youtube channel

Channels

Piala Dunia Paralayang Digelar di Manado

Piala Dunia Paralayang Digelar di Manado

Piala Dunia Paralayang Digelar di Manado

- Atlet Tim Nasional (timnas) bayangan Indonesia paralayang sebanyak 18 pilot (sebutan bagi atlit olahraga dirgantara); 8 putri dan 10 putra, siap membuktikan bahwa sasaran empat medali emas Asian Games 18 tahun depan bukanlah sesuatu yang muluk, namun sanggup mereka capai.

antvklik.com - Seri I Piala Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang (PGAWC/Para Gliding Accuracy World Cup) yang digelar di Taman Hutan Raya H.V. Worang, Gunung Tumpa, Manado, Sulawesi Utara, 17-19 Maret 2017,menjadi ujian perdana mereka. Sebanyak 112 pilot, 18 diantaranya putri, asal 12 negara sudah mendaftarkan diri. Selain calon lawan kuat Indonesia di AG ’18; Thailand, Cina dan Jepang, terdapat Belarus, Boznia & Herzegovina, Filipina, Hong Kong, Inggris, Kanada, Korea Selatan, Serbia dan Singapura. Tuan rumah Indonesia, selain menurunkan timnas bayangan, menyertakan 58 pilot lagi. Kejuaraan yang bersifat perorangan, tidak membatasi peserta tiap negara.

Seri I PGAWC Manado 2017 memperebutkan hadiah 750 Euro bagi juara pertama Kelas Umum dan Beregu dan 500 Euro bagi peringkat kedua, serta 350 Euro bagi peringkat ketiga. Sedang di Kelas Putri, juara pertama mendapatkan 500 Euro, runner up 350 Euro dan juara ketiga 250 Euro.

Diakui sebagai surga olahraga udara dunia oleh Presiden Federasi Aeronautika Internasional (FAI), induk olahraga dirgantara dunia, Frits Brink, Indonesia kembali mendapat kepercayaan menggelar Seri PGAWC.

Setelah Painan (Sumatera Barat) pada 2013, Puncak (Jawa Barat/2014), Bukit Timbis, Bali (2015) dan Are Guling, Lombok (Nusa Tenggara Barat/2016). Pengurus Federasi Aero Sport Indonesia Daerah (FASIDa) Sulawesi Utara bekerjasama dengan Perkumpulan Paralayang Minahasa, setelah mengajukan penawaran tahun lalu, berhasil meyakinkan pengurus PGAWC, bahwa Manado layak menggelar kejuaraan Paralayang tingkat dunia.

Juara Bertahan Absen

Namun sangat disayangkan, para juara bertahan Seri PGAWC 2016, Goran Djurkovic (Serbia/putera) dan Marketa Tomaskova (Rep. Ceko/putri) tidak akan berlaga di Manado. Melalui surat elektronik kepada Tagor Siagian, staf Humas Pengurus Besar Federasi Aero Sport Indonesia (PB FASI), Goran mengatakan sibuk sebagai anggota panitia pelaksana Seri II PGAWC di Serbia, 7-9 April mendatang. Sedangkan Marketa mengaku tidak mendapat pendukung dana, mengingat biaya transportasi pesawat pergi dan pulang ke Manado dari Eropa cukup tinggi. Sebenarnya Goran selalu antusias melawan para pilot Indonesia di kandang mereka. “Saya pasti akan mewaspadai para pilot tuan rumah. Karena seharusnya mereka sudah sangat menguasai lokasi lomba. Saya sudah siap dikeroyok mereka. Pastinya mereka akan banyak sekali, seperti di Lombok tahun lalu. Tidak sebanyak kalau seri di Eropa,” ujarnya. Dia menyindir para pilot Indonesia yang jarang mengikuti seri di Eropa akibat lebih mengandalkan dana pribadi.

