youtube channel

Channels

Menristek/Kepala BRIN : Jangan Cepat Puas Hanya Miliki Pabrik

Menristek/Kepala BRIN : Jangan Cepat Puas Hanya Miliki Pabrik

Menristek : Jangan Cepat Puas Hanya Miliki Pabrik (Foto: Istimewa)

Menristek/Kepala BRIN Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro mendorong perusahaan manufaktur agar tidak cepat puas dengan hanya memiliki pabrik. Menurut nya, industri manufaktur di Indonesia perlu rutin menciptakan inovasi produk baru melalui penelitian dan pengembangan ( research and development ).

antvklik.com - “Indonesia dapat menjadi negara maju pada 2045, apabila rutin menciptakan inovasi produk baru melalui penelitian dan pengembangan (research and development ),” kata Bambang dalam rilis resminya saat Peluncuran Buku Leaders of a New Planet dari Daya Lima di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Menteri Bambang menjelaskan, keunggulan perusahaan manufaktur dan pabrik terletak pada menciptakan nilai tambah, bukan pada memproduksi barang.

"Penciptaan nilai tambah yang terbesar adalah pada produk baru. Research and development yang mengarah pada produk baru itu adalah pencipta nilai tambah terbesar. Perkiraannya 70 persen nilai tambah manufaktur ada di situ. Yang namanya proses produksi itu hanya 20 persen. Yang 10 persen di marketing dan distribusi," ungkap Bambang .

Ia menambahkan, semua negara maju selalu memiliki sektor manufaktur yang tidak lelah mengeluarkan modal untuk mengembangkan produk baru.

"Kenapa negara seperti Amerika, belakangan Jepang dan Korea menjadi negara industri yang maju, karena mereka bermain di 70 persen. Mereka merasa bahwa revolusi industri ini tidak cukup dimaknai hanya yang 20 persen, yang hanya bisa memproduksi. Mereka sudah maju selangkah pada 'product development', pada pengembangan produk," ungkap Bambang.

Pemerintah mendorong sektor manufaktur di Indonesia untuk terus berinovasi dan menciptakan produk baru melalui dua langkah, yaitu insentif berupa 'tax deduction' atau pemotongan pajak hingga 300 persen dan kesempatan 'networking' antara industri dengan peneliti dan inovator.

Pemerintah juga berjanji akan memfasilitasi bertemunya industri dengan peneliti dan inovator (Academician, Business, and Government), karena saat Indonesia sudah terdepan dalam paten di Asia Tenggara, banyak paten tersebut belum terserap oleh industri karena industri tidak mengikuti perkembangan paten inovatif tersebut.

"Penelitinya kadang terlalu fokus dengan bidangnya, sehingga masih jauh untuk berpikir hasil risetnya ini nanti menjadi apa. Kadang mereka masih belum bisa membayangkan. Kita harus ciptakan komunikasi, makanya 'networking' ini penting. Salah satunya 'networking' antara inovator dan peneliti dengan dunia usaha dan itu memang pemerintah yang harus fasilitasi,"pungkas Bambang. (red)


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments