam banyak kasus, lantaran ada sejumlah orang ditangkap dengan alasan tidak dapat dipercaya dalam dokumen. Istilah itu dipakai sebagai satu-satunya alasan untuk menjebloskan 88 individu ke dalam kamp.

Zenz menilai konsep itu adalah bukti bahwa sistem tersebut dirancang bukan terhadap mereka yang telah melakukan kejahatan, melainkan untuk seluruh lapisan masyarakat yang dipandang berpotensi mencurigakan.

Banyak kasus individu di dalam Karakax List dengan alasan penahanannya gabungan perihal agama, paspor, keluarga, punya kontak di luar negeri atau sekadar tidak dapat dipercaya.

Alasan yang paling sering dipakai untuk menahan orang adalah pelanggaran undang-undang keluarga berencana di China.

Pandangan aparat China, punya terlalu banyak anak adalah tanda paling jelas bahwa masyarakat Uighur menempatkan kesetiaan mereka pada budaya dan tradisi lebih besar dibanding patuh pada negara.

Namun Karakax List tidak punya cap atau tanda otentik bahwa dokumen ini buatan pemerintah sehingga sulit diverifikasi.

Diperkirakan dokumen ini diloloskan dari Xinjiang sebelum akhir Juni 2019, bersama dengan berkas-berkas sensitif lainnya.

Berkas-berkas itu kemudian berada di tangan seorang eksis Uighur yang tidak disebutkan identitasnya. Olehnya, berkas-berkas tersebut diserahkan, kecuali dokumen ini.

Karakax List

Ketika rangkaian pertama dipublikasikan tahun lalu, Karakax List lantas diteruskan ke seorang Uighur lainnya yang tinggal di Amsterdam, Belanda bernama Asiye Abdulaheb.

Seperti dengan semua orang Uighur di luar negeri, Abdulaheb mengaku hilang kontak dengan keluarganya di Xinjiang sejak kebijakan penahanan dimulai.

Ia merasa tidak punya pilihan selain merilis dokumen itu, meneruskanya ke organisasi media internasional.

"Tentu saja saya khawatir dengan keselamatan keluarga dan teman saya," katanya. "Namun jika semua orang tetap bungkam karena mereka ingin melindungi diri dan keluarga mereka, maka kita tidak akan pernah mencegah kejahatan ini dilakukan," katanya.

Pada akhir tahun lalu China mengumumkan semua orang di dalam "pusat pelatihan vokasi" telah lulus". Namun Beijing juga mengindikasikan beberapa tempat bakal tetap buka untuk siswa-siswa baru atas "kehendak sendiri para siswa".

Sementara hampir 90 persen dari 311 individu dalam Karakax List disebut sudah atau akan dilepaskan setelah setahun penuh di kamp-kamp.

Mayoritas Muslim, etnis Uighur secara penampilan, bahasa, dan budaya lebih dekat dengan masyarakat Asia Tengah ketimbang etnis mayoritas China, Han.

Selama beberapa dekade terakhir, kedatangan jutaan orang etnis Han ke Xinjiang menimbulkan ketegangan etnis. Ini menambah kesan masyarakat Uighur jadi terpinggirkan secara ekonomi.

Rangkaian ketidakpuasan ini kerap diwujudkan dalam aksi kekerasan sporadis, yang kemudian mendorong aparat bertindak represif.

Akibatnya, etnis Uighur menjadi target, bersama dengan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang, seperti etnik Kazakh and Kyrgyz. untuk ditempatkan di kamp re-edukasi.

Sejauh ini belum ada respon Pemerintah China atas beredarnya dokumen yang disebut Zen dengan nama Karakax List.

BBC Indonesia


icon featured

Popular

icon featured

Comments