Apalagi tahun ini seri ketiga di Kanada, yang biaya transportasinya sangat besar dan waktu perjalanan panjang, melelahkan. Lebih baik dana yang diberikan Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima), badan di bawah Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang khusus menangani atlit berpotensi, dimanfaatkan timnas bayangan AG ’18 mengikuti kejuaraan-kejuaraan lokal di Eropa dan Asia, baik nomor Ketepatan Mendarat maupun Lintas Alam. Selain Goran, pilot putra yang tetap harus diwaspadai adalah duo Serbia; Matjaz Sluga dan Matjaz Feraric serta Ma Qiang (Tiongkok). Mengenai peluangnya mempertahankan gelar tahun ini, Goran yang tidak menyangka bakal menjadi juara tahun lalu, cukup bahagia bila masuk 5 Besar pada Seri PGAWC 2017.

Bagaimana dengan pilot putra masa depan Indonesia, Aris Afriansyah? Dia adalah salah satu dari begitu banyak bibit penerbang muda yang bagus. Beberapa diantaranya beruntung bisa masuk timnas bayangan AG ’18 & WPAC ’17. Menempati Tiga Besar Kelas Umum Seri PGAWC 2016, ia ingin meraih prestasi lebih tinggi pada Seri 2017. Dihubungi Minggu siang (12/3), Aris yang sedang bersiap ke Manado mengikuti Seri I PGAWC 2017 berujar yakin, “Kalau bisa juara satu. Sudah saatnya pilot putra Indonesia berjaya di PGAWC!” Aris, 23, keponakan Dede Supratman, Juara Kelas Umum Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang Antar Negara (WPAC) 2015, selain masuk timnas bayangan AG ’18, juga menempati peringkat teratas pemilihan timnas bayangan WPAC Albania 2017, Agustus mendatang. Aris tidak hanya menyisihkan pilot-pilot senior generasi emas Thomas Widyananto dan kawan-kawan, yang merajai SEA Games 2011, dengan memborong 10 dari 12 medali emas yang diperebutkan, tapi juga pamannya sendiri.

Berbeda dengan Goran, Marketa, 33 tahun. sudah tak sabar ingin mempertahankan gelarnya. “Setiap tahun banyak pilot muda berbakat bermunculan. Itu yang membuat PGAWC menantang, persaingan makin panas. Tapi saya sudah siap menghadapi mereka! Saya tidak boleh lengah sedikitpun, meski sebagai juara bertahan,” ucapnya bersemangat. Sudah berlatih Paralayang sejak usia 18, dia bekerja sebagai perancang interior. Sehingga tidak terikat jam kantor dan mudah mengikuti berbagai kejuaraan.

Tak boleh hanya mewaspadai Marketa, para pilot putri Indonesia juga harus tetap menjaga agar perolehan nilai mereka setiap ronde/penerbangan selalu di atas duo Serbia; Tamara Kostic dan Milica Marinkovic dan duo Thailand; Nunnapat Phuchong dan pelajar SLTA, Chantika Chaisanuk. Mereka secara bergantian pasti naik podium juara, meski jarang menginjak titik nol. Kuncinya konsistensi, tiap ronde meraih nilai di bawah 5,00, apalagi jika berhasil menginjak titik nol, nilainya 00,00.

Pola perhitungan nilai akhir discard round (ronde coret) dimana nilai terburuk satu ronde setiap pilot tidak dihitung, dapat membantu mendongkrak peringkat akhir pilot. Sehingga jika seorang pilot meraih nilai 500 di sebuah ronde, bukan berarti pupus harapan menjadi juara, jika lawan terdekatnya terkena diskwalifikasi dan meraih nilai 1000.

Seri PGAWC 2017 berlangsung sebanyak 4 seri; Manado, Serbia, Kanada dan Slovenia hingga September. Super Final digelar Oktober, khusus peringkat 10 Besar dari Asia, Eropa dan tuanrumah. Berarti hanya 30 pilot putrid dan putra mendapat kesempatan memperbaiki peringkat akhir dan merebut gelar juara.


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments