NOC Indonesia Pelajari Sistem Olahraga Dunia dari Pengalaman Olimpiade Tokyo

Raja Sapta Olimpiade Tokyo menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia
Raja Sapta Olimpiade Tokyo menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia (Foto : )
NOC Indonesia pelajari Sistem Olahraga Dunia dari Pengalaman Olimpiade Tokyo. Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari mengaku NOC Indonesia belajar banyak pengalaman Olimpiade Tokyo 2020. Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) menimba banyak pelajaran berharga di Olimpiade 2020 Tokyo. Selain mengamati konsep penyelenggaraan di masa pandemi Covid-19, lembaga non-pemerintah (NGO) pimpinan Raja Sapta Oktohari ini juga mengamati sistem pembinaan olahraga seluruh NOC di dunia.Okto, sapaan Raja Sapta, mengatakan Olimpiade Tokyo menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Sebab, multi event olahraga empat tahunan paling prestisius se-dunia ini telah mengajarkan pembinaan atlet secara sistimatis yang menghasilkan legacy.“Penyelenggaraan multi event, tak cuma Olimpiade, itu kan menghasilkan legacy, di mana legacy. Tapi, legacy itu dibangun dari sistem. Jadi NOC Indonesia saat ini berusaha membangun sistem yang kelak dapat menjadi acuan untuk kedepannya,” kata Okto.Okto yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Konfederasi Balap Sepeda Asia (ACC) ini menerangkan, NOC Indonesia langsung memelajari dengan seksama segala komponen dalam penyelenggaraan Olimpiade. Baik sistem olahraga, pembinaan atlet, pelatih, wasit, penyelenggara event, hingga venue.“Jadi apabila sewaktu-waktu Indonesia menjadi penyelenggara multi event internasional, kita sudah siap,” kata Okto.“Terlebih, Kemenpora sudah memiliki cetak biru yang menetapkan Olimpiade menjadi tujuan akhir pembinaan prestasi. Jadi di sini, kami juga melihat bagaimana pembinaan prestasi negara-negara yang datang dengan Kontingen Besar,”Jika sistem telah terbentuk, Okto yakin, partisipasi atlet Indonesia pada setiap penyelenggaraan Olimpiade ke depan akan bertambah. Kondisi ini juga akan diikuti oleh peningkatan prestasi olahraga Indonesia di kancah dunia.“Sebab, menang atau kalah itu hal biasa dalam pertandingan. Namun, bagaimana tingkat partisipasi atlet itu menjadi bagian paling penting di Olimpaide sebagaimana yang disampikan Pierre de Coubertin. Semua ini harus dimatangkan sebab sudah ada cabor yang menggelar kualifikasi di akhir 2021” kata Okto. Pembinaan Secara Sistimatis Menjadi Dasar Prestasi di Olimpiade Okto menjelaskan, Indonesia juga perlu mempelajari program pembinaan yang dilakukan beberapa negara lain. Seperti China yang merencanakan peak performance para atletnya saat tampil di Olimpiade. Mereka sudah tidak melihat sasaran kecil lagi tetapi sasaran yang besarnya," katanya."Masalah ini yang sebetulnya perlu kita diskusikan lebih tajam lagi dengan cabang-cabang olahraga. Jangan sampai kita puas dengan prestasi pada event kategori kecil saja. Kedepan, kita harus bisa melahirkan atlet yang mampu berprestasi di Olimpiade," tambahnya.Khusus, Okto juga memberikan apresiasi terhadap cabang olahraga bulutangkis, angkat besi, dan juga panahan yang sangat konsisten mengirimkan atletnya ke Olimpiade. NOC Indonesia mengharapkan peran federasi olahraga nasional (PP/PB)  yang memiliki potensi untuk lebih berkerja keras agar banyak meloloskan atlet di  Olimpiade 2024 Paris."NOC Indonesia memberikan apresiasi kepada badminton dan angkat besi termasuk juga panahan yang sangat konsisten mengirimkan atletnya ke Olimpiade. Masalah hasil, tentu semua atlet ingin menjadi yang terbaik. Tugas NOC Indonesia itu memberikan support dan  supervisi kepada cabang olahraga dalam menjalankan program pembinaan dan pemerintah Indonesia tentunya memberikan dukungan," kata Okto.