youtube channel

Channels

Kisah Dokter Stefanus Taofik yang Meninggal Saat Piket Lebaran

Kisah Dokter Stefanus Taofik yang Meninggal Saat Piket Lebaran

Kisah Dokter Stefanus Taofik yang Meninggal Saat Piket Lebaran

antvklik.com - - Dunia kedokteran Indonesia kembali berduka, dokter Stefanus Taofik meninggal dunia saat tengah bertugas. Kepergian sang dokter yang mendadak ini lantas menjadi viral di sosial media dan menghebohkan warganet.

Meninggalnya sang dokter ganteng ini pertama kali diunggah melalui laman twitter @blogdokter pada 27 Juni 2017 sekitar pukul 22.38 WIB.

Kisah Dokter Stefanus Taofik yang Meninggal Saat Piket Lebaran source : twitter.com/@blogdokter

Dalam akun tersebut dituliskan “seorang dokter spesialis anestesi hrs meregang nyawa karena jaga 4 hari berturut2 di 3 RS unt memberi kesempatan seniornya berlebaran #RIP”. Hanya membutuhkan waktu singkat tweet tersebut mendapatkan respon berbela sungkawan dengan meninggalnya sang dokter.

Namun, keesokan harinya pemilik akun twitter @blogdokter kembali memposting sebuah foto yang berisikan klarifikasi Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi Dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) terkait meninggal dunianya dokter Stefanus Taofik, SpAnn

Di surat resmi tersebut dituliskan bahwa dokter Stefanus adalah peserta Pendidikan Fellowship Konsultan Intensive Care (KIC). Saat meninggal dunia, almarhum sedang melakukan pekerjaan sebagai dokter anestesi di RS Pondok Indah, Bintaro Jaya, bukan dalam tugasnya sebagai peserta didik.

Pada saat ditemukan tidak berdaya, almarhum sedang bertugas jaga 24 jam, namun dengan kondisi satu pasien di ICU dan telah pindah ke ruangan serta hanya satu pasien di kamar operasi. Almarhum meminta pertukaran hari juga dengan rekannya sehingga memungkinkan almarhum untuk jaga 2x24 jam dan libur setelahnya.

Dokter Stefanus tidak hanya bertugas di RS Pondok Indah, almarhum juga bertugas sebagai Fellow KIC di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan dokter jaga di RS Jantung Diagram, Cinere.

Faktor Lain Meninggalnya Sang Dokter

Soal bekerja nonstop tanpa ada dokter lain yang menggantikan, yang diduga memicu kelelahan dan berujung meninggalnya dokter Stefanus di ruang jaga. Dikutip laman VIVA.co.id Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dr. Kuntojoro Adi Purjanto, M.Kes membantahnya. Ia menyebutkan bahwa kematian almarhum bukan disebabkan kelelahan akibat beban kerja atau overworked.

Kisah Dokter Stefanus Taofik yang Meninggal Saat Piket Lebaransource : facebook.com

Ia juga meluruskan kabar kelelahan kerja dokter Stefanus akibat memberikan kesempatan seniornya untuk berlebaran. “Saat beliau bertugas, pihak RS juga menugaskan dua dokter anestesi purnawaktu yang siap jika diperlukan” ujarnya

Sementara dugaan lain meninggalnya dokter Stefanus karena penyanyit brugada syndrome yang dideritanya. Brugada syndrome adalah penyakit kelainan genetik pada pembuluh darah di koroner yang sering menyerang saat tidur hingga menyebabkan kematian.

Sosok yang Sayang Keluarga

Kisah Dokter Stefanus Taofik yang Meninggal Saat Piket Lebaran source : facebook.com

Lewat laman facebooknya terlihat sosok dokter Stefanus merupakan seorang ayah yang sangat menyangi keluarganya. Banyak foto-fotonya bersama anak balita laki-laki yang bernama Noe dan istrinya menghiasi galeri media sosialnya.

Di akun facebooknya tersebut dokter Stefanus juga mengunggah sebuah tulisan pada 7 Juni 2017 silam. Postingan tersebut di awali dengan menuliskan sebuah nukilan puisi berjudul To My Son karya penginjil Larry Howland

Kisah Dokter Stefanus Taofik yang Meninggal Saat Piket Lebaransource : facebook.com

“To my son

I sometimes wish you were still small. Not yet so big and strong and tall. For when i think of yesterday. I close my eyes and see you play
We watch our children change and grow as seasons come then quickly go. But our God has a perfect plan to shaoe a boy into a man
Today my son i am proud of you for all the thoughtful things you do. I will love you till my days are done. And i am so grateful you are my son”

Di bawah puisi tersebut dokter Stefanus juga mengenang kehidupan sang putra, Noe yang kini hampir berusia 2 tahun. Ia juga bercerita bagaimana Noe lahir premature pada usia 32 minggu dengan bobot hanya 1,84 kg.

Tak lupa di bagian akhir, dokter Stefanus menuliskan harapan bagi sang buah hati

“Be strong smart and always happy my lovely son Manuel Dirk Abdullah Taofik (Jadilah anak yang kuat, cerdas, dan selalu bahagia, anakku sayang Manuel Dirk Abdullah Taofik,” tulis dokter Stefanus.


icon featured

Popular

icon featured

Related Article

icon featured

Comments