youtube channel

Channels

Benarkah Kapal Nelayan China Berperan Sebagai Kapal Militer?

Benarkah Kapal Nelayan China Berperan Sebagai Kapal Militer?

Kapal-kapal nelayan China dikawal oleh kapal patroli penjaga pantai mereka di perairan Natuna (Foto: Dok.Bakamla)

Indonesia memperketat pengamanan di perairan Natuna setelah masuknya kapal-kapal nelayan dan patroli penjaga pantai China ke wilayah tersebut. Benarkah kapal-kapal nelayan China itu sebenarnya berperan sebagai kapal militer?

antvklik.com - Tensi hubungan China dengan Indonesia meningkat setelah masuknya kapal-kapal nelayan China ke perairan Natuna. Bahkan kapal-kapal itu juga dikawal oleh kapal patroli penjaga pantai China.

Beijing menganggap, keberadaan kapal-kapal mereka di wilayah tersebut tidak menyalahi aturan karena masih masuk dalam garis putus-putus wilayah China.

Padahal kapal-kapal China itu sudah masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

TNI pun bertindak tegas. Sejumlah kapal perang dan pesawat tempur dikerahkan ke wilayah tersebut guna meningkatkan pengamanan. Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri berdatangan ke Natuna guna menunjukkan kedaulatan negara.

Presiden Jokowi ke Natuna (Foto: Reuters)

Namun, benarkah kapal-kapal nelayan China itu benar-benar mencari ikan di Natuna?

Seperti dilansir BBC Indonesia, pengerahan nelayan oleh militer China bukanlah hal baru. Apalagi negara tersebut memiliki armada perikanan yang begitu besar. Armada perikanan China juga berbeda dengan negara-negara lain. Disebutkan, sebagian nelayan sendiri adalah bagian dari militer.

Milisi Maritim China

Milisi Maritim China adalah bagian dari milisi nasional yang merupakan pasukan sipil cadangan. Organisasi ini unik namun diketahui oleh militer Amerika Serikat, menurut Profesor Andrew S Erickson.

Menurut laporan Kementerian Pertahanan AS pada 2017, organisasi ini memainkan peran penting dalam sejumlah operasi militer selama bertahun-tahun.

Sebelumnya, organisasi ini menyewa kapal dari perusahaan-perusahaan atau nelayan. Kementerian Pertahanan mengatakan tampaknya China membangun armada resmi untuk pasukan milisi.

Sementara pakar dan konsultan regional Alexander Neill mengatakan, banyak kapal yang berkeliaran seperti kapal ikan dan mereka sebenarnya melakukan mata-mata Angkatan Laut dan mata-mata terhadap saingan-saingan China.

"Di atas kertas mereka tampak canggih dengan kapal pukat. Namun armada ini sebenarnya adalah kapal dengan jenis militer dengan tonase tinggi. Bila Anda lihat foto-fotonya, jelas bahwa armada ini satu jaringan dengan kemampuan sinyal melalui komando (Angkatan Laut) dan kontrol jaringan," kata Neill.

Pada dasarnya armada perikanan ini dapat memberikan pertahanan atau pengintaian awal - pasukan militer yang bekerja dengan kedok sipil.

"Armada perikanan China dijadikan milisi. Saya rasa - melalui informasi yang saya gali sedikit - mereka ini (para nelayan Jiangsu) mungkin juga menjadi bagian dari itu," tambahnya.

Alat Mata-mata Bawah Laut

Militer China telah mengerahkan para nelayan untuk menemukan alat mata-mata bawah laut. Sejumlah nelayan di Jiangsu banyak menemukan alat mata-mata buatan negara lain yang tersangkut jaring.

Namun ternyata, China tidak hanya menemukan alat mata-mata bawah laut, namun juga mengoperasikannya.

Dalam parade militer memperingati 70 tahun negara China, alat HSU001 dipamerkan, kemungkinan dengan kemampuan untuk meluncurkan drone yang lebih kecil.

Wahana tak berawak bawah laut HSU-001 yang mirip rudal (Foto: Tangkap layar CCTV4)

Dan lima bulan sebelumnya, alat lain milik China terungkap setelah para nelayan di seputar Riau menemukan benda mirip rudal dengan huruf China.

"Itu bukan misil, tapi alat bawah laut, yang biasanya digunakan untuk penelitian bawah laut," kata polisi di Riau pada Maret 2019.

Walaupun asalnya belum dipastikan, para pakar mencurigai alat itu adalah bagian dari pengintaian yang dilakukan China, atau yang disebut "Great Underwater Wall of China" atau "Tembok Besar Bawah Laut China."

Jadi, di tengah berkembangnya teknologi alat bawah laut tak berawak atau UUV ini, akan lebih banyak nelayan, apakah itu di China, Indonesia atau tempat lain, yang diperkirakan akan menemukan alat-alat bawah laut ini.

"Drone ini diperluas jangkauannya untuk semua Angkatan Laut modern di kawasan," kata Neill.

BBC Indonesia


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments